RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ancaman musim kemarau mulai terasa di Kota Bekasi. Menyusutnya debit air Kali Bekasi hingga bebatuan di dasar sungai terlihat menjadi sinyal awal bahwa potensi krisis air bersih perlu segera diantisipasi.
Apabila kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya sumur warga yang berisiko mengering, tetapi juga produksi air bersih yang menjadi kebutuhan ratusan ribu pelanggan Perumda Tirta Patriot.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hampir seluruh pasokan air baku Perumda Tirta Patriot bergantung pada Kali Bekasi. Saat debit sungai menurun, kualitas air baku juga berpotensi memburuk akibat meningkatnya konsentrasi limbah. Situasi serupa pernah terjadi pada musim kemarau 2023, ketika pencemaran menyebabkan produksi air bersih terganggu dan masyarakat kesulitan mendapatkan pasokan air.
Pantauan di kawasan pintu air Kali Bekasi menunjukkan debit sungai telah turun signifikan. Aliran air yang biasanya menutupi bebatuan kini menyusut hingga dasar sungai terlihat jelas. Kondisi tersebut menjadi indikator awal memasuki musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga ketersediaan air bersih selama musim kemarau. Salah satu fokus utama adalah mencari dan mengoptimalkan sumber-sumber air baku agar distribusi kepada pelanggan Perumda Tirta Patriot tetap berjalan.
“Tentu kita mencari sumber-sumber air baku yang harus kita optimalkan agar distribusi air kepada masyarakat yang hari ini ter-cover oleh PDAM itu tetap terlayani,” ujar Tri, Senin (20/7).
Selain mencari sumber air baku baru, Pemkot Bekasi juga mengandalkan infrastruktur konservasi air yang telah dibangun sejak 2022. Pembangunan sumur resapan, biopori, hingga polder air di 12 kecamatan diharapkan mampu menjaga cadangan air tanah selama musim kemarau.
“Yang ketiga adalah polder-polder air yang kita miliki juga mudah-mudahan menjadi satu cadangan di dalam rangka proses hari ini terkait dengan kebutuhan air bersih,” tambahnya.
Meski demikian, pengalaman pada 2023 menjadi pengingat bahwa infrastruktur saja belum cukup apabila kualitas air Kali Bekasi memburuk akibat pencemaran. Ketika debit sungai menurun, kemampuan aliran sungai untuk mengencerkan limbah juga berkurang. Akibatnya, instalasi pengolahan air bersih terpaksa menghentikan produksi apabila kualitas air baku tidak lagi memenuhi standar.
Sementara, Direktur Utama Perumda Tirta Patriot, Ali Imam Faryadi, mengakui kondisi Kali Bekasi menjadi faktor paling menentukan keberlangsungan produksi air bersih. Namun ia memastikan situasi saat ini lebih siap dibandingkan tiga tahun lalu karena kini telah tersedia pasokan air curah dari SPAM Regional Jatiluhur I.
“Kejadian 2023 itu kita belum ada PSN, jadi kalau misalkan ada limbah kita mati total,” katanya.
Menurut Ali, SPAM Teluk Buyung saat ini mampu memasok air sekitar 100 hingga 150 liter per detik sebagai langkah antisipasi apabila produksi dari Kali Bekasi terganggu. Selain itu, pihaknya juga akan mengusulkan tambahan pasokan dari SPAM Regional Jatiluhur I sebesar minimal 200 liter per detik.
Meski demikian, ia mengakui tambahan pasokan tersebut belum sepenuhnya mampu menggantikan kebutuhan apabila Kali Bekasi benar-benar tidak dapat diolah akibat pencemaran atau kekeringan ekstrem.
“Walaupun memang betul nanti tidak akan maksimal, tapi paling tidak masyarakat masih bisa mendapatkan air, tidak separah tahun 2023,” ujarnya.
Hingga saat ini, Perumda Tirta Patriot memastikan belum menerima laporan gangguan produksi air bersih. Namun kewaspadaan terus ditingkatkan mengingat puncak musim kemarau diperkirakan baru terjadi pada Agustus hingga September.
“Sampai hari ini Alhamdulillah produksi belum ada laporan terhadap gangguan,” tambah Ali.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi menyatakan belum menerima laporan adanya wilayah yang mengalami kekeringan. Kendati demikian, seluruh personel dan sarana pendukung telah disiagakan untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Bekasi Wiratma Puspita mengatakan berdasarkan pengalaman, dampak kemarau di Kota Bekasi memang tidak separah sejumlah daerah lain di Jawa Barat. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang.
“Seperti yang sudah diprediksi kemarau tahun ini sedikit lebih panjang, tapi untuk Kota Bekasi berdasarkan historis kekeringan kita tidak separah daerah sekitar,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi, sejak 2024 Pemkot Bekasi telah membangun empat sumur bor yang dapat dimanfaatkan masyarakat ketika sumur-sumur dangkal mulai mengering.
“Sehingga harapannya kalau sumur-sumur warga sudah tidak ada air bisa menggunakan sumur itu, karena itu lebih dalam sehingga bisa untuk kondisi darurat,” jelas Wiratma.
BPBD juga memastikan armada mobil tangki milik BPBD, DBMSDA, dan Perumda Tirta Patriot siap mendistribusikan air bersih secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan. Warga cukup menghubungi layanan darurat 112 apabila mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Selain ancaman kekeringan, masyarakat juga diminta mewaspadai meningkatnya risiko kebakaran serta gangguan kesehatan akibat cuaca panas.
“Kemudian yang tidak kalah penting jaga hidrasi, bawa tumbler, air minum karena cuaca panas. Jangan sampai dehidrasi karena berbahaya untuk tubuh kita,” tambahnya.
Ancaman kemarau di Bekasi tidak dapat dipisahkan dari kondisi yang terjadi di tingkat regional. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 98 persen dari 41 Zona Musim (ZOM) di Jawa Barat telah memasuki fase kemarau. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dengan curah hujan di bawah normal.
Plt Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Edi Wibowo mengatakan musim kemarau tahun ini juga diperkuat oleh fenomena El Nino yang berpotensi memperpanjang durasi musim kering.
“Agustus diperkirakan menjadi puncak kemaraunya,” kata Edi.
Ia menjelaskan peluang terjadinya El Nino lemah mencapai 100 persen, kategori moderat 98 persen, dan kategori kuat mencapai 60 persen. Kondisi tersebut diperkirakan membuat musim kemarau lebih panjang dengan curah hujan lebih rendah dibandingkan kondisi normal.
“Sehingga untuk durasi musim kemarau tahun ini di beberapa wilayah di Jawa Barat diprediksi lebih panjang, dengan sifat hujan di bawah normal,” tegasnya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah mempercepat langkah mitigasi, mulai dari pengamanan sumber air baku, optimalisasi waduk, hingga perbaikan jaringan irigasi. Di sisi lain, masyarakat diminta mulai menghemat penggunaan air sejak dini, karena pengalaman menunjukkan krisis air bersih selalu datang bukan saat kemarau dimulai, melainkan ketika cadangan air sudah telanjur menipis.(sur/mif/net)

9 hours ago
12

















































