Beranda Metropolis PSEL Kota Bekasi Dibangun, 300 Ton Sampah Masih Jadi PR
PERESMIAN: Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, serta Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir, saat peresmian PSEL Bekasi.
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) resmi dimulai. Namun, proyek yang digadang-gadang menjadi solusi krisis sampah Kota Bekasi itu belum sepenuhnya menuntaskan persoalan. Dari sekitar 1.800 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, masih ada 300 ton yang harus dicarikan jalan keluar agar tidak terus menambah beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut Kota Bekasi termasuk daerah yang menghadapi kondisi darurat sampah, selain Tangerang dan Bali. Bahkan, di sejumlah wilayah darurat sampah, gunungan sampah disebut telah mencapai ketinggian 60 meter.
Menurut Zulhas, pembangunan PSEL diharapkan mampu membantu mengurai persoalan sampah dalam dua tahun ke depan. Namun, kapasitas pengolahan yang tersedia belum cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan sampah di daerah-daerah darurat.
“Yang darurat ini baru menyelesaikan 22 persen, masih banyak yang lain,” ujar Zulhas.
Untuk mengatasi sampah lama yang telah menggunung, pemerintah juga menyiapkan fasilitas pengolahan menggunakan metode pirolisis. Fasilitas tersebut ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah lama.
Dengan skema tersebut, PSEL nantinya ditargetkan mengolah 1.500 ton sampah baru per hari, sementara fasilitas pirolisis menangani sampah lama yang telah menumpuk.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak mengatakan, pembangunan fasilitas pirolisis diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 1,1 hingga 1,2 tahun.
“Perlu waktu sekitar satu tahun lebih satu dua bulan untuk proses pembangunannya,” kata Maruli.
Meski dua fasilitas tersebut disiapkan, Zulhas menegaskan penyelesaian persoalan sampah tidak bisa hanya mengandalkan teknologi. Pemilahan sampah dari sumber menjadi kunci untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.
Sebelum ground breaking PSEL, lebih dari 2.000 warga Kota Bekasi dari berbagai kalangan, termasuk pelajar, mengikuti apel gerakan pemilahan sampah.
“Kalau pemilahan sampah ini bisa selesai, maka 70 sampai 75 persen sampah kita bisa diselesaikan dalam dua tahun sampai 2029,” ujarnya.
Di sisi lain, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan PSEL ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu sekitar 18 bulan. Fasilitas tersebut akan mengolah 1.500 ton sampah baru setiap hari.
Namun, kapasitas itu belum menutup seluruh timbulan sampah Kota Bekasi. Masih ada sekitar 300 ton sampah per hari yang harus ditangani melalui pengurangan sampah dari hulu.
“Masih ada persoalan kita terkait 300 ton. Oleh karena itu, pemilahan tetap harus diutamakan,” kata Tri.
Pemkot Bekasi saat ini memiliki 643 bank sampah yang telah beroperasi. Namun, kontribusinya baru sekitar 300 ton per bulan atau rata-rata 10 ton per hari. Angka tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah pemerintah dan masyarakat dalam mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
“Ini tentu masih banyak persoalan. Bagaimana kekompakan, gotong royong, dan kerja sama seluruh warga masyarakat harus memberikan peranan penting dan strategis,” paparnya.
Pasca dimulainya pembangunan PSEL, Pemkot Bekasi tidak hanya dituntut memastikan proyek berjalan sesuai tahapan. Pemerintah juga harus menjamin sistem pengangkutan mampu memasok 1.500 ton sampah setiap hari ke fasilitas tersebut.
Tak berhenti di situ, pemerintah masih harus menyiapkan fasilitas pengolahan residu agar persoalan sampah tidak sekadar berpindah dari TPA ke tempat pengolahan.
Peresmian pembangunan PSEL tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, serta Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir. (sur)

4 hours ago
8

















































