
Oleh: Dahlan Iskan
Acara saya di Solo dibatalkan. Pesanan kamar hotel saya pun di-cancel. Tapi saya tetap ke Solo, kemarin. Lantaran awalnya harus hadir di acara itu saya pun bikin janji lain: bertemu orang Jakarta di Solo. Ia sudah telanjur terbang ke Solo. Meski acara utama batal saya tidak bisa membatalkan janji dengannya.
Maka seusai acara pemberangkatan 250 calon mahasiswa penerima beasiswa ke Tiongkok, saya meninggalkan Surabaya. Sepanjang perjalanan ke Solo saya dengarkan radio: apakah demo besar sepanjang hari Jumat masih berlanjut ke hari Sabtu.
Kekhawatiran demo membesar memang ada. Karena itu acara di Solo dibatalkan. Ternyata Solo tenang. Begitu tiba di Solo saya diajak makan siang yang sangat telat: sate dan tongseng kambing Pak Dahlan. Diiringi lagu-lagu Koes Ploes masa lalu oleh pengamen tetap di situ.
Ternyata sate kambing ini dekat sekali dengan rumah Presiden Jokowi. Hanya sekitar 100 meter. Di depan sate itu ada pertigaan kecil. Belok kiri ke jalan kecil itulah rumah Pak Jokowi.
“Kita lewat jalan itu,” pinta saya.
Mobil pun belok kiri. Tidak ada penjagaan apa pun di jalan sempit itu –pertanda keadaan aman. Pintu pagar kayu rumah Pak Jokowi selalu tertutup. Terlihat lima orang berjalan kaki di depan rumah itu: kelihatannya sengaja ingin tahu rumah Pak Jokowi.
Lantaran acara utama batal kami pun pilih keliling Solo. Rapat dengan orang Jakarta sambil jalan-jalan. Seluruh kota Solo normal. Jalan utama Slamet Riyadi sibuk seperti biasa.
Lalu kami ke arah Manahan. Ke arah bandara. Tiba di depan gedung DPRD kota, terlihat banyak orang di pinggir jalan. Bukan pendemo. Mereka seperti ingin melihat apakah akan ada demo lagi di DPRD itu –seperti sehari sebelumnya.
Di gerbang DPRD terbaca coretan besar. Rasanya baru dicoretkan oleh pendemo hari Jumat. Bunyinya: DPR Butet! –kata ”Butet” saya pakai untuk mengganti bunyi aslinya yang tidak pantas saya tulis di sini.
Kami terus mengobrolkan dengan si Jakarta. Mobil terus ke arah utara. Tidak jauh dari gedung DPRD itu –sama-sama di kiri jalan– adalah tanah seluas 12.000 m2 milik Pak Jokowi pemberian negara sebagai Presiden Indonesia dua periode.
Tanah itu dipagari rapat di arah depannya. Ada pos proyek di pintu masuknya. Proyeknya belum kelihatan dibangun tapi seperti sudah akan dimulai. Di situlah rencannya kediaman baru Pak Jokowi nanti.
Dua jam keliling kota Solo ”rapat” kami pun hampir selesai. Saya mampir resto Diamond. Tidak untuk makan. Sate dan tongseng di perut masih belum tercerna semua. Di situ kami melanjutkan ”rapat”. Sambil mengenang istri –suka tidur di hotel Diamond setiap kali ke Solo. Inilah hotel, resto, dan gedung pertemuan di Jalan Slamet Riyadi milik pribadi bos Sritex yang terkenal itu.
Rapat selesai. Kamar hotel sudah dibatalkan. Saya pun memutuskan balik ke Surabaya. Besok saya harus ke Jakarta. Lusa ke Medan.
Demo kelihatannya reda di hari Sabtu kemarin. Setidaknya lebih kecil dibanding sehari sebelumnya. Tapi bukan berarti rakyat sudah bisa menerima keadaan. Mereka sangat marah kepada wakil-wakil mereka di DPR –terkesan bergelimang uang di saat ekonomi sulit dan negara sedang kesulitan anggaran.
Demo itu memang sempat berbelok ke sasaran polisi –akibat Affan, pengendara ojek online, tewas tergilas mobil polisi di area demo. Affan bukan pendemo. Ia lagi mengantar makanan pesanan lewat aplikasinya.
Sepanjang hari kemarin tidak terbaca ada demo dengan sasaran polisi. Pendemo kembali ke sasaran wakil mereka –kali ini sasaran perseorangan. Mereka langsung mendemo rumah pribadi anggota DPR dari Nasdem. Ahmad Sahroni. Pintu rumah di Priok itu dijebol. Mobil Lexus dirusak. Rumah dua lantai itu dijarah.
Rasanya baru sekali ini terjadi: demo besar masa menyasar rumah pribadi politisi. Ini hanya bisa terjadi di zaman medsos seperti sekarang ini.
Masyarakat memang sudah memerlukan reformasi lagi. Yang lebih mendasar. Yakni reformasi sejati sebagai yang sebenarnya diinginkan di reformasi tempo hari –tapi keburu melenceng lagi.
Tentu tidak ada yang ingin reformasi lewat kerusuhan lagi. Tapi itu hanya terkabul mana kala beberapa lembaga tahu diri: langsung mereformasi diri sendiri tahun ini. (Dahlan Iskan)