Beranda Berita Utama Pergerakan Tanah Bikin Warga Perumahan Villa Lestari Serangbaru Takut Tidur di Kamar
AMBLES: Warga berada di rumahnya yang ambles di Perumahan Villa Lestari 1, Desa Jayasampurna, Serangbaru, Kamis (29/1). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pergerakan tanah di Perumahan Villa Lestari 1, Desa Jayasampurna, Kecamatan Serangbaru, Kabupaten Bekasi, yang berada di bantaran Kali Cikarang, kian parah. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga setempat.
Hingga Kamis (29/1), sekitar 10 rumah dilaporkan mengalami kerusakan, dengan dinding retak dan tanah di depan serta samping rumah ambles. Infrastruktur jalan di sekitar lokasi juga retak dan ambles akibat pergeseran tanah.
Pergerekan tanah dipicu longsornya tanggul pembatas antara perumahan dan kali akibat hujan deras yang melanda wilayah tersebut. Kondisi ini terus memburuk seiring intensitas hujan yang tinggi.
Seorang warga terdampak, Titin (45), mengatakan pergeseran tanah pertama kali terjadi saat hujan deras beberapa waktu lalu. Namun, hingga kini kondisi tanah semakin memburuk.
BACA JUGA: Hujan Picu Pergerakan Tanah, Lantai Rumah Warga Cikarang Selatan Ambles 70 Cm
Selain menggerus bagian rumah warga, erosi juga merusak akses jalan di sekitar lokasi. Material tanah yang tergerus hanyut ke aliran Kali Cikarang.
“Sampai sekarang belum ada (penanganan,red) lanjutan,” ucap Titin yang rumahnya berada di Blok C1, Kamis (29/1).
Blok C1 diketahui berada tepat di bantaran Kali Cikarang. Selain menggerus bagian rumah warga, erosi juga merusak akses jalan di sekitar lokasi. Material tanah yang tergerus hanyut ke aliran sungai.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah batang kayu dipasang sebagai pembatas sementara antara perumahan dan bantaran sungai. Namun upaya tersebut dinilai belum mampu menahan laju erosi.
Akibat kondisi itu, warga mengaku hidup dalam kecemasan. Beberapa penghuni bahkan terpaksa memindahkan aktivitas tidur ke ruang tamu karena pondasi rumah telah terkikis dan dinding mulai mengalami retakan.
“Kamar di bagian bawah udah retak-retak, tidur juga udah pindah ke ruang tamu, nggak berani lagi tidur di kamar,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua RW 17 Perumahan Villa Lestari 1, Suyatno, menyebut pihak lingkungan sebelumnya telah mengusulkan pembangunan tanggul permanen untuk mengantisipasi banjir dan erosi. Namun pelaksanaannya oleh pengembang dinilai tidak maksimal.
Namun, pelaksanaan oleh pengembang dinilai tidak maksimal karena hanya mengandalkan timbunan tanah tanpa penguatan konstruksi.
“Kami sudah sampaikan ke developer dan responnya cepat dikerjakan, tapi pengerjaannya kurang baik sehingga hasilnya tidak maksimal,” ujarnya.
Berdasarkan pendataan lingkungan, terdapat sekitar 10 rumah yang terdampak dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang. Kerusakan umumnya berupa retakan pada dinding akibat pergeseran tanah. Bahkan, sejumlah warga terpaksa melakukan renovasi mandiri tanpa adanya kompensasi atau perbaikan unit dari pihak pengembang.
“Ada sekitar 10 rumah yang rumahnya sudah retak sampai direnovasi sendiri. Kalau untuk perbaikan unit dari developer belum, baru infrastrukturnya saja,” tuturnya
Suyatno menegaskan minimnya perhatian pengembang terhadap laporan warga memicu kekecewaan dan kemarahan. Kondisi tersebut mendorong pembentukan Forum Komunikasi Warga sebagai upaya memperkuat aspirasi masyarakat.
Jika tidak ada penanganan permanen, pihaknya berencana mengadukan persoalan ini ke Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) serta DPRD Kabupaten Bekasi.
“Developer itu terkesan meremehkan warga kami pengurus lingkungan. Makanya saya marah. Kemudian kita juga sudah bersurat ke DPRD Kabupaten Bekasi,” katanya.
Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, mengatakan pihaknya telah menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan pendataan dan koordinasi dengan pihak terkait.
Erosi akibat bencana hidrometeorologi ini juga terjadi di kawasan Perumahan Mega Regency. Pergerakan tanah di lokasi saat ini mencapai lima meter dengan panjang sekitar 35 meter.
“Penyebab kejadian akibat tingginya intensitas hujan. Tidak ada korban jiwa dari peristiwa ini, namun sebanyak 12 rumah sembilan kepala keluarga terancam,” kata Dodi.
BPBD Kabupaten Bekasi merekomendasikan langkah penanganan segera berupa penguatan struktur tanah. Pembangunan turap permanen dinilai menjadi solusi utama untuk mencegah kerusakan lebih luas.
“Rekomendasi utama kami adalah segera dilakukan pembuatan turap penguatan tanah yang permanen. Untuk saat ini, kebutuhan mendesak yang diperlukan adalah bronjong, bambu dan terpal untuk penunjang berhentinya pergerakan tanah,” tutup Dodi. (ris)

2 hours ago
8

















































