Perang AS-Israel vs Iran, Rupiah dan Saham Babak Belur, Rupiah Tembus Rp17 Ribu

13 hours ago 14

Beranda Ekonomi Perang AS-Israel vs Iran, Rupiah dan Saham Babak Belur, Rupiah Tembus Rp17 Ribu

Ilustrasi uang dolar bersanding dengan uang rupiah. Foto: Dok/JawaPos.com.

RADARBEKASI.ID, BEKASI –  Perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu nilai tukar rupiah babak belur. Pada perdagangan awal pekan ini, mata uang Indonesia itu tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 76 poin atau 0,45 persen menjadi Rp17.001 per dolar AS.

Pasar saham Indonesia juga tercatat anjlok. Pasar modal domestik langsung bergerak di zona merah dengan posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.374, pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026).

Tekanan terhadap pasar saham berlanjut hingga menjelang penutupan sesi pertama. IHSG tercatat berada di posisi 7.334 atau turun 3,31 persen setara 250,9 poin pada pukul 11.19 WIB, yang menandakan pelemahan cukup tajam.

Berdasarkan data RTI Business, pada perdagangan sesi pagi tersebut tercatat ribuan saham bergerak variatif. Sebanyak 7.955 saham menguat, 728 saham mengalami pelemahan, sementara 33 saham lainnya tidak menunjukkan perubahan harga atau stagnan.

Aktivitas transaksi di bursa juga terbilang tinggi. Volume perdagangan tercatat mencapai 28.145 saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp12,772 triliun. Sementara itu, frekuensi transaksi yang terjadi selama sesi tersebut mencapai 1.456.007 kali.

Menanggapi kondisi tersebut, Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dan IHSG dipengaruhi berbagai faktor baik dari dalam negeri maupun dinamika global.

Salah satu faktor yang memicu gejolak pasar, menurutnya, berkaitan dengan perubahan kepemimpinan di Iran yang kini dipimpin oleh Mojtaba Khamenei menggantikan Ayatollah Ali Khamenei.

“Jadi ini sudah ada pergantian kepemimpinan di Iran, yang kita lihat bahwa pemimpin yang baru ini pun juga adalah pemimpin yang fundamentalis Islam,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (9/3/2026) dikutip dari JawaPos.

BACA JUGA: Polisi Pastikan Cacahan Uang Kertas Rupiah Asli di TPS Liar Setu Bekasi

Ia memperkirakan, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi masih memanas dalam beberapa bulan ke depan.

Bahkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menyatakan akan memusnahkan serta mengganti rezim yang saat ini berkuasa di Iran.

Pernyataan tersebut dinilai semakin meningkatkan tensi konflik di kawasan Timur Tengah, yang berpotensi berdampak pada jalur pelayaran strategis dunia, di Selat Hormuz.

Padahal, kawasan Selat Hormuz menjadi lokasi berbagai fasilitas kilang minyak milik sejumlah negara. Di antaranya berasal dari Uni Emirat Arab, Irak, Arab Saudi dan beberapa negara lainnya.

Ketika jalur energi global tersebut terganggu, sejumlah negara produsen minyak tersebut akhirnya mengambil langkah dengan menurunkan kapasitas produksi mereka.

“Mengurangi produksi inilah yang membuat harga minyak mentah dunia, baik yang crude oil maupun Brent, ini pun juga melonjak tinggi. Bahkan saat ini di USD 117 antara crude oil dan Brent crude oil,” jelasnya. (cr1)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |