Beranda Berita Utama Truk Sampah Pemprov Jakarta Mengular Menuju TPST Bantargebang
ANTRE: Ratusan truk sampah mengular panjang saat menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Kamis (12/3). Antrean terjadi akibat pembatasan jumlah kendaraan yang masuk ke area pembuangan pascainsiden longsor gunungan sampah, belum lama ini. FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Deretan truk pengangkut sampah milik Pemerintah Provinsi Jakarta mengular panjang di Jalan Raya Narogong menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, seharian, Kamis (12/3).
Antrean bahkan disebut mencapai sekitar lima kilometer dan berdampak pada aktivitas warga di sekitar kawasan tersebut.
Salah satu sopir truk sampah, Syaifudin, mengatakan antrean terjadi karena jumlah kendaraan yang diperbolehkan masuk ke area TPST kini dibatasi.
“Sekarang dibatasi cuma 600 unit. Dibagi tiga shift, masing-masing sekitar 200 truk,” kata Syaifudin saat ditemui di jalur antrean menuju TPST Bantargebang, Kamis (12/3).
Menurutnya, sebelum pembatasan diterapkan, jumlah truk yang masuk dalam satu shift bisa mencapai sekitar 300 unit.
Pembatasan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi setelah insiden longsor gunungan sampah yang terjadi beberapa waktu lalu hingga menelan tujuh korban jiwa.
Akibatnya, truk-truk pengangkut sampah harus menunggu lebih lama untuk bisa masuk ke area pembuangan.
“Kalau dari sini ke dalam itu sekitar dua kilometer, tapi antreannya bisa sampai lima kilometer,” ujarnya.
Syaifudin mengaku dirinya berangkat dari wilayah Kelapa Gading sekitar pukul 11 siang. Namun sejak memasuki kawasan Cipendawa, truk yang dikemudikannya sudah terjebak antrean panjang.
Meski harus menunggu berjam-jam, ia tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, termasuk saat menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.
“Kasihan kalau yang puasa, kayak saya ini, mau sholat gak bisa, Jadi ya sambil nunggu saja di sini,” katanya.
Antrean panjang truk sampah tersebut tidak hanya dirasakan para sopir, tetapi juga warga yang tinggal di sekitar jalur menuju TPST Bantargebang.
Supri (46), warga setempat, mengaku kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas masyarakat, terutama karena bau menyengat dari truk-truk sampah yang terjebak macet di jalan.
“Warga jelas terganggu. Kalau macet begini baunya bikin pusing, kayak mabok,” kata Supri.
Ia mengatakan bau sampah yang menyengat bahkan membuat sebagian warga yang sedang menjalani ibadah puasa tidak kuat menahannya.
“Yang puasa juga banyak yang nggak kuat. Baunya parah sampai ada yang muntah-muntah,” ujarnya.
Menurut Supri, kemacetan panjang baru terasa sangat parah dalam beberapa waktu terakhir. Meski sebelumnya antrean truk juga kerap terjadi, namun tidak sepanjang sekarang.
“Sekarang mah parah banget. Macetnya sampai Pasar Bantargebang,” katanya.
Ia memperkirakan panjang antrean kendaraan bisa mencapai sekitar lima kilometer dan bahkan berdampak pada arus lalu lintas di wilayah sekitar.
“Bantargebang macet, Cileungsi juga macet, gara-gara truk nggak bisa buang sampah ke sini,” ucapnya. (rez)

7 hours ago
13

















































