Tangis Keluarga Warnai Pencarian Korban Longsor Sampah TPST Bantargebang

5 hours ago 8

Beranda Berita Utama Tangis Keluarga Warnai Pencarian Korban Longsor Sampah TPST Bantargebang

HISTERIS: Fatimah (61), ibu dari Riki Supriadi, tak kuasa menahan tangis saat menunggu kabar anaknya yang menjadi korban longsor di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Senin (9/3). Hingga kini keluarga masih berharap Riki segera ditemukan di tengah proses pencarian yang terus dilakukan tim gabungan. FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tangis keluarga mewarnai pencarian korban longsor di gunungan sampah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi. Di tengah hiruk-pikuk alat berat dan tim penyelamat yang bekerja tanpa henti, harapan keluarga korban masih tetap bertahan meski waktu terus berjalan.

Salah satu korban yang hingga kini belum ditemukan adalah sopir truk sampah, Riki Supriadi, yang akrab disapa Buyung. Ia hilang setelah peristiwa longsor pada Minggu (8/3) dan belum diketahui keberadaannya hingga Senin (9/3).

Ibunya, Fatimah (61), datang langsung dari Bogor ke lokasi TPST Bantargebang untuk mencari kepastian nasib anaknya. Dengan wajah penuh harap, ia menunggu kabar dari tim pencarian yang masih melakukan evakuasi di area longsor.

Fatimah mengungkapkan, anaknya terakhir kali berangkat bekerja pada Sabtu. Namun hingga kini, ia belum juga pulang ke rumah.

“Dari hari Sabtu berangkat kerja sampai sekarang belum pulang,” ujar Fatimah saat ditemui di lokasi, Senin (9/3).

Anaknya diketahui bekerja sebagai sopir di TPST Bantargebang dan telah menekuni pekerjaan tersebut sejak masih bujangan.

Menurut Fatimah, sudah lebih dari 20 tahun anaknya menggantungkan hidup dari pekerjaan itu.

Saat datang ke lokasi, Fatimah mendapat informasi bahwa mobil yang dibawa anaknya sudah ditemukan. Namun sang sopir belum ditemukan hingga saat ini.

“Mobilnya sudah ada, ketutup terpal. Tasnya juga ada, uangnya juga ada, tapi orangnya enggak ada,” tuturnya lirih.

Kabar mengenai longsor itu pertama kali diketahui Fatimah dari keluarganya melalui telepon. Saat itu ia langsung berangkat menuju Bantargebang tanpa menunggu lama.

“Semalam saya tahu dari anak-anak. Adiknya telepon, bilang Buyung kena longsor. Saya langsung berangkat dari Bogor,” katanya.

Sebelum kejadian, Fatimah mengaku sempat berkomunikasi dengan anaknya melalui pesan singkat. Saat itu anaknya hanya memberi tahu nomor telepon baru.

“Dia cuma bilang, ‘Ma ini nomor Buyung yang baru.’ Saya bilang iya nanti Mama simpan. Enggak nyangka setelah itu malah dapat kabar seperti ini,” ujarnya.

BACA JUGA:BNPB Peringatkan Potensi Longsor Susulan di TPST Bantargebang Akibat Cuaca Ekstrem di Jabodetabek

Fatimah juga menyebut, anaknya sempat melakukan panggilan video dengan istrinya saat tiba di lokasi kerja pada Sabtu.

Kini, harapan terbesar Fatimah hanyalah menemukan anaknya, apapun kondisinya.

“Mudah-mudahan ketemu. Kalau bisa selamat. Apapun keadaannya yang penting ketemu,” katanya dengan suara bergetar.

Ia juga mengungkapkan, anaknya meninggalkan lima orang anak yang masih kecil. Bahkan anak bungsunya baru berusia sekitar dua bulan, sementara yang paling besar masih duduk di bangku SMP kelas tiga.

“Ada lima anak. Yang paling kecil baru jalan dua bulan,” kata Fatimah.

Hingga kini tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang diduga tertimbun material longsor di kawasan TPST Bantargebang.

Tragedi ini juga memicu perhatian luas terkait kondisi gunungan sampah yang dinilai sudah melebihi kapasitas dan berpotensi membahayakan para pekerja di lokasi tersebut. (rez)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |