Putra Tokoh Proklamasi Sayuti Melik Jalani Hari Tua di Kota Bekasi di Tengah Keterbatasan

4 hours ago 6

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ada ironi yang tak banyak diketahui publik. Delapan puluh tahun setelah Republik Indonesia diproklamasikan, putra salah satu tokoh yang ikut melahirkan naskah kemerdekaan justru menjalani hari-harinya di sebuah rumah kontrakan sederhana di sudut Kota Bekasi.

Pagi itu, rumah kontrakan dua petak di Jalan Cipendawa Baru, Bojong Menteng, Rawalumbu, tampak lengang. Dindingnya kusam. Lantainya hanya dialasi sebuah kasur tipis. Beberapa koper masih tertutup rapi di sudut ruangan, seolah belum benar-benar menemukan tempat untuk menetap. Sebuah kipas angin berputar pelan, mengusir hawa panas yang masuk dari pintu depan.

Sulit membayangkan, rumah berukuran tak lebih dari beberapa meter persegi itu kini menjadi tempat Heru Baskoro menghabiskan masa tuanya.

Usianya 84 tahun. Rambutnya telah memutih seluruhnya. Mata kanannya tak lagi dapat melihat, sementara mata kiri hanya menyisakan sedikit penglihatan. Diabetes yang dideritanya selama bertahun-tahun perlahan menggerus kondisi fisik, bahkan mulai memengaruhi daya ingatnya.

Namun Heru bukanlah sosok biasa. Ia adalah putra Sayuti Melik, tokoh yang mengoreksi sekaligus mengetik ulang naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Meski penglihatannya nyaris hilang, ingatan Heru tentang sang ayah masih tersimpan utuh.

Begitu nama Sayuti Melik disebut, raut wajahnya berubah. Suaranya memang pelan, tetapi setiap kalimat yang keluar terasa begitu jelas.

“Ayah saya orang yang sangat disiplin. Beliau selalu mengajarkan agar kami menaati aturan,” ucapnya kepada Radar Bekasi.

Di mata Heru, Sayuti Melik bukan hanya tokoh bangsa yang dikenang dalam buku sejarah. Di rumah, ia adalah ayah yang sederhana, tegas, tetapi hangat.

Salah satu kenangan yang paling membekas adalah kebiasaan sang ayah bermain catur.

“Ayah suka sekali main catur. Saya belajar main catur dari beliau,” kenangnya sambil tersenyum tipis.

Padahal, perjalanan hidup Heru pernah berada di titik yang jauh berbeda. Bersama istrinya, Treyzia Noviani (65)—cucu pahlawan nasional KH Agus Salim—ia pernah menetap di Amerika Serikat, sebelum kemudian pindah ke Kanada pada akhir 1990-an.

Saat itu kehidupan mereka tergolong mapan. Heru pernah bekerja di sebuah perusahaan minyak di Texas, Amerika Serikat. Sebelumnya, ia juga dipercaya menjabat Direktur Keuangan di Trans Bakrie.

Namun hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Gangguan penglihatan mulai menyerang. Demi mempertahankan harapan bisa melihat kembali, Heru berkali-kali bolak-balik Kanada dan Indonesia untuk menjalani pengobatan.

Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.Tabungan habis. Rumah dijual. Operasi demi operasi dijalani dengan biaya sendiri. Bahkan transplantasi kornea pun belum mampu mengembalikan penglihatannya.

Kini, satu-satunya harapan adalah operasi lanjutan menggunakan teknologi kornea buatan yang hanya tersedia di Kanada, Amerika Serikat, atau Jerman. Biayanya jauh di luar kemampuan mereka.

“Semua pakai uang sendiri. Kami bahkan sudah jual rumah,” kata Treyzia.

Sejak kembali ke Indonesia pada 2024, pasangan lansia itu beberapa kali berpindah tempat tinggal hingga akhirnya menyewa kontrakan sederhana di Rawalumbu.

Dengan biaya sewa Rp560 ribu per bulan, mereka bertahan dari bantuan kerabat dan sahabat.

Tetangga mereka, Maria Ulfah, menjadi salah satu saksi bagaimana pasangan itu menjalani hari-hari.

“Kalau keluar paling minta makan atau ke ATM. Selebihnya di rumah terus,” katanya.

Sebagai pedagang makanan, Maria kerap mengirimkan lauk untuk mereka.

“Makannya sederhana. Paling telur sama kecap. Kadang ayam semur,” ujarnya.

Namun, di balik kesederhanaan itu, Maria melihat sesuatu yang berbeda.

“Kelihatan beliau orang yang berpendidikan dan pernah hidup berkecukupan,” tuturnya.

Kondisi Heru akhirnya diketahui Pemerintah Kota Bekasi pada 11 Juli lalu. Saat mengunjungi kontrakan tersebut, Lurah Bojong Menteng Kodriana mengaku terenyuh.

“Menurut saya tinggal di kontrakan seperti ini cukup miris. Awalnya mereka hanya tidur di atas karpet. Kami bersama Pak RW kemudian membelikan kipas angin karena cuacanya panas, sekaligus memberikan kasur agar mereka bisa beristirahat lebih layak,” ujarnya.

Tak lama kemudian, Kementerian Sosial turut turun tangan. Heru dan Treyzia dipindahkan ke Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi Timur untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, asesmen, serta pemenuhan kebutuhan dasar.

Pemerintah berharap kondisi kesehatan Heru dapat dipantau lebih baik, termasuk membuka peluang melanjutkan pengobatan yang selama ini tertunda. Di tengah tubuh yang semakin renta, harapan Heru ternyata sangat sederhana. Ia tak lagi berbicara tentang jabatan, harta, ataupun masa lalu.

“Saya ingin sehat kembali dan tetap bisa membantu sesama manusia,” ucapnya.

Sebelum perbincangan usai, Heru menitipkan satu pesan yang diwariskan ayahnya puluhan tahun silam.

“Jangan melupakan sejarah. Hiduplah disiplin, taati aturan, karena sekarang kita sudah menjadi bangsa yang merdeka.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di rumah kontrakan kecil itu, pesan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar. (rez)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |