Lu Biau

4 hours ago 10

Ilustrasi tentang kedatangan Menlu AS Marco Rubio ke Tiongkok.--

Oleh: Dahlan Iskan

Ketika saya meninggalkan pulau Rhun kembali ke pulau Banda Naira kemarin, Presiden Donald Trump meninggalkan Beijing kembali ke Amerika.

Dua hari Trump di Beijing. Hasil yang nyata: Tiongkok akan membeli 200 pesawat Boeing bikinan Amerika, membeli minyak dan gasnya, serta hasil pertaniannya. Dua yang terakhir tidak konkret nilainya –bagian yang kelihatannya sengaja diambangkan.

Berarti hasil kunjungan ini tidak sebesar berita yang dimunculkan. Soal membeli pesawat sebanyak 200 itu misalnya, sebenarnya bisa lebih banyak lagi mengingat kebutuhan Tiongkok 500 pesawat. Pembelian 200 pesawat itu hanya setara dengan pembelian yang dilakukan Lion Air dari Indonesia –yang waktu itu sekali beli sebanyak 175 pesawat.

Soal pembelian hasil pertanian kelihatannya Tiongkok akan berhitung lebih teliti: Tiongkok sudah telanjur bertransaksi dengan Kanada dan Brasil di bidang minyak Canola dan kedelai. Nilainya sengaja diambangkan karena Tiongkok masih akan melihat apakah perusahaan teknologinya masih dilarang masuk Amerika. Demikian juga apakah chip Amerika masih dilarang dikirim ke Tiongkok.

Kedatangan Trump ke Beijing kali ini berbeda dengan tahun 2017. Kali ini Trump tidak didampingi istrinya, Melania. Sembilan tahun lalu Melania jadi bintang di Beijing. Dia tampak selalu bersama Peng Liyuan, istri Presiden Xi Jinping yang juga artis penyanyi lagu-lagu nasionalis paling terkenal.

Kali ini Peng Liyuan hanya hadir sesekali. Penyambutan kali ini lebih bersifat “bisnis” dari pada kekeluargaan. Isu yang dibahas juga super serius: soal sensitivitas Taiwan bagi Tiongkok dan soal mengapa Trump menyerang Iran.

Jelas Xi ingin Amerika tahu soal Taiwan itu harga mati. Seperti juga soal Hong Kong. Xi seperti mengingatkan Trump: soal Taiwan bisa seperti Iran –akan membuat Amerika sangat sulit.

Dari berbagai pemberitaan media terlihat Trump ingin mengesankan bahwa Tiongkok akan membantu Amerika meyakinkan Iran di soal Selat Hormuz. Tapi saya yakin Tiongkok akan memainkan kartu Iran ini dengan kelihaian permainan mahyong. Bahkan ada yang mengingatkan Trump: hati-hati dengan jebakan Thucydides.

Anda sudah tahu apa maksudnya: Thucydides adalah ahli sejarah dunia di zaman Yunani kuno yang bisa menggambarkan dengan sangat baik fenomena perang panjang antara Athena dan Sparta. Yakni Perang Peloponnesus.

Di situ digambarkan masa kebangkitan Anthena yang luar biasa, yang sedang dalam proses menggantikan dominasi Sparta. Maka bisa saja Xi Jinping telah mendalami karya Thucydides itu dengan baik sedang Trump sebagai pedagang jarang membaca buku berat seperti itu.

Apa pun, pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump sangat baik. Meski telah tertunda lebih sebulan pertemuan itu bisa meredakan ketegangan di permukaan: perang Amerika-Iranlah yang membuat pertemuan itu tertunda.

Peredaan ketegangan itu setidaknya sudah terjadi antara Tiongkok dan Menlu Amerika Marco Rubio. Sudah cair.

Rubio adalah salah satu dari tiga tokoh politik Amerika yang dijatuhi sanksi oleh Tiongkok. Itu gara-gara sikap Rubio yang sangat keras dalam peristiwa demonstrasi kebebasan di Hong Kong. Termasuk bagaimana Rubio membela mati-matian tokoh oposisi Hong Kong, Jimmy Lai, yang dijatuhi hukuman 18 tahun di Hongkong. Di pulau yang menjadi salah satu pusat keuangan dunia itu Jimmy adalah tokoh media pemilik koran Apple Daily.

Di sini Tiongkok sangat kreatif dalam menyelesaikan masalah diplomatik. Harusnya Rubio tidak bisa masuk Tiongkok mendampingi Trump. Tiongkok harus lebih dulu mencabut sanksi untuk Rubio. Tapi Tiongkok akan terkesan lemah kalau pencabutan itu dilakukan.

Untung Tiongkok berbahasa Mandarin yang semua nama orang asing pun harus ditulis dengan huruf Mandarin.

Selama ini nama Mandarin Marco Rubio adalah: 卢比奥. Perhatikan huruf pertamanya: 卢. Dibaca: Lu. Berarti Marco Rubio selama ini diberi marga Lu –dengan bunyi nada dua. 卢比奥 dibaca Lú bǐ ào. Perhatikan tanda baca di atas huruf ‘u’.

Untuk kedatangan Marco Rubio bersama Trump kali ini nama Mandarin Marco Rubio menjadi: 鲁比奥. Huruf pertamanya beda. Marganya berubah. Dari dulunya Lu menjadi Lu. Dari Lú, menjadi Lǔ.

Nama lengkapnya dulu: 卢比奥 (Lú bǐ ào). Namanya sekarang menjadi: 鲁比奥 (Lǔ bǐ ào).

Maka di visa yang dikeluarkan Tiongkok untuk kedatangan Marco Rubio sekarang ini bukan nama yang sama dengan yang dulu diberi sanksi. Dengan demikian Marco Rubio bisa masuk Tiongkok tanpa Tiongkok harus mencabut sanksi. Siapa tahu kelak Tiongkok perlu melarangnya lagi.

Tampaknya larangan baru di masa depan tidak perlu lagi. Rubio tidak keras lagi soal Hong Kong dan Jimmy Lai.

Waktu keras dulu statusnya adalah anggota DPR –ia perlu menang di dapilnya. Sekarang ia menteri luar negeri –yang penting masih bisa memenangkan hati Trump. Maka ketika kali ini Rubio ditanya soal Jimmy Lai ia hanya mengatakan “urusan Hongkong itu urusan dalam negeri Tiongkok”.

Beres. Rubio pun telah menjadi cerita yang menarik –mengalahkan cerita soal kunjungan Trump itu sendiri.

Bahkan banyaknya CEO perusahaan kelas dunia dari Amerika yang ikut Trump seperti tidak mendapat porsi sorotan. Padahal dalam rombongan itu ada Elon Musk dari Tesla, Tim Cook dari Apple, Jensen Huang dari NVIDIA, Larry Fink dari BlackRock, Stephen Schwarzman dari Blackstone, Kelly Ortberg dari Boeing, Jane Fraser dari Citigroup, Larry Culp dari GE Aerospace, David Solomon dari Goldman Sachs, Cristiano Amon dari Qualcomm, Sanjay Mehrotra dari Micron Technology, Michael Miebach dari Mastercard, Ryan McInerney dari Visa, Brian Sikes dari Cargill, dan Jacob Thaysen dari Illumina.

Mereka berkepentingan semua dengan pasar Tiongkok yang sangat besar. Mereka pasti seperti Anda, ingin damai. Agar bisnis bisa jalan. Tapi mereka juga bisa terkena jebakan Thucydides bila Trump hanya mengandalkan gaya tinjunya Mike Tyson. (Dahlan Iskan)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |