Disarpus Kabupaten Bekasi Redefinisi Perpustakaan, Dari Stiga Tempat Sunyi jadi Ruang Publik Inklusif

1 month ago 40

Beranda Cikarang Disarpus Kabupaten Bekasi Redefinisi Perpustakaan, Dari Stiga Tempat Sunyi jadi Ruang Publik Inklusif

ILUSTRASI: Mobil Perpustakaan Keliling berada dalam kegiatan Botram di SMPN 2 Tambun Selatan, beberapa waktu lalu. FOTO: ANDI MARDANI/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Bekasi terus berupaya mengubah wajah perpustakaan daerah agar lebih ramah dan menarik bagi masyarakat. Perpustakaan yang selama ini identik dengan suasana sunyi dan kaku diarahkan menjadi ruang publik yang nyaman serta inklusif.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bekasi, Jaoharul Alam, menegaskan pentingnya redefinisi fungsi perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan tidak lagi hanya dipersepsikan sebagai tempat yang sepi, tetapi harus menjadi ruang publik yang menarik dan bersahabat bagi masyarakat.

“Arahannya kita melakukan redefinisi terhadap perpustakaan. Selama ini kan identik dengan tempat yang sunyi. Ke depan, perpustakaan harus lebih menarik,” kata Jaoharul, Senin (22/12)

Untuk mewujudkan hal tersebut, Disarpus Kabupaten Bekasi melakukan berbagai langkah, mulai dari perbaikan sarana dan operasional hingga menggiatkan program-program yang bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat.

“Saat ini yang bisa kita lakukan adalah upaya-upaya peningkatan minat baca. Salah satunya dengan menggiatkan program-program yang memancing masyarakat untuk datang ke perpustakaan,” ujarnya.

Salahsatu langkah konkret yang telah dilakukan adalah memperbanyak duta baca dari kalangan anak muda Kabupaten Bekasi yang memiliki talenta. Para duta baca ini diharapkan menjadi agen perubahan dalam mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar gemar membaca.

“Kemarin kita sudah mengembangkan anak-anak Bekasi yang punya talenta untuk menjadi duta baca. Kita pilih dan kita dorong supaya mereka bisa mengajak masyarakat meningkatkan minat baca,” jelasnya.

Terkait tingkat minat baca yang masih berada pada kategori lemah, Jaoharul menjelaskan bahwa penilaian tersebut berdasarkan survei yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Penentuan sampel sepenuhnya dilakukan oleh Perpusnas dengan mendatangi sejumlah perpustakaan daerah.

“Kalau sampelnya berapa, itu ditentukan oleh Perpusnas. Kita tidak mengetahui secara detail jumlah total sampelnya,” katanya.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bekasi memiliki beberapa perpustakaan daerah, yakni perpustakaan utama, perpustakaan di Cifest Cikarang Pusat, perpustakaan di Cikarang Utara, serta perpustakaan di Gedung Juang Tambun Selatan. Selain itu, banyak sekolah juga memiliki perpustakaan yang menjadi bagian dari tanggung jawab pembinaan pemerintah daerah.

Jaoharul mengakui, tantangan utama dalam meningkatkan minat baca adalah perubahan perilaku generasi muda yang lebih tertarik pada media sosial dibandingkan membaca buku.

“Anak-anak sekarang cenderung ke media sosial. Itu tidak bisa dilarang, tapi perlu pendampingan agar media sosial digunakan secara bijak,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pemerintah daerah, orang tua, dan guru memiliki peran penting dalam membimbing anak-anak agar penggunaan media digital dapat diimbangi dengan kebiasaan membaca.

Selain itu, Disarpus Kabupaten Bekasi juga mulai menyesuaikan layanan ke arah perpustakaan digital dengan mengonversi koleksi bacaan ke dalam format digital yang edukatif dan mudah diakses masyarakat.

Terkait dukungan anggaran tahun 2026, Jaoharul menyebutkan bahwa pembiayaan program tetap bergantung pada kebijakan anggaran, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, terutama yang berkaitan dengan program strategis nasional.

“Kalau berbicara anggaran, tentu itu pembahasan kebijakan. Tapi arah dan perencanaannya sudah ada, tinggal disesuaikan dengan alokasi yang tersedia,” pungkasnya. (and)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |