Oleh: Dahlan Iskan
Pun ketika meninggal dunia, James Rachman Radjimin memecahkan rekor: vegetatif terlama di Indonesia. Kecuali Anda punya catatan lebih dari Radjimin.
Pemilik Hotel J.W. Marriott Surabaya itu vegetatif selama delapan tahun. Ia baru meninggal 6 Januari lalu –dan saya baru maisong ke rumah duka kemarin.
Kami berteman baik. Tapi waktu pertama ia koma saya tidak tahu. Saya sendiri, di hari yang sama, terkena aorta dissection –pembuluh darah utama saya pecah. Sepanjang setengah meter. Radjimin koma di Surabaya. Aorta saya pecah di Madinah.
Waktu itu saya baru saja terbang sembilan jam. Radjimin baru mendarat dari penerbangan 20 jam. Saya hanya terbang dari Surabaya-Jakarta-Madinah. Ia terbang dari New York-Singapura-Bali. Rapat di Bali, lanjut ke Surabaya.
Dua-duanya mengejar target: saya ingin bermalam tahun baru di Makkah. Bersama seluruh keluarga. Radjimin ingin merayakan Natal di Surabaya. Bersama keluarga. Di hari yang diinginkan itu kami sama-sama di rumah sakit.
Begitu mendarat dari New York, Radjimin makan malam di hotel miliknya. Saat itulah ia muntah-muntah. Lalu dilarikan ke rumah sakit.
Saya juga dilarikan ke rumah sakit. Di Madinah. Lalu bersama istri terbang kembali ke Surabaya –anak-cucu meneruskan perjalanan umrah tutup tahun ke Makkah.
Sejak itu Radjimin koma. Lalu vegetatif. Vegetatif tidak sama dengan koma –hanya saja orang yang vegetatif selalu diawali dengan koma.
Anda sudah tahu: ketika koma mata selalu tertutup. Tidak ada siklus tidur dan bangun. Lalu koma itu masih bisa sadar –bisa satu menit kemudian, bisa juga satu minggu setelahnya.
Vegetatif, mata bisa saja membuka atau menutup. Punya siklus tidur dan bangun. Selebihnya sama. Tidak sadar. Tidak kenal siapa pun. Tidak merespons apa pun. Vegetatif bisa bertahun-tahun. Radjimin sampai delapan tahun. Di dunia pernah ada yang sampai 17 tahun.
Teman saya satunya, Ali Mahakam, vegetatif sampai tujuh tahun. Ia pengusaha angkutan. Satu-satunya pengurus Persebaya yang Tionghoa. Gemarnya bola luar biasa. Ia selalu jadi bendahara.
Setelah tahu sulit sembuh, istrinya memutuskan Ali Mahakam dirawat di rumah saja. Istrinya sendiri yang merawat. Bertahun-tahun. Sampai akhirnya meninggal dunia –sang istri yang meninggal. Suaminyi berumur lebih panjang –tanpa tahu istrinya sudah meninggal.
Radjimin teladan bagi teman-temannya. Teladan bahwa sukses itu harus lewat kerja keras. Teladan juga bagi yang sedang down: bisa bangkit lagi. Ia juga teladan bagi yang tidak lulus SMA masih bisa sukses.
Sebenarnya Radjimin mampu sekolah sampai mana pun. Papanya seorang akuntan. Tapi SMA tempat Radjimin sekolah ditutup pemerintah: Xin Zhong. Sejak itu ia pilih langsung bekerja. Awalnya membantu ayahnya, lalu usaha sendiri: buka toko onderdil di Jalan Baliwerti Surabaya.
Usianya baru 17 tahun.
Radjimin tidak hanya menunggu pembeli di tokonya. Ia aktif jualan ke proyek-proyek. Lalu jadi pemasok peralatan di proyek bendungan Karangkates. Yakni proyek untuk membendung hulu sungai Brantas. Lokasinya: antara Malang dan Blitar.
Awalnya Radjimin hanya jadi pemasok peralatan teknik. Lama-lama memasok semua yang diperlukan proyek itu.
Saat itulah Radjimin jatuh cinta. Tidak sengaja. Radjimin diajak temannya berkunjung ke rumah temannya teman. Di rumah itulah, di Jalan Widodaren, Anita tinggal bersama kakak-kakaknyi.
Waktu itu Anita masih sekolah SMA di Santa Maria. Papa-mama Anita tinggal di Bondowoso –punya toko emas di sana.
Anita tidak tahu kalau Radjimin menaksirnyi. Dia tahu itu ketika Radjimin ke Jepang. “Tiap hari ia kirim kartu pos dari Tokyo. Tiap hari,” ujar Anita. Anda belum tahu apa itu kartu pos. Saya juga sudah lupa. Saya tidak pernah merayu si Galuh Banjar dengan kirim kartu pos.
Anita tidak pernah merespons. Tapi Radjimin punya banyak akal. Ia dekati kakak-kakak Anita. Merekalah yang akhirnya gigih merayu agar Anita memilih Radjimin.
Waktu itu Radjimin sudah punya mobil. Anita tahu, ia selalu naik mobil jeep Willis. Radjimin tidak pernah pamer ke Anita bahwa ia sebenarnya sudah punya mobil Mercy Sport. Betapa sukses Radjimin muda. Semuda itu, di zaman itu, sudah punya Mercy Sport.
Seperti umumnya pengusaha muda Radjimin juga pernah ”jatuh”. Tapi segera bangkit lagi. Maka jatuhlah ketika masih muda –agar Anda lebih mudah bangkit. Tapi kalau ada orang tua jatuh lalu bisa bangkit itu memang istimewa.
Dari Karangkates, Radjimin jadi pemasok untuk bendungan Gajah Mungkur. Lebih jauh lagi. Di Wonogiri, pojokan tenggara Jateng.
Lalu ia bisnis telekomunikasi. Radjimin memasok peralatan telekomunikasi di berbagai kabupaten dan kecamatan. Belum ada internet. Belum ada HP. Alat komunikasi antar kabupaten dan kecamatan saat itu disebut SSB –mungkin si juara perusuh Disway masih tahu apa itu SSB.
Usaha Radjimin berlanjut ke properti. Ia bebaskan satu lokasi: dibangunlah ruko. Di beberapa lokasi. Termasuk membebaskan rumah kuno di pojokan Ambengan untuk dijadikan restoran Venesia yang kemudian terkenal.
Setelah menangani bisnis di berbagai daerah, Radjimin merasa waktunya habis di jalan raya. Tabungan sudah setinggi tugu Monas. Ia pun ingin memasuki bisnis yang tidak terlalu makan tenaga.
Maka ia bebaskan 200 rumah kampung di belakang Jalan Embong Malang. Jadilah hotel bintang lima plus: J.W. Marriott. Sampai sekarang masih jadi hotel terbaik.
“Sudah maisong Pak Radjimin?” tanya Ny Sindunata Sambhudi kepada saya. Dia teman saya berolahraga di halaman Harian Disway, Surabaya.
“Sudah. Kemarin,” jawab saya.
“Lho saya juga kemarin. Kok tidak ketemu ya?”
Lokasi rumah duka itu di Adi Jasa. Kalau yang meninggal orang biasa cukup menyewa satu ruangan di situ. Untuk Radjimin yang disewa tujuh ruangan. Luas. Penuh hiasan bunga. Satu pelayat belum tentu bertemu pelayat lainnya.
Radjimin lima hari disemayamkan di situ. Yang maisong tidak henti-hentinya. Siang malam.
“Saya bisikkan sesuatu ke peti Pak Radjimin kemarin,” ujar Ny Sindunata.
“Anda bisikkan apa?”
“Kok pergi duluan, meninggalkan Pak Sindu,” ujarnyi.
Sindunata juga vegetatif. Juga sudah delapan tahun. Hanya berbeda dua bulan dengan Radjimin. Sindu kini berusia 72 tahun. Radjimin seumuran saya: 75 tahun –hanya beda lima bulan.
Kelihatannya rekor Radjimin akan dipecahkan oleh temannya sendiri: sama-sama konsul kehormatan negara Eropa Timur. Radjimin konsul Hungaria. Sindu konsul Slovakia.
Anitalah yang kini menangani Marriott. Sehat. Cantik. Masih lima ”i”. Bersama tiga anaknyi dia memimpin Marriott. Termasuk mengelola jaringan hotel: Artotel.
Tentu banyak kenangan bersamanya. Suatu saat saya bertemu Radjimin di bandara. Biasa. Ia pakai jas lengkap. Radjimin orang yang selalu tampil keren. Apalagi orangnya memang ganteng, tinggi, atletis. Mirip dengan pendeta muda Mawar Sharon saat ini: Philip Mantofa.
“Mau ke mana?” tanya saya.
“Ini, bawa rombongan besar,” jawabnya.
Bersama Radjimin memang ada 400 orang. Saya lupa: mereka jemaat gereja Pantekosta Tabernakel atau Gereja Mawar Sharon. Radjimin dulunya jemaat Tabernakel, lalu pindah ke Mawar Sharon.
“Jadi, mau ke mana rombongan ini?,” tanya saya lagi.
“Mau ke Manila, Filipina,” jawabnya.
“Ada apa di Manila?”
“Mau kebaktian di sana”.
“Ada pesawat besar ke Manila?”
“Kami carter pesawat Boeing 747,” katanya.
Tuhan begitu penting bagi Radjimin. (Dahlan Iskan)

20 hours ago
14
















































