Beranda Cikarang Tari Ujungan Bekasi Diperkenalkan ke Tingkat Nasional
TAMPIL ENERGIK: Penari memeragakan tarian Ujungan Bekasi dalam ajang Festival Lima Gunung XXV di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Pakis, Magelang, Sabtu (11/7) malam. FOTO: ISTIMEWA
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tari Ujungan mulai menapaki panggung nasional. Baru sepekan lebih ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan, seni tradisional asal Kabupaten Bekasi itu tampil perdana di Festival Lima Gunung (FLG) XXV di Magelang, Sabtu (11/7) malam.
Sebanyak 10 penari dari Sanggar Seni Kusuma, Tarumajaya, membawakan Tari Ujungan selama 4 menit 50 detik di hadapan ratusan penonton, yang terdiri atas seniman, budayawan, dan masyarakat dari berbagai daerah.
Penata Tari Ujungan Bekasi, Eyang Anjar Purwani, mengatakan persiapan pementasan telah dilakukan sejak 20 Juni 2026. Menurutnya, keikutsertaan dalam FLG XXV menjadi upaya memperkenalkan Tari Ujungan ke tingkat nasional.
“Tujuan utama kami adalah memperkenalkan Tari Ujungan ke tingkat nasional agar semakin dikenal sebagai salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Bekasi,” ujar Eyang, Selasa (14/7).
Menurutnya, pementasan tersebut lahir dari kolaborasi sejumlah pegiat budaya di Bekasi dan seluruh prosesnya dibiayai secara mandiri. Gerak tari diadaptasi dari jurus garapan Babah Rais dari Padepokan Pencak Silat Ki Sayan.
Gagasan pementasan diinisiasi Ketua Padepokan Seni dan Budaya Bekasi (Pangsi), Drahim Sada, sementara aransemen musik digarap Sanggar Seni Betawi Margasari Kacrit dengan dukungan Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Bekasi.
“Semua berangkat dengan biaya mandiri. Ini menjadi bentuk komitmen kami dalam melestarikan sekaligus memperkenalkan budaya Bekasi kepada masyarakat yang lebih luas,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Bekasi, Iman Nugraha, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan strategi jangka panjang untuk menjaga warisan budaya tersebut.
Saat ini, pihaknya tengah menyusun rencana aksi perlindungan yang berfokus pada peningkatan kapasitas sanggar seni, digitalisasi dokumentasi sejarah, serta penyediaan panggung pertunjukan yang lebih representatif bagi para seniman lokal.
“Di sektor pendidikan, pemerintah juga mendorong agar Ujungan diperkenalkan kepada generasi muda melalui muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler, serta workshop bersama para maestro. Langkah ini dinilai penting agar transfer pengetahuan berlangsung secara berkesinambungan,” ujar Iman.
Selain pada aspek edukasi, Tari Ujungan Bekasi juga diproyeksikan menjadi ikon pariwisata budaya Kabupaten Bekasi. Tradisi ini akan dimasukkan ke dalam kalender agenda pariwisata melalui festival budaya maupun pementasan rutin, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Dengan strategi tersebut, Ujungan diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu menarik wisatawan sekaligus memperkuat jati diri daerah.
“Masyarakat harus bangga terhadap budayanya sendiri. Menonton pertunjukan, mendukung sanggar, mempromosikan melalui media sosial, hingga mengenalkan kepada anak-anak merupakan bagian dari upaya menjaga agar Ujungan tetap hidup,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Festival Lima Gunung (FLG) XXV digagas oleh Komunitas Lima Gunung (KLG) dan telah diselenggarakan selama 25 tahun. FLG menjadi wadah tahunan bagi jaringan seniman-petani yang bermukim di kawasan lereng Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.
Pada penyelenggaraan ke-25 yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026, festival ini mempertemukan 85 kelompok seni dengan total 1.274 seniman lintas disiplin. Beragam pertunjukan ditampilkan, mulai dari pembacaan puisi, kirab budaya, pertunjukan musik, hingga seni tari tradisional, termasuk Tari Ujungan Bekasi. (ris)

4 hours ago
9







































