Gejolak Timur Tengah Memanas, Jemaah Umrah Bekasi Tetap Khusyuk di Tanah Suci

3 hours ago 7

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Meningkatnya dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah membuat sejumlah agen perjalanan umroh di Kota Bekasi memperketat komunikasi dengan jemaah yang saat ini berada di Tanah Suci.

Meski situasi geopolitik menjadi perhatian, para jemaah dilaporkan tetap menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk di Makkah maupun Madinah. Hingga kini, belum ada informasi resmi mengenai perubahan jadwal kepulangan ke Indonesia.

Salahsatu jemaah asal Bekasi yang tengah berada di Madinah, Shohibul Wafa, memastikan kondisi di kota suci tersebut aman. Saat dihubungi pada Senin (2/3), ia menggambarkan suasana ibadah berlangsung seperti biasa, terlebih di bulan Ramadan.

“Di Makkah dan Madinah biasa-biasa saja. Orang puasa, ibadah, ke masjid, Raudhah, tawaf, sa’i dengan fokus. Tidak ada yang namanya kepanikan,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Bang Haji Shohib itu mengatakan, rangkaian ibadah yang dijalaninya justru terasa semakin khusyuk. Semangat beribadah meningkat seiring datangnya Ramadan. Meski jarak antara hotel tempatnya menginap dengan Masjid Nabawi mencapai sekitar 1,2 kilometer, hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk tetap menjalankan salat berjamaah dan memperbanyak ibadah sunnah.

“Kita sekarang puasa, malah semakin semangat. InsyaAllah aman,” ucapnya optimistis.

Sesuai jadwal, Shohibul Wafa dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada 12 Maret mendatang. Hingga saat ini, ia belum menerima informasi adanya perubahan jadwal penerbangan.

Di sisi lain, para penyelenggara perjalanan ibadah umroh di Bekasi terus melakukan pemantauan intensif. Pimpinan Travel Zauhara Wisata Madani, Zaidun Djaelani, memastikan seluruh jemaah yang diberangkatkan perusahaannya dalam kondisi aman.

“Saat ini jemaah sedang di Makkah dalam keadaan aman. Mereka sedang ziarah ke Ma’la. Kami terus memantau kepulangan mereka, sementara ini masih sesuai jadwal, rencananya pulang tanggal lima,” jelasnya.

Zaidun menyebutkan, rombongan terakhir yang diberangkatkan travelnya berangkat pada Kamis (26/2), sebelum memanasnya konflik di kawasan tersebut. Untuk keberangkatan berikutnya, pihaknya telah mengambil langkah antisipatif dengan menunda jadwal hingga setelah pelaksanaan ibadah haji.

“Alhamdulillah untuk pemberangkatan selanjutnya sudah saya batalkan jauh hari sebelum peristiwa ini. Ada firasat visa Syawal tidak keluar, jadi jemaah saya yang rencana berangkat di Syawal dipindahkan semua setelah haji,” tuturnya.

Ia mengakui, di tengah situasi yang berkembang cepat, komunikasi dengan asosiasi perusahaan travel umroh terus dilakukan guna merumuskan strategi terbaik. Menurutnya, peran pemerintah sangat dibutuhkan apabila terjadi penundaan keberangkatan secara massal.

“Kalau memang harus ditunda, pemerintah perlu memberi solusi. Artinya ada jaminan bahwa uang jemaah tetap utuh, karena kami sudah membayar tiket dan hotel,” tegasnya.

Sementara itu, sebagian jemaah asal Bekasi dijadwalkan tetap berangkat pada 5 Maret, bergabung dengan jemaah dari sejumlah kota lain.

Konsultan Senior Haji dan Umroh Naffar Tour, Agus Supriyanto, memastikan visa puluhan jemaah yang akan berangkat telah terbit dan tiket penerbangan sudah dikonfirmasi.

Menurut Agus, beberapa maskapai seperti Lion Air dan Garuda Indonesia masih mengoperasikan penerbangan langsung ke Arab Saudi tanpa transit di wilayah yang terdampak konflik, seperti Doha, Qatar.

“Beberapa penerbangan yang tidak mengarah ke wilayah konflik masih berjalan. Untuk jemaah tanggal lima Maret, visa mereka sudah terbit,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa rombongan jemaah lain yang saat ini berada di Madinah berangkat pada 26 Februari dan dijadwalkan tiba kembali di Indonesia pada 7 Maret. Hingga kini, tidak ada laporan gangguan keamanan maupun perubahan jadwal kepulangan.

Meski demikian, Agus menyarankan warga Bekasi yang berencana berangkat umroh dalam waktu dekat agar mempertimbangkan imbauan pemerintah, terutama jika merasa khawatir terhadap situasi keamanan.

“Kalau merasa waswas, sebaiknya tunda dulu sesuai anjuran pemerintah. Tapi pastikan biaya yang sudah dikeluarkan dikomunikasikan dengan pihak terkait,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umroh sebelumnya telah mengimbau calon jemaah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatan hingga situasi dinilai lebih kondusif. Wakil Menteri Haji dan Umroh RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk kehati-hatian demi keselamatan warga negara.

“Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami menghimbau jemaah umroh yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya,” ujarnya.

Pemerintah juga meminta jemaah yang saat ini berada di Arab Saudi serta keluarga di Tanah Air untuk tetap tenang dan tidak panik. Kementerian Haji dan Umroh bersama Kementerian Luar Negeri terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi, maskapai penerbangan, serta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh guna memastikan penanganan berjalan baik jika terjadi penundaan kepulangan.

Berdasarkan data melalui sistem Komputerisasi Pengelolaan Umroh dan Haji Khusus (Siskopatuh), tercatat sebanyak 58.873 jemaah umroh Indonesia masih berada di Arab Saudi. Di tengah dinamika kawasan, harapan terbesar seluruh pihak adalah keselamatan dan kelancaran ibadah para tamu Allah hingga kembali ke Tanah Air dengan selamat.(sur)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |