Beranda Nasional Superflu Intai Indonesia, Jawa Barat Kasus Terbanyak
Ilustrasi virus Superflu yang menjangkiti manusia. Foto: Pixabay.
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kasus Superflu mengintai Indonesia. Penyakit yang disebabkan virus Influenza A H3N2 itu terdeteksi masuk ke Indonesia sejak 25 Desember 2025 lalu.
Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, menuturkan berdasarkan data hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus superflu yang tersebar di delapan provinsi. Jumlah terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
“Ketiga wilayah ini menjadi kontributor utama temuan super flu nasional berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium,” ujar Widyawati, dikutip dari JPNN pada Sabtu (3/1/2026).
Ia menjelaskan, puluhan kasus tersebut teridentifikasi dari hasil pemantauan 88 sentinel influenza like illness (ILI) dan severe acute respiratory infections (SARI) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
BACA JUGA: Waspada Virus Influenza di Kota Bekasi, Ini Gejalanya
Menurut Widyawati, proses pemeriksaan dan pelaporan dilakukan melalui fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas, balai kesehatan, hingga rumah sakit.
Widyawati menegaskan berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta situasi epidemiologi saat ini, super flu tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan klade atau subklade influenza lainnya.
“Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan,” katanya.
Ia juga memastikan seluruh varian influenza A (H3N2) yang ditemukan merupakan varian yang sudah dikenal secara global dan terus dipantau melalui sistem surveilans WHO.
Widyawati menambahkan, vaksin influenza yang tersedia saat ini masih efektif dalam menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza A (H3N2).
Sementara itu, Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A(K), mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus super flu.
Menurut Nastiti, super flu berisiko tinggi bagi kelompok rentan, seperti balita, lanjut usia, penderita penyakit kronis, komorbiditas, penyakit jantung bawaan pada anak, gangguan kardiovaskular pada dewasa, pasien kanker, serta individu yang mengonsumsi obat penekan sistem imun.
Ia menjelaskan, penderita super flu umumnya mengalami batuk, nyeri tenggorokan, hidung berair atau tersumbat, demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, serta rasa lelah berlebihan.
“Sebetulnya sama dengan gejala influenza A pada umumnya ada demam tinggi, menggigil, sakit kepala, sampai nyeri tenggorokan maupun gejala-gejala pilek,” ujar Nastiti.
Nastiti juga menyoroti karakteristik virus H3N2 yang memiliki tingkat evolusi tinggi, mudah menular, serta cepat bermutasi sehingga berpotensi memicu wabah atau peningkatan kasus influenza secara massal.
“Dapat menyebabkan pasien-pasien itu banyak terkena sakit, dan harus di rawat rumah sakit yang menyebabkan gelombang kenaikan kebutuhan alat kesehatan maupun obat-obatan di negara-negara dengan winter yang berat atau yang lama,” katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan laporan yang ada, tingkat kerentanan terhadap virus super flu cenderung meningkat pada masyarakat yang tidak mendapatkan imunisasi influenza. (cr1)

9 hours ago
14

















































