Beranda Bisnis Soal Iklan Galon Air Minum Klaim Bebas BPA, Pakar: Bisa Dianggap Pengakuan Produk Lama Tidak Aman

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Iklan terbaru Aqua yang menyatakan bahwa produk mereka kini menggunakan galon baru “100% aman BPA” memunculkan pertanyaan tentang produk yang selama ini dikonsumsi jutaan keluarga Indonesia. Klaim dalam iklan tersebut secara tidak langsung mengakui bahwa selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia telah mengonsumsi air dari galon lama Aqua yang mengandung BPA dan berpotensi berbahaya bagi esehatan.
“Kalau dari sisi komunikasi, ini bisa dibilang Aqua secara tidak langsung mengakui selama ini produknya tidak aman, galonnya mengandung BPA,” kata Algooth Putranto, Koordinator Riset Satgas Anti Hoaks PWI Pusat dan Dosen Komunikasi Universitas Dian Nusantara di Jakarta, Kamis (24/7).
Sayangnya, menurut Algooth, peluncuran galon baru tersebut tidak diiringi dengan penghentian distribusi galon lama. Hasilnya, Aqua saat ini mengedarkan dua jenis galon secara bersamaan di pasaran. Galon lama mengandung BPA (Bisphenol A), senyawa kimia buatan yang disebut oleh ratusan riset ilmiah berpotensi memicu sejumlah risiko kesehatan. Lalu, ada galon baru yang bebas BPA.
“Secara etika, kejujuran telah dilanggar. Mereka selama ini tidak mau mengakui bahaya BPA dan selalu berkilah BPA belum terbukti berbahaya. Tapi, pada akhirnya mereka mengeluarkan produk bebas BPA,” jelas Algooth.
Empat Dekade Menentang Peringatan
Berdasarkan penelusuran Algooth, Aqua telah menggunakan galon plastik keras yang mengandung BPA selama lebih dari 47 tahun. Peringatan bahaya BPA padahal bukanlah isu baru. Berbagai lembaga perlindungan konsumen dan bahkan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) telah menyuarakan kekhawatiran terkait BPA pada galon guna ulang sejak 2021. Di tingkat internasional, BPA bahkan sudah menjadi perhatian serius sejak 2008. Uni Eropa, Kanada, Cina, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat telah memperketat penggunaan atau bahkan melarang BPA dalam kemasan makanan dan minuman.
Algooth mengatakan kasus Aqua dengan BPA ini bisa menjadi pelajaran penting.
“Komunikasi korporasi itu tidak boleh bohong. Kalau memang kemasan polikarbonat di Eropa sudah dianggap ‘lampu merah’, harusnya mereka sejak awal bicara jujur ke publik,” ujar Algooth.
Akibat ketidakjujuran ini, Algooth menilai langkah Aqua memasarkan galon baru bebas BPA akan dilihat publik bukan sebagai inovasi, tapi bentuk keterpaksaan sekaligus pengakuan bahwa kekhawatiran terhadap bahaya BPA selama ini bukanlah isapan jempol. “Dalam era transparansi, kejujuran bukan lagi pilihan, tapi kewajiban,” tutupnya.
Dua Galon, Dua Standar Keamanan?
Menurut Algooth, fenomena penjualan dua jenis galon berbeda ini menimbulkan pertanyaan mendasar terkait standar keamanan: jika galon baru dianggap lebih aman karena bebas BPA, mengapa galon lama yang berpotensi berbahaya masih terus didistribusikan?.
“Ini standar ganda,” tegas Algooth.
“Di satu sisi mereka mengklaim 100% aman BPA, namun di sisi lain gagal menunjukkan keberanian untuk melindungi konsumen secara maksimal dari BPA sesuai dengan standar keamanan pangan internasional,” imbuhnya.
Ia juga menyebut kondisi ini sebagai bentuk corporate double speak. Danone sebagai pemilik merek Aqua berkomunikasi dalam dua arah berlawanan: menentang isu bahaya BPA secara terbuka tapi diam-diam merilis produk bebas BPA demi menyelamatkan pasar.
“Pasar kelas menengah mulai sadar kesehatan, dan Aqua akhirnya terpaksa nyemplung ke lini produksi baru yang tidak murah. Ini membuktikan bahwa mereka tahu produk lama mulai ditinggalkan,” katanya. (*)