Marhaban Ya Ramadan

6 hours ago 11

Oleh : Ayi Nurdin (Ketua PCNU Kota Bekasi)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Marhaban ya Ramadan. Ucapan ini bukan sekadar tradisi lisan, melainkan ungkapan kerinduan dan kesiapan hati umat Islam dalam menyambut bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Ramadan hadir tidak hanya sebagai momentum ibadah tahunan, tetapi juga sebagai madrasah spiritual, sekolah kehidupan yang mendidik setiap individu menuju pribadi yang bertakwa.

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk takwa. Dari sinilah Ramadan berperan sebagai kurikulum ilahi yang lengkap untuk membentuk ketaqwaan manusia, mulai dari dimensi fisik dengan berpuasa, ruhani dengan banyak qiyamullail dan tadarus Quran, dan dan dimensi sosial dengan sedekah dan kepedulian terhadap sesama.

Sebagai madrasah, Ramadan melatih disiplin dan pengendalian diri. Jadwal sahur, waktu berbuka, serta ibadah yang teratur membentuk kebiasaan menghargai waktu dan menahan keinginan. Manusia belajar bahwa tidak semua yang diinginkan harus segera dipenuhi. Dari latihan ini lahir kesabaran, keteguhan, dan kemampuan mengelola emosi—nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, Ramadan juga menjadi madrasah penyucian jiwa. Puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan amarah, menjaga lisan, serta membersihkan hati dari iri dan dengki. Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali menekankan bahwa puasa yang paling tinggi adalah puasanya hati, ketika pikiran, niat, dan perasaan seluruhnya diarahkan kepada Allah. Dengan demikian, ucapan Marhaban ya Ramadan sejatinya adalah komitmen untuk memperbaiki lahir dan batin sekaligus.

Ramadhan juga merupakan madrasah kepedulian sosial. Rasa lapar yang dirasakan setiap hari membuka kesadaran bahwa banyak saudara kita yang mengalami hal serupa tanpa pilihan. Dari sini tumbuh empati, semangat berbagi, dan keinginan membantu sesama. Sedekah, zakat, dan berbagai bentuk kebaikan sosial menjadi pelajaran penting bahwa kesalehan tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga harus memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Selain itu, Ramadan menghadirkan ketenangan batin. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, bulan ini menjadi ruang hening untuk merenung, memperbanyak doa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Hati yang sebelumnya gelisah perlahan menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan keputusan hidup lebih bijaksana. Inilah sisi spiritual Ramadhan yang menjadikannya bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga bulan penyembuhan jiwa.

Pada akhirnya, Ramadan sebagai madrasah spiritual adalah proses pendidikan yang menyeluruh mengasah tubuh, membersihkan hati, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Marhaban ya Ramadan bukan hanya sapaan selamat datang, tetapi juga deklarasi kesiapan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika Ramadan dijalani dengan iman, ilmu, dan keikhlasan, maka ia tidak sekadar berlalu sebagai rutinitas tahunan, melainkan meninggalkan jejak transformasi yang membentuk manusia lebih sadar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Tuhannya sepanjang tahun.(*)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |