135.996 Warga Bekasi Antre Haji, Kuota Tambahan 2026 Harus Dimaksimalkan

5 days ago 20

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Persiapan penyelenggaraan haji 2026 di wilayah Bekasi memasuki fase krusial. Kuota besar yang diberikan pemerintah tahun ini menjadi peluang emas untuk memangkas masa tunggu yang selama bertahun-tahun menjadi kegelisahan para calon jemaah.

Dengan jumlah pendaftar yang telah menembus ratusan ribu, setiap tahapan persiapan dimaksimalkan agar tidak ada satu kursi pun yang terbuang.

Mulai awal pekan ini, calon jemaah haji (CJH) asal Bekasi yang masuk daftar keberangkatan 2026 sudah dapat melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BIPIH). Momentum tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang yang telah dinanti banyak jemaah—sebagian bahkan mengaku mendaftar sejak anak-anak mereka masih kecil.

Jawa Barat kembali menjadi salah satu provinsi dengan antrean haji terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj), Jawa Barat menempati posisi ketiga pendaftar terbanyak setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan total 794 ribu jemaah.

Di wilayah Bekasi, waiting list atau daftar tunggu mencapai 135.996 jemaah, terdiri dari 64.775 jemaah Kabupaten Bekasi dan 71.221 jemaah Kota Bekasi. Besarnya jumlah antrean inilah yang membuat kuota tambahan tahun 2026 harus dimanfaatkan tanpa menyisakan kursi kosong.

Menteri Haji dan Umroh (Menhaj) RI, Mochammad Irfan Yusuf, menegaskan pelunasan tahap pertama wajib dilakukan tepat waktu agar tahapan berikutnya berjalan lancar.

“Pelunasan tahap pertama dimulai hari ini hingga 23 Desember 2025 di bank-bank penerima setoran. Kami berharap jemaah mematuhi jadwal dan ketentuan yang telah ditetapkan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (24/11).

Besaran BIPIH tahun 2026 diatur melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 34 Tahun 2025. Untuk jemaah reguler Kota Bekasi, biaya ditetapkan Rp58.542.722 dengan keberangkatan melalui Embarkasi Jakarta–Bekasi (JKS). Sementara jemaah Kabupaten Bekasi dikenakan biaya Rp58.559.022 dan berangkat melalui Embarkasi Kertajati (KJT). Biaya tersebut tercatat turun dibanding tahun sebelumnya, masing-masing sebesar Rp316.749 untuk KJT dan Rp333.029 untuk JKS.

Bagi para jemaah, nilai BIPIH yang sedikit lebih ringan menjadi angin segar. Namun begitu, fokus utama para pemangku kebijakan tetap pada percepatan pelunasan dan validasi nama jemaah yang berhak berangkat.

Tahun 2026, Bekasi memperoleh kuota lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sistem alokasi kuota berbasis daftar tunggu bertujuan memangkas masa tunggu yang selama ini rata-rata mencapai 30 tahun.

Upaya penyisiran jemaah pun digencarkan. Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, dalam apel pagi di lingkungan Pemkot menegaskan bahwa kuota tambahan harus dimaksimalkan.

“Alhamdulillah Kota Bekasi mendapatkan tambahan kuota untuk memajukan waiting list,” katanya.

Jajaran aparatur pemerintah kecamatan dan kelurahan kini bergerak menyisir nama calon jemaah haji berdasarkan alamat domosili. Langkah ini menjadi penting sebab tidak sedikit jemaah sulit dihubungi, misalnya karena nomor telepon tidak aktif atau berpindah tempat tinggal. Harris menyebut para lurah bahkan turun langsung dari pintu ke pintu.

“Pak lurah jalan-jalan untuk mengetuk pintu ke pintu memastikan bahwa mereka harus segera siap untuk berangkat pada tahun 2026,” ungkapnya.

Kabupaten/kota Bekasi telah mendistribusikan daftar nama CJH ke camat dan lurah demi mengantisipasi jemaah yang tertinggal menerima informasi. Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Bekasi, Agus Harpa Senjaya, mengatakan penyisiran sejauh ini berjalan mulus.

“Alhamdulillah untuk sekarang belum ada kendala, mudah-mudahan bisa maksimal karena sayang kalau kuota haji Kota Bekasi tidak maksimal,” ujarnya.

Untuk Kota Bekasi, total kuota haji 2026 mencapai 4.925 jemaah termasuk kuota lansia sebanyak 77 orang. Sinergi pemerintah kota dengan Kementerian Agama (Kemenag) serta sejumlah lembaga teknis terus dipererat. Persiapan dilakukan bersama Kantor Imigrasi untuk pembuatan paspor, dan Dinas Kesehatan Kota Bekasi untuk pemeriksaan kesehatan. Pergerakan persiapan pun terlihat signifikan.

Plt Kasi Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kemenag Kota Bekasi, Endang Saefudin, melaporkan peningkatan jumlah jemaah yang telah menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Pergerakan ini kami bisa lihat, di RS pada tanggal 19 sudah 2.200. InsyaAllah sekarang ini sudah mencapai 3 ribuan lebih,” jelasnya.

Selain itu, jemaah yang mengurus paspor dan penyerahan Bio Visa dari seluruh KBIHU telah terdata lebih dari 3.000 jemaah, ditambah jemaah non-KBIHU sebanyak 469 orang. Endang optimis seluruh proses akan rampung tepat waktu.

“Saya optimis kuota haji tahun 2026 akan tercapai,” tegasnya.

Sementara itu di Kabupaten Bekasi, upaya percepatan juga menunjukkan hasil. Kasi Kemenag Kabupaten Bekasi, Mulyono Hilman, mengatakan kuota haji 2026 meningkat signifikan dari 2.100 menjadi 3.500 jemaah. Tambahan ini mampu memangkas masa tunggu dari sekitar 30 tahun menjadi 26,4 tahun selaras dengan rata-rata nasional.

“Dulu harus menunggu 30 tahun, sekarang diseragamkan jadi sekitar 26,4 tahun. Karena itu ada penyesuaian kuota,” ujarnya.

Jemaah yang namanya telah ditetapkan dapat langsung melakukan pelunasan sejak November. Adapun keberangkatan kloter pertama diperkirakan dimulai 20 April 2026, dengan kemungkinan keberangkatan lanjutan pada 22 April.

Dengan tren kesiapan yang terus meningkat, masyarakat Bekasi kini menyimpan harapan besar. Setelah bertahun-tahun menunggu, rindu untuk menjejak Tanah Suci akhirnya semakin dekat. Bagi ribuan calon jemaah yang sudah mulai mempersiapkan mental dan fisik, setiap langkah administratif menuju pelunasan seolah terasa sebagai langkah menuju satu kalimat penuh haru: InsyaAllah, 2026 berangkat ke Baitullah.(pra/sur)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |