Di Puncak Rahmah

5 hours ago 9

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Matahari Arafah terasa begitu terik ketika saya akhirnya menapakkan kaki di Jabal Rahmah. Jarum termometer siang itu menunjukkan suhu sekitar 45 derajat Celsius. Ya, saat itu sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Panas gurun seolah memantul dari segala arah. Angin yang berhembus tidak membawa kesejukan, melainkan semburan udara hangat yang membuat tenggorokan cepat kering.

Kesempatan mengunjungi bukit bersejarah itu baru datang lima hari setelah puncak wukuf. Saat 9 Dzulhijah, saya tidak sempat mendatanginya. Selain jaraknya cukup jauh dari tenda pemondokan, kawasan Jabal Rahmah juga dipadati jutaan jamaah yang sedang menjalani puncak ibadah haji di Padang Arafah.

Dari kejauhan, Jabal Rahmah tampak sederhana. Tingginya hanya sekitar 70 meter. Tidak menjulang seperti gunung-gunung besar yang sering menjadi tujuan wisata. Namun, bukit kecil inilah yang menyimpan kisah besar tentang kasih sayang, pengampunan, dan harapan umat manusia.

Menurut riwayat yang dikenal luas di kalangan umat Islam, tempat ini dipercaya sebagai lokasi pertemuan kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah keduanya dipisahkan ketika diturunkan ke bumi. Karena itulah Jabal Rahmah dikenal sebagai Bukit Kasih Sayang.

Begitu memasuki kawasan pelataran bukit, saya langsung disambut pemandangan yang menarik. Beragam manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul di satu tempat. Ada yang berasal dari Asia, Afrika, Eropa hingga Amerika. Berbagai warna kulit, bahasa, dan budaya berpadu menjadi satu dalam ikatan keimanan yang sama.

Semprotan air yang dipasang di sejumlah titik pelataran membantu menurunkan suhu udara yang menyengat. Meski begitu, peluh tetap membasahi wajah para pengunjung yang terus berdatangan.

Sebagian jamaah duduk khusyuk memanjatkan doa. Sebagian lainnya mengabadikan momen dengan telepon genggam. Ada yang berswafoto bersama keluarga, ada pula yang meminta bantuan orang lain untuk mengambil gambar dengan latar tugu putih yang berdiri di puncak bukit.

Dari bawah, saya melihat arus manusia yang terus bergerak naik dan turun. Pemandangan seperti ini tampaknya menjadi wajah khas Jabal Rahmah pada setiap musim haji.

Di sekitar kawasan bukit, para pedagang menggelar dagangan mereka. Tasbih, kopiah, sajadah, pakaian, hingga berbagai souvenir khas Tanah Suci ditawarkan kepada para pengunjung. Dari logat bahasa dan warna kulit mereka, sebagian besar pedagang tampak berasal dari negara-negara Afrika.

Perjalanan menuju puncak dimulai melalui jalur tangga yang telah disediakan. Karena penasaran, saya mencoba menghitung jumlah anak tangga yang harus dilalui. Hasilnya sekitar 160 anak tangga atau kurang lebih 250 langkah kaki.

Tangga tersebut dibagi dalam beberapa level sehingga pengunjung dapat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Namun, tidak sedikit jamaah yang memilih jalur berbatu di sisi bukit. Mereka melompat dari satu batu ke batu lainnya untuk mencapai puncak dengan cara yang lebih menantang.

Setelah beberapa menit mendaki, saya akhirnya tiba di atas.

Di puncak Jabal Rahmah berdiri sebuah tugu beton berwarna putih setinggi sekitar delapan meter dengan lebar hampir dua meter. Monumen sederhana itu menjadi ikon bukit sekaligus penanda lokasi yang diyakini sebagai tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa.

Di sekeliling tugu, banyak jamaah duduk sambil menengadahkan tangan. Mereka larut dalam doa-doa panjang yang dipanjatkan dengan penuh harapan.

“Saya sudah lama ingin datang ke sini. Bukan untuk mencari berkah dari batunya, tetapi untuk mengingat kasih sayang Allah kepada hamba-Nya,” ujar Muhisa, jamaah asal Bekasi yang satu rombongan dengan saya.

Namun, keindahan tugu itu sedikit terusik oleh coretan-coretan yang memenuhi bagian bawahnya. Tulisan Arab, Latin, hingga nama-nama khas Indonesia terlihat jelas di beberapa sisi monumen.

Para askar tampak berjaga untuk mencegah pengunjung mencoret tugu. Meski demikian, beberapa batu di sekitar bukit masih ditemukan bertuliskan nama dan simbol hati.

Fenomena itu membuat saya tersenyum kecil. Sejak dahulu hingga sekarang, kisah cinta memang selalu memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan manusia. Mungkin karena itulah Jabal Rahmah tak pernah sepi dari cerita dan harapan.

Dari puncak bukit saya memandang jauh ke arah Makkah. Samar-samar Menara Zamzam terlihat di balik kabut panas dan awan tipis. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari tempat saya berdiri.

Saya pun mengabadikan momen tersebut melalui beberapa foto. Bukan sekadar dokumentasi perjalanan, melainkan kenangan bahwa saya pernah berdiri di salah satu tempat yang memiliki jejak penting dalam sejarah umat manusia.

Di tengah kekaguman itu, saya juga menemukan pemandangan yang cukup memprihatinkan. Botol-botol minuman bekas berserakan di sela-sela bebatuan. Sampah terlihat di beberapa sudut bukit.

Padahal, di sepanjang jalan menuju lokasi, petugas kebersihan terlihat berjaga dengan kantong-kantong sampah besar.

Terlepas dari persoalan tersebut, Jabal Rahmah tetap menyimpan pesan yang begitu kuat. Bukit ini menjadi simbol pertemuan, pengampunan, dan kasih sayang. Ia mengingatkan manusia tentang perjalanan hidup yang penuh ujian, harapan, dan pertobatan.

Menjelang turun dari bukit, saya menoleh sekali lagi ke arah tugu putih yang berdiri tegak di puncaknya. Di tengah panas gurun dan lalu lalang manusia dari seluruh dunia, Jabal Rahmah seolah terus menyampaikan pesan yang sama sejak ribuan tahun lalu: bahwa kasih sayang dan pengampunan adalah dua hal yang membuat manusia tetap memiliki harapan.(*)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |