RADARBEKASI.ID, BEKASI – N, bayi yang baru berusia 2 tahun 8 bulan babak belur setelah diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan ayah tiri di kediamannya di wilayah Jatisari, Jatiasih, Kota Bekasi.
Peristiwa memilukan ini terungkap saat N dibawa sang ibu ke Puskesmas Jatiasih, Jumat, (17/4), setelah melihat banyak luka pada tubuh mungilnya.
Benar saja, petugas medis menemukan sejumlah luka yang tidak wajar, mulai dari luka bakar hingga pendarahan di bagian kemaluan.
Ketua RT 04 setempat, Komarudin, mengungkapkan bahwa temuan tersebut langsung dilaporkan oleh pihak Puskesmas ke pengurus lingkungan.
“Awalnya anak itu dibawa ke Puskesmas oleh ibunya. Dari situ terlihat ada kejanggalan, ada luka bakar dan pendarahan. Puskesmas kemudian melapor ke RW, lalu diteruskan ke saya,” ujar Komarudin saat ditemui di Jatiasih, Selasa (21/4).
Mendapat laporan tersebut, Komarudin bersama perangkat lingkungan langsung melakukan penelusuran. Hasilnya, ditemukan indikasi kuat adanya kekerasan terhadap korban.
Pada sore hari, ibu korban mendatangi rumah Ketua RT untuk meminta pendampingan membuat laporan ke polisi. Namun karena dokumen belum lengkap, proses pelaporan dilakukan keesokan harinya.
“Besok paginya kami bersama petugas kelurahan dan Puskesmas menginterogasi pelaku. Awalnya dia mengakui melakukan kekerasan, tapi belum mengakui pelecehan,” kata Komarudin.
Pengakuan pelaku akhirnya terungkap setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak kepolisian. Pelaku disebut mengakui seluruh perbuatannya, termasuk dugaan pelecehan terhadap korban.
Pelaku kemudian dibawa ke Polres Metro Bekasi Kota untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara korban langsung dirujuk ke RSUD Kota Bekasi dan menjalani tindakan operasi.
Dari hasil pemeriksaan medis, korban mengalami luka bakar di bagian dada dan punggung. Selain itu, terdapat luka serius di area kemaluan yang diduga menyebabkan kerusakan saraf.
“Informasi dari rumah sakit, ada luka di bagian kelamin, bahkan sarafnya sampai putus,” ungkap Komarudin.
Saat ini, kondisi korban mulai menunjukkan perbaikan, meski masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Diketahui, pelaku merupakan ayah tiri korban yang baru sekitar tiga bulan tinggal bersama keluarga tersebut. Saat kejadian berlangsung, ibu korban disebut tidak berada di rumah.
“Kalau mau melakukan aksinya, pelaku sering menyuruh istrinya keluar rumah,” tambahnya.
Sempat beredar kabar bahwa pelaku melarikan diri usai kejadian. Hal itu juga dibenarkan oleh pihak lingkungan.
“Dari informasi yang saya dapat, memang pelaku sempat kabur,” ujarnya.
Komarudin berharap kasus ini mendapat perhatian serius dan dikawal hingga tuntas.
“Saya harap pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai perbuatannya,” tegasnya.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyatakan keprihatinannya atas kasus tersebut. Ia menekankan pentingnya penanganan pascakejadian, terutama pemulihan kondisi psikologis korban.
“Kami lebih fokus pada pasca kejadian, bagaimana rehabilitasi psikologis dilakukan. Pendampingan tidak hanya untuk korban, tetapi juga orang tua dan keluarga,” ujarnya.
Terkait pelaku yang sempat melarikan diri, Tri menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.
“Itu menjadi tugas kepolisian untuk mencari dan meminta pertanggungjawaban pelaku,” katanya.
Ia juga menyoroti adanya persoalan sosial yang lebih luas di balik kasus tersebut, seperti kondisi ekonomi dan lingkungan tempat tinggal yang kurang layak.
“Edukasi kepada masyarakat penting, termasuk soal pemisahan ruang tidur dalam satu rumah untuk mencegah kejadian serupa,” tambahnya.
Pemerintah Kota Bekasi, lanjut Tri, akan terus berupaya memberikan pendampingan maksimal bagi korban dan keluarganya.
“Yang paling utama, kami memastikan kondisi psikologis korban dan keluarganya tetap menjadi perhatian dan mendapatkan pendampingan maksimal,” tutupnya. (rez)

12 hours ago
13

















































