TPST Bantargebang Jadi Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Dunia

3 hours ago 10

Beranda Berita Utama TPST Bantargebang Jadi Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Dunia

TPST Bantargebang. FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, tercatat menjadi penyumbang emisi metana terbesar di dunia sepanjang 2025.

Peringkat itu merujuk riset tim Emmett Institute, University of California, Los Angeles (UCLA) School of Law, yang dipublikasikan pada April 2026. Dalam laporan tersebut, TPST Bantargebang menghasilkan sekitar 6,3 ton emisi metana per jam.

Laporan tersebut memanfaatkan data pemantauan satelit dari Carbon Mapper, termasuk satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen EMIT milik NASA yang terpasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Temuan ini memperlihatkan bahwa emisi metana dari 25 lokasi pembuangan sampah di dunia jauh melampaui rata-rata global.

Kondisi ini menguatkan kekhawatiran lama yang sempat disorot aktor Hollywood Leonardo DiCaprio pada 2019. Saat itu, ia menampilkan Bantargebang sebagai simbol krisis sampah yang mengancam lingkungan dan kesehatan manusia. Kini, ancaman tersebut terbukti tidak hanya berskala lokal, tetapi juga berdampak global melalui kontribusinya terhadap perubahan iklim.

Pegiat lingkungan, Sony Teguh Trilaksono, menilai tingginya emisi metana merupakan konsekuensi dari sistem pengelolaan sampah yang belum memenuhi standar. Ia menyoroti praktik pembuangan terbuka (open dumping) yang masih berlangsung.

“Gas metan atau dampak apapun itu karena pengelolaan yang tidak sesuai standar. Gas metan itu bocor karena tidak dikelola dengan baik, prosesnya masih open dumping,” kata Sony, Selasa (5/5).

Metana merupakan gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan global 28 hingga 34 kali lebih besar dibanding karbon dioksida dalam periode 100 tahun. Dengan volume emisi mencapai 6,3 ton per jam, akumulasi dampaknya dinilai sangat signifikan.

“Apalagi kalau penelitian itu benar, maka bisa dibayangkan kalau satu jam 6,3 ton, tinggal dikalikan saja. Jadi memang luar biasa dahsyat,” ujarnya.

Selain mempercepat krisis iklim, gas metana juga membawa risiko langsung bagi lingkungan sekitar. Gas ini mudah terbakar dan berpotensi memicu kebakaran hingga ledakan di area TPA. Di sisi lain, paparan jangka panjang juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat.

Ironisnya, menurut Sony, gas metana yang melimpah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, metana dapat diolah menjadi sumber energi alternatif seperti listrik atau bahan bakar.
“Padahal itu bisa dimanfaatkan, tapi sampai sekarang belum dikelola dengan baik,” katanya.

Ia menekankan pentingnya perubahan sistemik dalam pengelolaan sampah, dimulai dari pemilahan di sumber. Tanpa pemisahan antara sampah organik dan anorganik, proses pengolahan menjadi tidak efektif dan justru memperparah emisi.

“Masalahnya ini kan dicampur. Kalau dicampur, yang anorganik tidak terpakai, sedangkan yang organik menguap jadi gas metan, itu yang bahaya,” jelasnya.

Data menunjukkan bahwa sekitar 60 persen komposisi sampah di Bantargebang merupakan sampah organik, terutama sisa makanan. Tanpa pengolahan yang tepat seperti komposting atau budidaya maggot, sampah ini akan terus menghasilkan metana dalam jumlah besar.

Sementara itu, sampah anorganik dapat diolah melalui berbagai metode, termasuk program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang direncanakan pemerintah. Namun, efektivitas program tersebut sangat bergantung pada pemilahan sampah sejak awal.

Di tingkat kebijakan, Instruksi Gubernur DKI Jakarta terkait pemilahan sampah dinilai sebagai langkah awal yang tepat. Namun, implementasinya dinilai masih lemah dan belum konsisten.

Volume sampah di Bantargebang sendiri terus meningkat. Presiden sebelumnya menyebut jumlahnya telah mencapai 55 juta ton, sementara Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut tinggi gunungan sampah setara gedung 17 lantai. (sur)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |