Pendaftaran Sekolah Maung Bikin Bingung

6 hours ago 11

Warga mendatangi Sekolah Maung SMAN 1 Bekasi, Senin (25/5). FOTO: ZAKKY MUBAROK/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Hari pertama pendaftaran Sekolah Manusia Unggul (Maung) SMAN 1 Kota Bekasi diwarnai kebingungan massal. Orangtua dan calon siswa ramai mendatangi sekolah unggulan tersebut lantaran tidak memahami syarat pendaftaran, jalur seleksi, hingga teknis penggunaan website Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang berbeda dengan sekolah reguler.

Alih-alih mendaftar dari rumah secara daring, banyak calon pendaftar justru datang langsung ke sekolah untuk meminta penjelasan. Kebingungan makin menjadi setelah muncul persoalan akun login, syarat IQ, hingga portal pendaftaran yang sempat sulit diakses.

Pantauan di hari pertama pendaftaran, sejumlah orangtua memadati sekolah Maung SMAN 1 Bekasi. Mereka datang untuk memastikan syarat jalur prestasi akademik hingga mekanisme seleksi.

Santi (46), salahsatu orangtua calon siswa, mengaku harus datang langsung ke SMAN 1 Bekasi karena belum memahami detail persyaratan pendaftaran.

“Tadi baru dijelaskan di sekolah. Daftarnya memang mandiri dan online, sekarang lagi dibantu anak saya upload berkas,” katanya, Senin (25/5).

Ia memilih jalur prestasi akademik karena kuotanya paling besar, yakni mencapai 50 persen. Namun, ia masih menunggu hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang baru diumumkan hari ini.

Kebingungan serupa dialami Siti (40). Ia mengaku sempat khawatir dengan syarat IQ minimal 130 yang ramai dibicarakan masyarakat.

“Ternyata ada jalurnya sendiri. Kalau pakai jalur rapor tidak perlu tes IQ,” ujarnya.

Menurutnya, program sekolah Maung menarik perhatian masyarakat karena digadang-gadang menjadi sekolah unggulan baru gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Namun di lapangan, sosialisasi dinilai belum maksimal. Pengamat pendidikan, Imam Kobul Yahya, menilai wajar jika masyarakat kebingungan karena sistem pendaftaran sekolah Maung berbeda dengan SPMB reguler.

“Website-nya berbeda, mekanismenya juga baru. Jadi masyarakat masih bertanya-tanya,” katanya.

Ia bahkan menilai minat masyarakat di Bekasi terhadap sekolah Maung belum terlalu tinggi. Banyak orangtua datang hanya untuk mencari informasi, bukan langsung mendaftar.

“Yang datang memang ramai, tapi banyak yang masih bingung dan bertanya,” ujarnya.

Sementara, Koordinator Pengawas Kantor Cabang Dinas Pendidikan (KCD) Wilayah III Jawa Barat, Rojali, memastikan minat masyarakat terhadap sekolah Maung cukup tinggi.

“Sudah ada masyarakat yang mendaftar dan ada juga yang datang mencari informasi,” ujarnya.

Ia menegaskan saat ini pendaftaran baru dibuka untuk sekolah Maung, sedangkan SPMB reguler masih dalam tahap pemetaan.

Di sisi lain, kebijakan sekolah Maung juga menuai kekhawatiran terkait akses pendidikan warga sekitar. Tokoh masyarakat Ciketing Udik, Komarudin, menyoroti SMKN 2 Kota Bekasi yang kini menjadi sekolah Maung dengan jalur penerimaan hanya melalui prestasi.

Menurutnya, kebijakan itu berpotensi mempersempit peluang anak-anak Bantargebang masuk sekolah negeri di wilayahnya sendiri.

“Jangan sampai sekolah yang dibangun untuk masyarakat Bantargebang justru sulit diakses anak-anak Bantargebang,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memastikan pelaksanaan SPMB sekolah Maung harus bersih dari praktik titipan.

“Tidak boleh ada titipan dari siapapun atas nama apapun,” tegas Dedi.

Ia bahkan mengancam akan mencopot kepala sekolah maupun panitia yang terbukti bermain dalam proses penerimaan siswa.

“Kami juga akan umumkan kepada publik siapa yang menitipkan anaknya jika melanggar prinsip transparansi,” tandasnya. (sur)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |