Beranda Metropolis Kisah M. Khalifah, Bocah Bekasi Peraih Medali Perunggu Olimpiade Matematika di Thailand
M. Khalifah Azka Abqary. FOTO: ISTIMEWA
RADARBEKASI.ID, BEKASI – M. Khalifah Azka Abqary, siswa kelas 1 SDN Jatiasih III , ini tak pernah benar-benar membayangkan namanya akan dipanggil di panggung internasional.
Bocah tujuh tahun asal Kota Bekasi itu mampu mengharumkan nama Indonesia setelah berhasil meraih medali perunggu dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2026 di Bangkok, Thailand.
Anak pertama pasangan Muhammad Fuadi (38) dan Nancy Aurora (34) itu berdiri sejajar dengan peserta dari sekitar 30 negara. Dari kurang lebih 200 peserta Indonesia jenjang kelas I SD, hanya 19 anak yang berhasil membawa pulang medali. Salah satunya adalah Azka.
MEMBANGGAKAN: M. Khalifah Azka Abqary berhasil meraih medali perunggu pada even Final Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2026 di Bangkok, Thailand.
Namun, di balik kilau medali perunggu itu, tersimpan cerita perjuangan yang tidak sederhana.
“Mayoritas biaya kami tanggung pribadi. Alhamdulillah hanya ada sedikit bantuan dari kantor suami. Kami bersyukur masih bisa berangkat, karena tidak semua anak berprestasi punya kesempatan seperti ini,” ujar Nancy Aurora.
Ketertarikan Azka terhadap matematika sudah terlihat sejak usia dini. Sejak berusia tiga tahun, ia gemar menghitung apa pun yang ada di sekelilingnya dari mainan hingga benda-benda kecil di rumah. Angka-angka bukan sekadar pelajaran baginya, melainkan permainan logika yang menyenangkan.
“Aska itu dari kecil memang suka berhitung. Mainan pun dihitung satu-satu. Dari situ saya lihat potensinya dan mulai diarahkan ke matematika,” tutur Nancy.
Konsistensi latihan, keberanian mengikuti berbagai kompetisi, serta pendampingan intens dari keluarga menjadi rutinitas Azka, meski usianya masih sangat belia. Persiapan dilakukan dua arah, mulai dari latihan di rumah bersama orang tua dan pendalaman materi bersama guru les.
Perjalanan ke Thailand sendiri bukan sekadar liburan. Setibanya di Bangkok, Azka langsung menjalani mock test, ujian final, hingga proses penjurian ketat dengan sistem pengawasan tinggi. Orang tua hanya bisa menunggu di luar ruang ujian.
“Area ujian benar-benar steril. Anak-anak masuk sendiri, orang tua menunggu di lobby. Justru kami yang lebih gugup,” kata Nancy sambil tertawa kecil.
Pada malam penganugerahan, kecemasan orang tua memuncak. Nama peserta dipanggil satu per satu, bersaing dengan anak-anak dari Kanada, Brasil, Bulgaria, hingga Hong Kong.
“Kami sempat takut nama Aska tidak dipanggil. Tapi alhamdulillah, saat disebut sebagai peraih medali perunggu, rasanya campur aduk lega, haru, dan bangga,” ujarnya.
Meski membawa nama Kota Bekasi di ajang internasional, perjalanan Azka belum sepenuhnya mendapat dukungan memadai. Minimnya perhatian dan pembiayaan dari pemerintah daerah menjadi kenyataan yang dihadapi keluarga.
“Kami sudah mencoba menghadap sekolah dan dinas pendidikan. Tapi memang tidak mudah. Sekolah negeri punya keterbatasan. Akhirnya kami berangkat dengan kemampuan sendiri,” ungkap Nancy.
Prestasi Azka pun melampaui sekadar medali. Ia menjadi simbol bahwa potensi besar bisa lahir dari ruang kelas sederhana, selama ada konsistensi, keberanian, dan dukungan keluarga.
Ke depan, keluarga berharap ada perhatian lebih bagi anak-anak berprestasi agar tidak berjalan sendiri saat membawa nama bangsa.
“Harapannya Aska tetap konsisten. Kalau nanti ada kesempatan final internasional lagi, semoga ada perhatian. Karena tidak semua anak berprestasi mampu secara biaya,” tutup Nancy.
Dari Kota Bekasi, langkah kecil Azka menjadi pengingat bahwa mimpi besar sering lahir dari perjuangan sunyi dan layak didukung bersama.(rez)

3 hours ago
6
















































