RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Tidak semua orang memiliki tingkat kesabaran yang sama, ada yang tetap tenang menghadapi persoalan kecil, tetapi ada pula yang langsung menunjukkan kemarahan meski pemicunya sederhana. Kondisi tersebut bahkan dapat membuat percakapan sehari-hari berubah menjadi pertengkaran.
Dalam kondisi tertentu, orang-orang di sekitarnya bahkan bisa merasa harus berhati-hati ketika berbicara agar tidak memicu kemarahan. Akibatnya, orang tersebut mungkin dengan mudah dicap sebagai pribadi yang pemarah atau memiliki temperamen buruk.
Namun, kemarahan sebenarnya merupakan emosi yang wajar dan dapat dirasakan siapa saja. Persoalan muncul ketika seseorang terlalu sering marah, sangat mudah terpancing, atau menunjukkan reaksi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan masalah yang sedang dihadapi.
Dalam psikologi, kemarahan juga tidak selalu berdiri sendiri. Emosi tersebut dapat berkaitan dengan rasa kecewa, frustrasi, takut, merasa terancam, tidak dihargai, kelelahan, hingga perasaan kehilangan kendali.
Lantas, mengapa ada orang yang tampaknya lebih mudah marah dibandingkan orang lain?
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), terdapat sejumlah kemungkinan yang dapat membantu memahami perilaku tersebut.
1. Memiliki toleransi frustrasi yang rendah
Setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan. Kondisi ketika seseorang menemui hambatan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dapat memunculkan frustrasi.
Sebagai contoh, seseorang mungkin ingin menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna tetapi terus menemukan kendala. Ada pula orang yang merasa kesal karena pendapatnya tidak didengarkan atau kecewa ketika rencana yang sudah dibuat tiba-tiba berubah.
Sebagian orang mampu menerima situasi tersebut dengan relatif tenang. Mereka mungkin merasa terganggu, tetapi masih dapat mengendalikan responsnya.
Sebaliknya, orang dengan toleransi frustrasi yang lebih rendah dapat merasakan gangguan kecil sebagai persoalan yang jauh lebih besar. Ketika rasa frustrasi meningkat, kemarahan pun bisa muncul dengan cepat.
Kondisi ini dapat menjelaskan mengapa seseorang sangat mudah tersulut ketika menghadapi antrean panjang, kesalahan kecil orang lain, perubahan rencana, atau keadaan yang tidak berjalan sesuai keinginannya.
Meski begitu, toleransi terhadap frustrasi bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak dapat berubah. Seseorang dapat belajar mengenali pemicu emosinya, mengatur ekspektasi, memberikan jeda sebelum bereaksi, dan menggunakan strategi regulasi emosi yang lebih sehat.
2. Kemarahan digunakan untuk mendapatkan kembali kendali
Kemarahan juga dapat muncul ketika seseorang merasa kehilangan kontrol terhadap situasi.
Orang yang terbiasa mengatur berbagai hal sesuai keinginannya mungkin mengalami ketidaknyamanan ketika rencana berubah, orang lain menolak keinginannya, atau suatu keadaan berlangsung di luar kendalinya.
Dalam kondisi tertentu, kemarahan dapat memberikan perasaan seolah-olah seseorang kembali memiliki kekuatan. Misalnya, ketika seseorang meninggikan suara atau menunjukkan sikap agresif, orang lain akhirnya memilih mengalah.
Jika pola tersebut berulang, muncul hubungan yang sederhana: seseorang marah, orang lain mengalah, kemudian keinginannya terpenuhi. Tanpa disadari, kemarahan akhirnya dianggap sebagai cara yang efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Baca Juga: Tak Perlu Treatment Mahal, Ini 5 Cara Sederhana agar Wajah Tampak Lebih Simetris
Namun, hal ini tidak berarti setiap orang yang mudah marah sengaja memanipulasi orang lain. Pola tersebut dapat terbentuk secara tidak sadar dan menjadi respons yang sudah terbiasa digunakan ketika seseorang merasa tidak berdaya.
Karena itu, penting untuk melihat emosi yang berada di balik kemarahan. Bisa jadi seseorang sebenarnya sedang merasa takut, tidak aman, tidak dihargai, atau kehilangan kendali.
3. Mengalami kesulitan dalam mengatur emosi
Kemampuan mengelola emosi atau regulasi emosi berperan penting dalam menentukan bagaimana seseorang merespons situasi yang membuatnya kesal.
