RADARBEKASI.ID, ENDE – Relawan Gerakan Anak Negeri (GAN) telah tiba di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, (22/8/2026) sore. Usai disambut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ende, Fransisca Nusanumba Ero, di kediamannya, relawan mengunjungi kondisi RSUD Ende pasca gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).
Seminggu sudah, para pasien masih dirawat di tenda-tenda darurat yang didirikan di halaman terbuka di depan gedung RSUD Ende untuk mengantisipasi kerusakan bangunan akibat gempa susulan yang masih sering terjadi.
Kadinkes bersama Kepala Bidang Pelayanan Medik Dinkes Ende Berto Rimba, Dirut RSUD Ende, Ester Puspa Jelita, dan lainnya duduk melingkar bersama relawan GAN di depan RSUD dan menjelaskan kondisi pascagempa NTT.
Kadinkes Ende, Fransisca Nusanumba Ero, menjelaskan kondisi terkini warga, fasilitas kesehatan hingga tenaga kesehatan setelah seminggu dilanda gempa NTT.
Menurutnya, sebagian besar korban yang mengalami cedera ringan telah mendapatkan penanganan dan diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.
Sementara itu, sejumlah korban dengan luka berat masih menjalani perawatan di rumah sakit. Adapun korban meninggal dunia berdasarkan data sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Ende tercatat sebanyak tiga orang.
“Korban pascagempa sudah tertangani. Terutama korban-korban cedera ringan sudah mendapat penanganan dan sudah kembali ke rumahnya masing-masing,” ujar Fransisca.
“Sedangkan cedera berat ada beberapa orang yang masih dirawat di rumah sakit. Kalau korban meninggal, sementara data di kami ada tiga orang yang meninggal,” sambungnya.
Menurut Fransisca, kondisi kesehatan masyarakat mulai terdampak akibat kerusakan rumah dan gempa susulan yang masih membuat warga khawatir kembali ke tempat tinggal mereka. Sejumlah warga akhirnya memilih bertahan dan tidur di lokasi pengungsian, baik pengungsian mandiri maupun tempat pengungsian terpusat.
“Kebanyakan penyakit yang sudah mulai meningkat yaitu infeksi saluran pernapasan akut, kemudian diare dan juga penyakit kulit yang sudah mulai dikeluhkan oleh masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut salah satunya dipicu oleh rumah warga yang sudah tidak layak dihuni. Ditambah dengan getaran gempa susulan, warga merasa tidak aman berada di dalam rumah.
“Ini tentu terjadi karena rumah mereka sudah dalam keadaan tidak layak huni. Dengan ditambah getaran-getaran susulan gempa membuat mereka takut masuk rumah dan memilih menginap ataupun tidur di pengungsian-pengungsian,” jelasnya.
Pelayanan RSUD Ende Dipindahkan ke Tenda
Di sisi lain, fasilitas kesehatan di Kabupaten Ende juga turut terdampak gempa. Meski bangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ende tidak mengalami kerusakan berat, pelayanan medis hingga kini masih dilakukan di luar gedung.
Fransisca mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan sekaligus untuk memberikan rasa aman kepada pasien dan tenaga kesehatan.
“RSUD Ende ini tidak terlalu berdampak, namun pelayanan tetap belum berani dilakukan di dalam gedung. Sehingga pelayanan dilakukan di tenda-tenda,” ujarnya.
Bahkan, pelayanan mulai dari Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang rawat inap hingga ICU sementara dilakukan di area luar gedung menggunakan tenda.
“Semua di tenda-tenda. Mulai dari IGD, kemudian ruangan perawatan inap, ICU pun juga sudah dilakukan di luar,” ungkap Fransisca.
Sementara itu, dari 28 puskesmas dan satu Rumah Sakit Pratama yang berada di Kabupaten Ende, sebanyak 12 fasilitas kesehatan dilaporkan masuk kategori rusak sedang. Sisanya mengalami kerusakan ringan. Namun, Dinas Kesehatan belum dapat memastikan tingkat kerusakan tersebut secara teknis.
“Menurut kacamata kami, karena kami tidak mempunyai kapasitas untuk menilai ataupun menganalisa tingkat kerusakan dari fasilitas kesehatan,” katanya.
Untuk memastikan kondisi masing-masing fasilitas kesehatan, Dinkes Kabupaten Ende telah bersurat kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) agar dilakukan analisis teknis terhadap bangunan yang terdampak.
“Nanti kita akan tahu dari rekomendasi yang diberikan, fasilitas kesehatan mana yang masuk kategori kerusakan ringan, sedang atau mungkin ada yang masuk kategori kerusakan berat,” jelasnya.
Dua Tenaga Kesehatan Ikut Terdampak
Gempa juga berdampak terhadap tenaga kesehatan yang berada di Kabupaten Ende. Fransisca menyebut, terdapat dua tenaga kesehatan yang terdampak akibat kepanikan saat gempa terjadi. Keduanya terdiri dari satu orang perawat atau bidan dan satu dokter. Sementara tenaga kesehatan lainnya dalam kondisi baik.
Meski demikian, beban pelayanan yang meningkat membuat sebagian tenaga kesehatan mulai mengalami kelelahan.
“Yang lainnya tidak terdampak dalam kondisi baik. Hanya mungkin karena melayani banyak kasus, sekarang mulai ada yang daya tahan tubuhnya menurun, kelelahan,” tuturnya.
Dinkes Kabupaten Ende pun menyambut baik dukungan dari tim Gerakan Anak Negeri yang datang membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
Menurut Fransisca, dukungan tersebut dibutuhkan, khususnya untuk membantu pelayanan di sejumlah titik puskesmas di wilayah utara Pulau Flores.
Trauma Healing Jadi Kebutuhan Mendesak
Selain penanganan medis, Dinas Kesehatan Kabupaten Ende menilai pemulihan kondisi psikologis masyarakat menjadi kebutuhan penting setelah bencana.
Fransisca menyebut trauma healing sangat diperlukan untuk membantu warga mengatasi rasa takut akibat gempa dan getaran susulan.
“Yang sangat dibutuhkan saat ini menurut saya adalah trauma healing. Sangat penting karena dengan trauma healing kita berharap memulihkan kembali kepercayaan, psikologis warga untuk bisa siap masuk ke rumah tinggalnya sendiri,” pungkasnya.
Selain trauma healing, Dinkes juga akan melakukan pemantauan serta perawatan lanjutan terhadap masyarakat yang terdampak gempa, terutama mereka yang mengalami gangguan kesehatan maupun masih membutuhkan layanan medis. (Arifin)

4 hours ago
6

















































