Rahmanullah Lakanwal

54 minutes ago 1

Oleh: Dahlan Iskan

Mengapa detail tentang Rahmanullah Lakanwal belum juga diumumkan? Padahal sudah empat hari Rahmanullah melakukan penembakan dua tentara yang lagi patroli di Washington DC. Patroli itu dilakukan di dekat stasiun kereta bawah tanah Farragut West. Di Washington DC kereta bawah tanahnya disebut Metro.

Stasiun itu sangat dekat dengan Gedung Putih. Kalau jalan kaki hanya enam menit. Di stasiun kereta bawah tanah biasanya sering terjadi tindak kriminalitas. Maka tentara pusat dikerahkan untuk memberantas kriminalitas di ibu kota. Presiden Donald Trump sangat jengkel dengan banyaknya kriminalitas di DC. Ia juga jengkel karena DC tidak lagi bersih dan rapi. Lebih jengkel lagi karena wali kota DC selalu saja dari Partai Demokrat.

Anda sudah tahu: undang-undang di Amerika melarang penggunaan tentara untuk tugas seperti itu. Itu tugasnya polisi. Di Amerika polisi di bawah perintah wali kota. Pengerahan tentara federal itu dinilai menghilangkan wewenang daerah. Trump tidak peduli. Ia menggunakan ”pasal” darurat.

Trump pun digugat. Pengadilan sudah memutuskan agar Trump menarik kembali tentara dari DC. Pengadilan memberi waktu satu bulan.

Kelihatannya Trump akan mencari cara menghindari putusan pengadilan itu. Bahkan ia akan mengirim tentara ke kota-kota lain yang dianggap tinggi kriminalitasnya. Misalnya New York, Chicago, Los Angeles. Kota-kota itu dipimpin wali kota Demokrat.

Pun setelah Rahmanullah menembak dua tentara federal. Trump justru menambah pasukan ke DC –di tengah putusan pengadilan yang sudah melarangnya.

Belum diungkapkannya detail mengenai Rahmanullah kabarnya karena tersangka penembakan itu ”tidak kooperatif”. Penyelidik masih terus menggalinya. Karena itu detail tentang Rahmanullah masih dirahasiakan. Misalnya soal mobil apa yang dipakainya ke DC. Dengan siapa ia bermobil. Mampir mana saja.  Ketemu siapa saja.

Jarak dari rumahnya ke DC ibarat perjalanan lintas benua Amerika. Rumahnya di Bellingham, di pantai barat Amerika. Di negara bagian Washington. Hanya 50 km dari Vancouver, Kanada.

Dari kota berpenduduk 100 ribu orang itu ia mengendarai mobil menuju timur. Saya pernah mengendarai mobil dari Seattle (dekat Bellingham) menuju DC. Setiap hari mengemudi tujuh atau sembilan jam. Perlu waktu lima hari.

Kendaraan Rahmanullah sudah ditemukan di satu tempat di DC. Tapi belum diungkap jenisnya. Dari tempat ia parkir itu ia berjalan mendatangi tentara yang sedang patroli. Mendekati mereka. Lalu dor! Dor! Dua orang tersungkur. Terkena peluru di kepala dan dada.

Salah satu yang tidak kena tembak menyergap Rahmanullah. Senjatanya dirampas: revolver kaliber .357 Magnum Smith & Wesson.

Nama pahlawan penyergap itu juga belum diumumkan. Aksinya telah menyelamatkan tentara lainnya dari aksi perorangan Rahmanullah. Dua korban dibawa ke rumah sakit. Sarah Beckstrom (gadis 20 tahun) akhirnya meninggal dunia. Andrew Wolfe (24 tahun) masih kritis. Salah satu media di Amerika menyebut Sarah baru sehari bertugas sebagai tentara.

Belum diungkap juga, sudah berapa hari Rahmanullah berada di DC. Apakah baru hari itu tiba. Kalau sudah beberapa hari di mana ia tinggal selama di DC.

Keesokan harinya, tepat di hari Thanksgiving, rumah Rahmanullah di Bellingham didatangi FBI. Rahmanullah tinggal di sebuah rumah apartemen kelas murah:  sewanya USD2.000 sebulan.

Rahmanullah sudah empat tahun di situ. Bersama istrinya yang berjilbab dan lima orang anaknya –yang tertua umur 14 tahun.

Di hari Thanksgiving itu pintu apartemen Rahmanullah digedor keras: ”kami FBI,” kata yang menggedor. Lalu melakukan penggeledahan. Istri Rahmanullah dibawa FBI –tapi anak-anaknya tidak diikutkan.

Para tetangga, menurut media di Bellingham, mengenal Rahmanullah sebagai orang yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah komplain, tidak pernah bicara. Penduduk Bellingham umumnya liberal, tidak peduli orang lain, terbuka kepada siapa saja.

Karena itu banyak imigran datang ke Bellingham atau negara bagiannya, Washington.

Tapi orang Afghanistan terbanyak tinggal di California. Yang kedua tinggal di Texas. Barulah di Washington.

Di negara-negara bagian itu memang ada organisasi pertolongan untuk pengungsi.

Kedatangan orang Afghanistan terbanyak terjadi tahun 2021 –setelah Amerika menyerah di perang Afghanistan. Sebanyak 60.000 sampai 85.000 pengungsi datang ke Amerika.

Itu mirip dengan kedatangan pengungsi dari Vietnam di tahun 1975. Yakni ketika Amerika kalah perang di Vietnam. Mereka yang selama ini membantu Amerika takut hidup di negaranya. Takut dianggap pengkhianat negara.

Terbanyak mereka tinggal di California. Sampai ada kota disebut ”Little Saigon”. Ada lagi ”Kampung Vietnam”. Sejak itu masakan Vietnam sangat populer di Amerika.

Nasib pengungsi Afghanistan rasanya tidak akan sebaik pengungsi Vietnam. Gara-gara Trump. Ia bertekad tidak akan mengabulkan permintaan visa orang Afghanistan. Rahmanullah sendiri, dulu agen CIA, masih warga negara Afghanistan. Padahal sudah empat tahun di Amerika. Ia juga takut pulang ke Afghanistan. (Dahlan Iskan)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |