RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perang terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel memunculkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Eskalasi militer yang meluas ke berbagai negara di kawasan Teluk Persia bukan hanya persoalan geopolitik regional, tetapi juga ancaman nyata terhadap harga minyak dunia. Bagi Indonesia, situasi ini berpotensi berujung pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara terbuka mengingatkan risiko tersebut.
“Kalau Iran terlibat konflik, yang pasti terganggu adalah pasokan minyak. Apalagi jalur distribusi seperti Selat Hormuz juga bisa terdampak, bahkan kawasan Laut Merah,” ujar Airlangga di Jakarta kemarin (3/3).
Pernyataan itu menegaskan bahwa pemerintah menyadari besarnya implikasi konflik terhadap rantai pasok energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati perairan sempit tersebut. Ketika kawasan itu terancam atau bahkan ditutup akibat konflik, dampaknya bukan hanya pada negara produsen, tetapi juga negara konsumen seperti Indonesia. Gangguan di titik ini hampir pasti memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional.
Saat ini harga minyak dunia telah menyentuh kisaran USD 82 per barel. Angka tersebut berpotensi terus bergerak naik apabila eskalasi militer tidak mereda. Airlangga mengakui adanya risiko kenaikan harga sebagaimana terjadi dalam konflik sebelumnya.
“Otomatis harga bisa naik, seperti saat perang Rusia dan Ukraina yang lalu. Tapi, sekarang juga ada tambahan pasokan dari Amerika dan peningkatan kapasitas dari OPEC,” jelasnya.
Meski ada tambahan pasokan dari Amerika Serikat dan peningkatan produksi OPEC, pasar tetap merespons konflik dengan sentimen kehati-hatian. Ketika risiko geopolitik meningkat, pelaku pasar cenderung mengerek harga sebagai antisipasi terhadap potensi kelangkaan. Dalam situasi seperti ini, spekulasi dan kekhawatiran sering kali sama kuatnya dengan realitas pasokan di lapangan.
Eskalasi konflik memang menunjukkan intensitas yang mengkhawatirkan. Iran menyerang berbagai aset dan fasilitas AS di Abu Dhabi dan Dubai (Uni Emirat Arab), Doha (Qatar), Manama (Bahrain), hingga Kuwait City.
Bahkan pangkalan angkatan udara Inggris di Siprus turut dihantam. Di sisi lain, Israel menggempur Lebanon setelah Hizbullah meluncurkan rudal dan drone sebagai retaliasi atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Iran menegaskan sikap kerasnya terhadap Amerika Serikat. “Iran sama sekali tak ada rencana untuk bernegosiasi dengan AS,” kata Sekretaris Dewan Pertahanan Iran Ali Larijani seperti dikutip dari Al Jazeera. Pernyataan tersebut menutup ruang diplomasi dalam waktu dekat dan memperbesar kemungkinan konflik berkepanjangan.
Dampak serangan juga menyentuh infrastruktur energi. Api terlihat di Kilang Minyak Ras Tanura, Arab Saudi, setelah dua drone yang diduga kuat ditembakkan Iran terjatuh usai diintersep. Serangan terhadap fasilitas energi menjadi sinyal serius bagi pasar minyak global. Setiap gangguan produksi atau distribusi di kawasan Teluk akan langsung memicu volatilitas harga.
Di Israel, mengutip media setempat Haaretz, sebanyak 200 bangunan rusak akibat serangan Iran. Yordania bahkan menutup wilayah udaranya mulai pukul 18.00 sampai 09.00 setiap hari.
“Penutupan ini dilakukan menyusul perkembangan situasi regional dan penghitungan risiko yang selaras dengan standar internasional,” kata Komisi Penerbangan Sipil Yordania.
Israel pun membuka kemungkinan serangan darat. Juru Bicara Militer Israel Effie Defrin mengatakan, pihaknya telah memobilisasi sekitar 100 ribu pasukan cadangan. “Semua opsi masih terbuka,” katanya seperti dikutip dari Al Jazeera.
Pernyataan tersebut menandakan bahwa konflik berpotensi meningkat ke level yang lebih luas. Bagi Indonesia, implikasi langsung tidak hanya pada harga minyak, tetapi juga jalur perdagangan internasional.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengingatkan dampak cepat pada arus logistik global.
“Dampak eskalasi konflik AS-Israel-Iran yang akan terasa paling langsung dan immediate untuk Indonesia adalah gangguan pada rute perdagangan, khususnya yang mengarah ke Timur Tengah dan sekitarnya karena saat ini Selat Hormuz ditutup dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat,” ujar Shinta.
Gangguan distribusi tersebut berpotensi menaikkan biaya pengiriman dan premi asuransi kapal. Kenaikan biaya logistik akan terakumulasi dalam harga impor, termasuk minyak mentah dan BBM. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energinya, Indonesia tidak kebal terhadap efek domino tersebut.
Pemerintah menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi. Diversifikasi sumber impor menjadi strategi utama. Pertamina telah menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah perusahaan energi asal AS seperti Chevron dan ExxonMobil untuk memastikan pasokan dari luar kawasan Timur Tengah. Upaya ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada wilayah yang tengah dilanda konflik.
Namun, diversifikasi sumber pasokan tidak serta-merta menghilangkan dampak kenaikan harga global. Selama harga minyak dunia meningkat, biaya pembelian tetap lebih tinggi. Dalam situasi ini, pemerintah menghadapi dilema: menaikkan harga BBM atau memperbesar subsidi. Keduanya memiliki konsekuensi ekonomi dan sosial yang tidak ringan.
Kenaikan BBM dapat mendorong inflasi, meningkatkan biaya transportasi, serta menekan daya beli masyarakat. Sebaliknya, subsidi yang membengkak akan membebani APBN dan mempersempit ruang fiskal untuk program pembangunan lainnya. Pengalaman saat perang Rusia–Ukraina menunjukkan betapa sensitifnya perekonomian domestik terhadap lonjakan harga energi.
Di tengah situasi tersebut, perlindungan warga negara Indonesia di Iran juga menjadi perhatian. Duta Besar RI di Iran Rolliansyah Soemirat menyatakan pihaknya telah mengambil langkah taktis.
“Kami menginstruksikan dengan tegas kepada seluruh WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, tetap berada di dalam kediaman masing-masing (stay indoors), dan menjauhi titik-titik kerumunan massa maupun lokasi yang bernilai strategis,” ujarnya.
Saat ini tercatat 329 WNI berada di Iran dan dipastikan dalam kondisi aman. Konflik Timur Tengah sekali lagi menunjukkan betapa erat hubungan antara geopolitik dan stabilitas energi. Indonesia memang tidak terlibat langsung dalam peperangan tersebut, tetapi dampaknya bisa terasa hingga ke pompa bensin di dalam negeri. Selama eskalasi belum mereda dan jalur distribusi energi masih terancam, potensi kenaikan harga minyak dunia tetap terbuka lebar.
Pertanyaannya kini bukan apakah risiko itu ada, melainkan seberapa siap Indonesia menghadapinya. Transparansi kebijakan, penguatan cadangan energi, serta percepatan transisi menuju sumber energi alternatif menjadi kunci agar setiap gejolak global tidak selalu berujung pada tekanan harga BBM di dalam negeri. (lyn/ttg/agf/mia/ttg)

1 hour ago
8

















































