Beranda Nasional Perang Regional Timur Tengah Memanas, Lima Ribu Warga Jabar Masih Umroh di Arab Saudi
Ilustrasi haji dan umrah. Foto: Dok.
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kementerian Haji dan Umroh Provinsi Jawa Barat mencatat sekitar 5.000 warga Jawa Barat masih berada di Arab Saudi untuk menjalankan ibadah umrah di tengah memanasnya perang regional Timur Tengah, usai serangan militer Amerika dan Israel ke Iran.
Pemerintah menegaskan pelaksanaan ibadah sunah tersebut tetap berlangsung aman dan berada dalam pengawasan ketat otoritas terkait.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umroh dan Haji Khusus (SISKOPATUH), sebanyak 58.873 jemaah umrah asal Indonesia tercatat masih berada di Arab Saudi. Dari total itu, sekitar 8 persen di antaranya merupakan jemaah asal Jawa Barat.
BACA JUGA: Langit Timur Tengah Membara, Travel Umroh di Kota Bekasi Ini Tetap Berangkatkan Jamaah
“Itu Jawa Barat kita minta data tadi siang dari pusat itu ada sekitar 4.000 sampai 5.000 orang yang masih ada di Tanah Suci baik di Makkah maupun di Madinah,” ujar Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umroh Provinsi Jawa Barat Boy Hary Novian, dilansir dari JPNN Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan, ribuan jemaah asal Jabar tersebut bukan dalam kondisi tertahan, melainkan memang belum memasuki jadwal kepulangan. Saat ini, sebagian masih menjalani rangkaian ibadah umroh yang umumnya berlangsung selama 9 hingga 12 hari.
“Iya memang belum jadwalnya pulang saja jadi bukan tertahan, maksudnya kalaupun yang di cancel juga itu kalau untuk Lion, Garuda, Saudi Airline itu masih tetap melakukan penerbangan jadwalnya seperti biasa,” ujarnya.
Pengetatan pengawasan perjalanan umroh dan haji dilakukan untuk memastikan keselamatan seluruh jemaah Indonesia seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika dan Israel dengan Iran.
Boy mengungkapkan, terdapat sejumlah jadwal kepulangan yang mengalami penundaan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan eskalasi konflik perang yang lebih luas.
“Nah, yang yang tertunda itu yang memakai Qatar, Emirates. Nah, itu yang yang (tertunda), itu pun tidak dibatalkan, di ditunda keberangkatan untuk kepulangannya gitu,” ujarnya.
“Kalau yang mau berangkat tunda dulu sampai benar-benar kondusif suasana di Arab Saudi-nya atau di Timur Tengahnya seperti itu karena takutnya ekskalasinya makin tinggi ke depannya,” lanjutnya.
Ia memastikan seluruh jemaah Indonesia yang saat ini berada di Arab Saudi dalam keadaan aman. Meski demikian, ia menyebut dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak pada operasional sejumlah maskapai penerbangan.
“Jadi sebenarnya yang kami imbau itu adalah jemaah yang akan berangkat, itu kalau bisa menunda dulu, lebih baik menunda keberangkatan umrah sampai dengan situasi benar-benar kondusif,” ucap dia.
Ia menambahkan, sebagian jemaah Indonesia juga telah kembali ke Tanah Air, meski tidak merinci jumlah maupun waktu kepulangan mereka. Pemerintah, lanjutnya, terus menjalin koordinasi intensif dengan berbagai pihak.
“Namun untuk kepulangan jemaah itu tidak perlu khawatir, apalagi (bagi) keluarga yang ada di tanah air karena kami Kementerian Haji dan Umrah itu sudah juga berkoordinasi dengan kantor urusan haji dan KJRI di Jeddah,” jelasnya.
Pihaknya pun berencana turun langsung ke bandara untuk memastikan kebutuhan para jemaah terpenuhi, terutama bagi yang terdampak penundaan jadwal penerbangan.
“Nah, ini yang penundaannya itu kami bantu fasilitasi ketika harus refund ataupun mengganti maskapai atau mungkin dengan extend hotel di sana seperti itu,” pungkasnya. (cr1)

17 hours ago
16

















