Orang dengan regulasi emosi yang baik bukan berarti tidak pernah marah. Mereka tetap dapat merasakan kecewa, frustrasi, maupun kesal. Perbedaannya terletak pada kemampuan mengendalikan tindakan setelah emosi tersebut muncul.
Seseorang mungkin merasa sangat marah, tetapi memilih berhenti sejenak sebelum berbicara. Sementara itu, orang yang kesulitan mengatur emosi bisa langsung bereaksi tanpa memberikan waktu untuk mempertimbangkan dampak tindakannya.
Contohnya, komentar sederhana dari pasangan dapat ditafsirkan sebagai bentuk kritik atau penolakan sehingga memicu kemarahan yang lebih besar. Setelah emosinya mereda, orang tersebut mungkin menyadari bahwa respons yang diberikan sebenarnya terlalu berlebihan.
Kemampuan mengatur emosi dapat dipengaruhi berbagai hal, mulai dari pengalaman hidup, pola yang dipelajari sejak kecil, kebiasaan, tingkat stres, lingkungan, hingga kondisi psikologis seseorang.
Kabar baiknya, regulasi emosi dapat dilatih. Mengenali tanda-tanda tubuh ketika mulai marah, mengambil jeda sebelum merespons, memahami pikiran yang memicu emosi, serta belajar berkomunikasi secara lebih sehat dapat membantu seseorang mengendalikan reaksinya.
4. Sering merasa tidak dihargai atau tidak didengarkan
Kemarahan yang terlihat di permukaan terkadang berkaitan dengan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Seseorang yang berulang kali merasa diabaikan, diremehkan, atau tidak dihargai dapat menjadi lebih sensitif terhadap situasi yang dianggap sebagai bentuk penolakan atau penghinaan.
Misalnya, seseorang berkali-kali mencoba menyampaikan pendapat tetapi terus dipotong oleh orang lain. Pada awalnya, ia mungkin hanya merasa kesal. Namun, jika pengalaman tersebut terus berulang, kekecewaan dapat menumpuk.
Akibatnya, kejadian kecil di kemudian hari dapat memicu ledakan emosi yang lebih besar.
Dalam situasi seperti ini, kejadian terakhir belum tentu menjadi satu-satunya penyebab kemarahan. Peristiwa tersebut bisa saja menjadi pemicu dari berbagai kekecewaan yang sudah lama tersimpan.
Karena itu, penting membedakan antara pemicu dan akar persoalan. Pemicu adalah kejadian yang baru saja terjadi, sedangkan akar masalah dapat berupa pengalaman berulang yang membuat seseorang merasa tidak dihargai, tidak aman, tidak didengarkan, atau tidak memiliki kendali.
Meski demikian, merasa tidak dihargai tetap tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan tindakan agresif atau menyakiti orang lain. Seseorang tetap bertanggung jawab terhadap cara dirinya mengekspresikan emosi.
5. Stres dan kelelahan membuat seseorang lebih mudah bereaksi
Kondisi seseorang sebelum menghadapi suatu masalah juga dapat memengaruhi respons emosionalnya.
Stres berkepanjangan, kurang tidur, kelelahan, tekanan pekerjaan, persoalan finansial, konflik hubungan, hingga banyaknya tuntutan hidup dapat mengurangi kemampuan seseorang dalam menghadapi gangguan kecil.
Hal yang biasanya dapat diabaikan pun bisa terasa jauh lebih mengganggu ketika seseorang sedang berada dalam kondisi kelelahan secara fisik maupun emosional.
Kondisi ini dapat dianalogikan seperti baterai. Ketika kapasitas energi seseorang masih penuh, gangguan kecil mungkin tidak terlalu memengaruhinya. Namun, ketika kondisi mental sudah terkuras, persoalan sederhana sekalipun dapat terasa jauh lebih berat.
Itulah sebabnya seseorang yang biasanya tenang dapat menjadi lebih mudah marah pada periode tertentu dalam hidupnya.
Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya, “Mengapa dia menjadi pemarah?” tetapi juga, “Apa yang sedang membebani dirinya?”
Meski demikian, memahami penyebab kemarahan tidak berarti membenarkan perilaku yang merugikan orang lain. Stres dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang lebih reaktif, tetapi bukan alasan untuk melakukan kekerasan maupun tindakan abusif.
6. Belajar bahwa kemarahan merupakan cara berkomunikasi
Cara seseorang mengekspresikan kemarahan juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia tumbuh.
Sejak kecil, seseorang belajar dengan mengamati perilaku orang-orang di sekitarnya. Jika seorang anak terbiasa melihat konflik diselesaikan melalui teriakan, ancaman, atau ledakan emosi, ia dapat menganggap pola tersebut sebagai cara yang normal untuk menghadapi masalah.
Pola tersebut kemudian berpotensi terbawa hingga dewasa, baik dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, maupun hubungan romantis.
Seseorang mungkin tidak pernah secara sadar memutuskan untuk menjadi pribadi yang mudah marah. Ia hanya mengulangi cara menghadapi konflik yang sudah familiar baginya.
Misalnya, seseorang dapat belajar bahwa berbicara dengan suara keras adalah cara agar didengarkan, melawan ketika tidak disetujui merupakan hal wajar, atau membalas ketika tersinggung adalah bentuk mempertahankan diri.
Selain keluarga, pengalaman sosial juga dapat membentuk kebiasaan tersebut. Apabila seseorang pernah mendapatkan apa yang diinginkannya setelah marah, perilaku itu bisa semakin diperkuat.
Dengan demikian, cara seseorang mengekspresikan kemarahan tidak selalu merupakan sesuatu yang muncul secara spontan. Sebagian pola tersebut dapat terbentuk melalui proses belajar.
Kabar baiknya, sesuatu yang dipelajari juga dapat diubah dan dipelajari kembali dengan cara yang lebih sehat.
Baca Juga: 4 Ciri Teman Palsu atau Fake Friend Menurut Psikologi, Wajib Diwaspadai
Kemarahan Tidak Selalu Menjadi Satu-Satunya Emosi
Apakah seseorang yang mudah marah sebenarnya sedang menyembunyikan emosi lain?
Jawabannya tidak selalu demikian. Kemarahan merupakan emosi yang nyata dan wajar. Seseorang memang dapat merasa marah karena menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Namun, dalam sejumlah kondisi, kemarahan dapat muncul bersamaan dengan emosi lain. Di baliknya mungkin terdapat rasa kecewa, takut, malu, sedih, frustrasi, tidak berdaya, tidak dihargai, atau kehilangan kendali.
Karena kemarahan terasa lebih kuat, sebagian orang mungkin lebih mudah mengenali emosi tersebut dibandingkan perasaan yang menjadi penyebabnya.
Mengatakan “Saya marah” terkadang terasa lebih mudah daripada mengakui bahwa sebenarnya dirinya sedang merasa ditolak atau tidak dianggap penting.
Karena itu, memahami kemarahan dapat dimulai dengan pertanyaan yang lebih mendalam, seperti, “Apa yang saya rasakan sebelum marah?” atau “Apa yang sebenarnya saya butuhkan dalam situasi ini?”
Pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang mengenali pola emosinya dan memahami alasan di balik respons yang muncul.
Marah Bukan Masalah, Cara Mengelolanya yang Penting
Kemarahan tidak seharusnya selalu dipandang sebagai emosi negatif. Dalam kondisi tertentu, kemarahan dapat menjadi sinyal bahwa seseorang merasa batas pribadinya dilanggar, mengalami ketidakadilan, menghadapi masalah, atau membutuhkan perubahan.
Masalah muncul ketika kemarahan menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi persoalan.
Jika setiap konflik diselesaikan dengan teriakan, penghinaan, intimidasi, atau tindakan agresif, kondisi tersebut dapat merusak hubungan dan berdampak pada kesejahteraan psikologis orang-orang yang terlibat.
Karena itu, tujuan mengelola kemarahan bukan berarti seseorang harus berhenti merasa marah. Hal yang lebih penting adalah kemampuan untuk menyadari emosi tersebut sekaligus memilih tindakan yang tepat.
Ada perbedaan antara merasakan kemarahan dan melampiaskannya kepada orang lain.
Seseorang tetap dapat merasa sangat marah tanpa menyakiti orang lain. Ia dapat menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan, menetapkan batas tanpa mengintimidasi, serta mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali melanjutkan percakapan.
Pada akhirnya, kemampuan mengelola kemarahan bukan tentang menghilangkan emosi tersebut, melainkan belajar agar emosi tidak mengambil alih kendali atas tindakan. (mna)

3 hours ago
5

















































