Beranda Metropolis Yarkasih Mengandalkan Rumah Panggung Hadapi Luapan Kali Bekasi
RUMAH PANGGUNG: Yarkasih (55) berada di rumah panggung sederhana yang dibangunnya di tepi Kali Bekasi, Gang Mawar, Jalan RA Kartini, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Jumat (23/1). Rumah panggung tersebut digunakan sebagai tempat berlindung saat banjir meluap dan merendam permukiman di sekitarnya. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Yarkasih (55), warga Gang Mawar, Jalan RA Kartini, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, menjadi satu-satunya warga yang tidak merasa kelimpungan saat kotanya tengah dilanda banjir. Meskipun ia tinggal di bantaran Kali Bekasi.
Di saat lingkungannya mulai terendam banjir pada Kamis (22/1) kemarin, akibat luapan air Kali Bekasi, Yarkasih justru tampak santai.
“Sekitar jam enam pagi air mulai masuk. Paginya sempat setinggi sepinggang,” ujar Yarkasih sambil menunjuk bekas air di dinding rumahnya saat ditemui, Jumat (23/1) kemarin.
“Setengah empat subuh tadi kita sudah antisipasi. Barang-barang langsung dikemas, dinaikkan ke atas. Anak-anak saya bangunkan semua,” ucapnya.
Rumah Yarkasih berada di ujung permukiman yang menjadi jalur limpasan air kiriman dari wilayah hulu seperti Bogor dan Jonggol. Kondisi tersebut menjadikan rumahnya termasuk yang paling cepat terdampak saat debit Kali Bekasi meningkat.
“Air pembuangan dari mana-mana larinya ke sini. Kalau hujan besar, tidur sudah nggak pernah nyenyak,” tutur dia.
Jejak trauma banjir besar masih terlihat jelas. Di dinding rumahnyaya terdapat garis penanda ketinggian air pada kejadian banjir sebelumnya. Pada awal 2025, air hampir mencapai lima meter. Sementara pada banjir besar Januari 2020, ketinggian air mencapai sekitar empat meter.
“Larinya ke atap rumah, ke genteng tetangga,” kenangnya.
Belajar dari pengalaman tersebut, Yarkasih membangun sebuah rumah panggung di lahan yang bersebelahan dengan rumah utamanya sejak tahun lalu. Bangunan sederhana itu difungsikan sebagai tempat penyelamatan terakhir saat banjir besar datang.
“Awalnya kecil, sederhana, kayak musala. Pokoknya buat antisipasi. Kalau air tinggi banget, kita lari ke sini,” ucap dia.
Rumah panggung tersebut terbuat dari kayu dan dilengkapi atap. Bangunan itu mampu menampung sekitar 10 orang dewasa. Untuk menunjang kenyamanan, Yarkasih memasang kipas angin agar keluarganya bisa beristirahat lebih tenang saat berada di atas.
Keinginan untuk pindah dari kawasan rawan banjir sebenarnya besar. Namun keterbatasan ekonomi membuat rencana tersebut belum bisa terwujud. Yarkasih memiliki lima orang anak, seluruhnya laki-laki. Anak tertua berusia 31 tahun, sementara anak bungsunya masih duduk di kelas dua sekolah dasar.
“Sangat ingin pindah, cuma risikonya besar. Biaya ini-itu. Anak saya lima, semua cowok. Masih butuh biaya sekolah,” katanya lirih.
Meski demikian, ia memilih bertahan dan beradaptasi menghadapi banjir yang nyaris datang setiap tahun.
“Namanya tinggal di belakang, ya begini. Yang depan sudah surut, kita masih kebagian,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, rumah panggung sederhana itu menjadi upaya bertahan hidup. Bukan solusi ideal, namun menjadi satu-satunya pilihan agar keluarga Yarkasih tetap selamat saat air kembali datang tanpa peringatan. (rez)

3 days ago
18
















































