RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi belum menggerakkan aktivis mahasiswa di Kabupaten Bekasi turun ke jalan. Mereka masih menunggu hasil kajian dan arahan dari pengurus pusat masing-masing organisasi sebelum menentukan sikap.
Ketua DPC GMNI Kabupaten Bekasi, Mustakim, mengatakan organisasinya belum mengambil sikap resmi terkait perkembangan ekonomi nasional. Menurutnya, DPP GMNI saat ini masih melakukan kajian terhadap situasi ekonomi yang berkembang.
“Menanggapi isu nasional perihal rupiah melemah, sikap kami menunggu instruksi dari teman-teman DPP GMNI. Karena teman-teman di DPP juga sudah menyatakan konferensi pers melalui kajian-kajian persoalan ekonomi,” kata Mustakim, Rabu (17/6).
Mustakim menilai pelemahan rupiah saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis ekonomi yang pernah terjadi pada masa lalu. Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah, menurut dia, belum berdampak signifikan terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat.
“Kalau melihat secara historis tidak bisa disamakan dengan kondisi hari ini. Di lapangan bahan-bahan pokok juga belum banyak yang naik. Karena masyarakat belum banyak beraksi, maka kami masih melihat perkembangan berdasarkan fakta empirisnya seperti apa,” katanya.
Ia menegaskan GMNI Kabupaten Bekasi tidak ingin bersikap reaktif terhadap isu nasional tanpa didukung kajian yang kuat. Karena itu, organisasi masih mengamati perkembangan situasi sebelum menentukan langkah.
“Sehingga kita tidak mungkin berteriak tanpa memiliki dasar secara objektif,” ucapnya.
Terkait rencana konsolidasi Cipayung Plus, Mustakim mengaku komunikasi antarorganisasi sudah dilakukan. Namun hingga kini belum ada pembahasan mengenai tuntutan maupun langkah lanjutan yang akan ditempuh.
“Kalaupun kita bergerak, kita belum ada pembahasan perihal tuntutannya apa dan tindak lanjut hal itu. Perlu kita konsolidasikan kepada kawan-kawan untuk mengemas kajian dan tuntutan kami seperti apa,” katanya.
Ia juga menyinggung isu kenaikan BBM yang dinilai belum terlalu berdampak karena belum menyentuh sektor subsidi.
“Terkait BBM, hari ini subsidinya belum dinaikkan. Kalau subsidi dinaikkan masyarakat akan teriak. Hari ini yang naik kan Pertamax,” ujarnya.
Senada, kader PMII Kabupaten Bekasi, Fathur, mengatakan organisasinya juga belum mengambil langkah apa pun. Saat ini PMII masih menunggu hasil konsolidasi yang dilakukan Pengurus Besar (PB) PMII bersama pengurus di tingkat daerah.
“PB PMII sudah berkonsolidasi dengan pengurus di tingkat daerah termasuk Jawa Barat. Dari konsolidasi itu kita belum mendapatkan hasilnya. Oleh karena itu kita masih menunggu hasil konsolidasi tersebut yang akan diturunkan ke tingkat daerah kabupaten/kota,” katanya.
Saat ditanya apakah PMII Kabupaten Bekasi masih menunggu arahan untuk bergerak, Fathur menjawab singkat.
“Iya,” ucapnya. Meski demikian, ia menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah kondisi yang belum sepenuhnya stabil.
Menurutnya, pelemahan rupiah dan kenaikan BBM pada dasarnya bermuara pada tuntutan yang sama, yakni menjaga stabilitas nasional. “Secara pribadi, melemahnya nilai tukar rupiah dan kenaikan BBM secara umum tuntutannya sama, stabilkan kondisi Indonesia,” pungkasnya.
Sementara itu, Formatur HMI MPO Cabang Bekasi, Syafira Oktanurina, menilai pelemahan nilai tukar rupiah dan memburuknya kondisi ekonomi bukan sekadar persoalan angka makro ekonomi, tetapi telah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
“Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, biaya transportasi, hingga semakin sempitnya lapangan pekerjaan menjadi realitas yang dirasakan rakyat,” ujar Syafira, dalam keterangannya.
Dikatakannya, sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki fungsi kontrol sosial, HMI MPO Cabang Bekasi menegaskan bahwa pemerintah harus segera mengambil langkah konkret dan terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi serta memastikan kebijakan yang diambil berpihak kepada rakyat.
“Kami akan terus mengawal dan mengkritisi setiap kebijakan yang berpotensi menambah beban masyarakat,” tegasnya.
Ia mengatakan, komunikasi dan konsolidasi antarorganisasi yang tergabung dalam Cipayung Plus terus berjalan. Menurutnya, kondisi bangsa saat ini membutuhkan respons bersama dari gerakan mahasiswa sehingga ruang diskusi dan konsolidasi terus dibangun untuk menyamakan pandangan terhadap berbagai persoalan yang terjadi.
“Prinsipnya, HMI MPO Cabang Bekasi selalu terbuka untuk membangun gerakan kolektif bersama elemen mahasiswa dan masyarakat sipil selama orientasinya jelas, yaitu memperjuangkan kepentingan rakyat dan menjaga marwah gerakan mahasiswa,” ujarnya.
Ia menegaskan gerakan mahasiswa tidak boleh hanya berorientasi pada aksi seremonial atau sekadar merespons isu secara emosional. Setiap langkah perjuangan, kata dia, harus didasarkan pada kajian yang matang, pemetaan persoalan yang jelas, serta rumusan tuntutan yang konkret.
“Karena itu, apabila saat ini belum ada aksi besar yang dilakukan, bukan berarti mahasiswa diam. Justru kami sedang memperkuat konsolidasi internal, mengumpulkan data, dan mengkaji dampak kebijakan pemerintah agar ketika bergerak, gerakan tersebut memiliki basis argumentasi yang kuat dan mampu memberikan tekanan yang efektif,” tuturnya.
Menurut Syafira, jika kondisi ekonomi terus memburuk dan pemerintah tidak menunjukkan keberpihakan kepada rakyat, HMI MPO Cabang Bekasi siap mengambil sikap yang lebih tegas.
Beberapa isu yang menjadi perhatian organisasi tersebut antara lain stabilitas harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat, ketersediaan lapangan pekerjaan bagi generasi muda, transparansi dan efektivitas penggunaan anggaran negara, jaminan akses pendidikan yang terjangkau dan berkualitas, serta evaluasi kebijakan ekonomi yang berpotensi membebani masyarakat kecil.
“Terkait waktu pelaksanaan aksi, saat ini masih dalam tahap komunikasi dan konsolidasi. Ketika momentum dan kesepakatan bersama telah terbentuk, kami tidak akan ragu untuk turun ke jalan menyuarakan aspirasi rakyat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegelisahan rakyat merupakan kegelisahan mahasiswa. Karena itu, komunikasi lintas organisasi terus dilakukan untuk membaca situasi secara objektif dan menentukan langkah bersama yang tepat.
Menurutnya, mahasiswa harus hadir sebagai penyambung suara rakyat, bukan sekadar menjadi penonton di tengah berbagai persoalan bangsa. Karena itu, konsolidasi terus berjalan dengan harapan seluruh elemen gerakan mahasiswa dapat bersatu memperjuangkan kepentingan masyarakat, khususnya di tengah tekanan ekonomi yang semakin dirasakan.
“Ketika rakyat menghadapi kesulitan, mahasiswa tidak boleh kehilangan keberpihakannya. HMI MPO Cabang Bekasi akan tetap berdiri di garis perjuangan, menjadi mitra kritis pemerintah sekaligus penyambung suara masyarakat,” pungkasnya. (and)

18 hours ago
14

















































