Memetik Hikmah dari Habib Ali Diba

1 day ago 12

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pada Rabu, 3 Syawal 1446 Hijriah, tepatnya 2 April 2025, warga Bekasi yang mengenal dan dekat dengan sosok ulama kharismatik Habib Ali bin Soleh Al Athas pasti merasakan duka yang mendalam sebab ulama panutannya telah tutup usia.

Begitu juga keluarga yang ditinggalkan, seperti anak, cucu, saudara, atau sanak famili, pasti merasakan kehilangan yang sangat dalam.

Mungkin, bagi anak-anak muda yang saat ini berusia remaja atau lahir pada tahun 2000-an, mereka tidak begitu mengenal lebih dekat atau hanya sekedar mengenal nama populer “Habib Ali Diba”. Namun, tidak bagi sebagian orang yang sudah memasuki usia 40-an.

Radar Bekasi berkesempatan mendengar pesan dari Habib Muhammad bin Alwi Al Haddad, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ilmi Waddawah Dilwa, Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Dalam pesannya, Habib Muhammad mengajak umat untuk mengambil hikmah dari wafatnya seorang ulama.

Dalam pesannya, Habib Muhammad mengajak umat untuk mengambil hikmah dari wafatnya seorang ulama.

Sebagai ulama yang dikenal luas oleh masyarakat dalam maupun luar Bekasi, Habib Ali tidak membedakan strata sosial. Baik kalangan ulama tua maupun muda, pejabat pemerintah, maupun masyarakat biasa, semuanya datang ke kediaman beliau di Jalan Kartini, Bekasi Timur, untuk takziah dan berdoa.

Lahir, besar, dan wafat di Bekasi Kidul, Habib Ali dikenal sebagai sosok yang sederhana, moderat dalam beragama, membaur dalam kehidupan sosial, serta menghargai dan mendukung generasi muda.

Hal ini, menurut Habib Muhammad, menjadi alasan utama mengapa banyak orang mencintai almarhum. Oleh karena itu, momentum untuk bersilaturahmi dan berdoa untuk mengharap berkah di kediamannya saat beliau wafat menjadi penting bagi umat.

Selama aktif berdakwah, Habib Ali sering mengisi kegiatan islami seperti tabligh akbar dan majelis taklim di berbagai tempat, bahkan lintas kota dan provinsi. Dakwah beliau disampaikan dengan bahasa yang kental dengan logat Betawi Bekasi, tanpa beban, sehingga mudah dipahami oleh para jemaah.

Penampilannya yang sederhana, hanya mengenakan baju koko, kain sarung, dan sorban, menjadi ciri khas beliau. Terkadang, beliau mengenakan kopiah hitam untuk lebih mudah berbaur dengan semua kalangan.

Dalam berinteraksi dengan masyarakat dan jamaah, Habib Ali selalu memberi contoh budi pekerti yang baik. Ia berusaha menarik umat untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya lebih dalam dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Habib Muhammad, akhlak yang baik dan penyampaian ceramah yang ringan dan aplikatif adalah salah satu ciri khas dari dakwah Habib Ali.

“Sehingga tidak sedikit orang yang jauh dari majelis ilmu menjadi tertarik mendekat ke jalan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan gaya dakhwah beliau,” ucap Habib Muhammad memetik hikmah dari Habib Ali Diba.

Suara Emas

Selain budi pekerti yang beliau tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, Habib Ali juga sangat terkenal dengan lantunan Maulid Ad Daiba’iy.

Suara emas beliau dalam membacakan maulid ini mampu menyentuh hati para pendengarnya, baik secara langsung maupun melalui rekaman kaset.

Habib Muhammad mengungkapkan bahwa mendengar lantunan maulid dari Habib Ali memberikan ketenangan di hati dan pikiran.

Contohnya apa yang dirasakan Habib Muhammad ketika Habib Ali membacakan untqian dan syair maulid Ad Daiba’iy.

”Indah di dengar oleh telinga, sejuk di dalam hati, dan tenang dalam pikiran atau akal. Itu yang saya rasakan ketika mendengar lantunan beliau,” ucapnya menyampaikan apa yang dirasakan ketika mendengar lantunan maulid ketika oleh Habib Ali Diba.

Di Bekasi, sejak ayahnya, Habib Soleh bin Abdullah Al Athas, wafat pada tahun 1975, Habib Ali mulai fokus meneruskan perjuangan sang ayah yang sebelumnya dirintis oleh kakeknya, Habib Muhammad bin Muhsin Al Athas.

Salah satunya adalah memperkenalkan Nabi Muhammad SAW melalui lantunan Maulid karya Asy Syaikh Al Hafidz Abdurrahman bin Ali Ad Daiba’iy. Karya fenomenal ini berisi riwayat sifat, kemuliaan, dan akhlak Nabi Muhammad SAW.

Dengan nada irama yang khas karya beliau sendiri dan belum pernah dilantunkan oleh siapapun, Habib Ali menyajikan maulid ini dengan irama khas yang belum pernah dilantunkan oleh orang lain.

Hal ini membuat siapa saja yang mendengarnya terbawa suasana dan dapat merasakan kedekatannya dengan Nabi Muhammad SAW.

“Pada tahun 1993-an pernah masuk rekaman. Sehingga membuat kalangan tua muda kala itu gemar dan senang dengan maulid dan menjadikan Habib Ali ‘Idola’. bahkan tidak sedikit umat Islam yang menghafalnya,” tuturnya.

Pelajaran dari Habib Ali Diba

Bagi keluarga, khususnya Habib Muhammad, banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari kehidupan almarhum, terutama dalam hal bertutur kata, beretika, dan berinteraksi dalam kehidupan sosial.

“Khususnya dalam kehidupan sosial bermasyarakat, bertutur kata, beretika, dan lain sebagainya yang tidak bisa diwakilkan secara singkat lewat kata kata,” jelasnya.

Habib Muhammad juga mengajak umat untuk meneladani perjuangan Habib Ali, khususnya dalam dakwah, agar kita selalu mencintai dan memprioritaskan urusan yang diridhoi oleh Allah dan Rasulullah.

Sejak wafatnya Habib Ali Diba pada 3 Syawal 1446 Hijriah, sebuah fenomena muncul. Tidak ada pembeda antara tua, muda, ulama, pejabat, maupun masyarakat biasa; semua hadir tanpa undangan di kediaman almarhum untuk memberikan penghormatan terakhir.

Pada keesokan harinya, Kamis (3/4), ribuan orang telah berkumpul sejak pagi untuk mengikuti salat jenazah berjamaah yang telah dijadwalkan keluarga pukul 10.00 di Masjid Al Akhyar, Jalan Kartini, Margahayu.

Fenomena ini menunjukkan betapa besar kecintaan umat kepada Habib Ali. Habib Muhammad menyampaikan bahwa Habib Ali adalah sosok yang -in shaa Allah- ikhlas dalam berbuat, terutama dalam dakwah.

Kecintaan beliau kepada Allah dan Rasulullah membuat banyak orang mencintainya karena Allah dan Rasulullah. Oleh karena itu, banyak orang yang tulus dan rela hadir tanpa undangan, bahkan tanpa imbalan, untuk mengantar Habib Ali ke peristirahatan terakhir.

“Semoga Allah menghadirkan kembali sosok-sosok inspiratif pengganti beliau dari kalangan generasi muda di masa mendatang, amiiin,” harap Habib Muhammad sambil mengakhiri dengan ayat

‎ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Yang demikian itu adalah merupakan anugerah dari Allah, Dia memberikannya kepada siapapun yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki anugerah yang agung, (Surat Al Jumu’ah ayat 4),”(and)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |