Beranda Berita Utama Majlis Al Abrar Bekasi Gelar Takbiran, Idulfitri Lebih Awal
Jemaah Majelis Al Abrar Indonesia di Bekasi menggelar takbiran pada Rabu (18/3). FOTO: POJOK BEKASI
RADARBEKASI.ID, BEKASI — Jemaah Majlis Al Abrar Indonesia di Bekasi menggelar malam takbiran pada Rabu (18/3) sebagai penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadan selama 30 hari. Majlis tersebut menetapkan Hari Raya Idulfitri jatuh pada Kamis (19/3), lebih awal dari ketetapan pemerintah.
Salat Id akan digelar di kompleks Majlis Al Abrar Indonesia, Perumahan Pulo Permatasari, Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan.
“Malam ini kami awali dengan buka puasa bersama, lanjut salat magrib dan takbir bersama. Setelah itu makan secukupnya sambil menunaikan zakat fitrah,” kata Pimpinan Majlis Al Abrar Indonesia, Habib Rais Ridjaly, dikutip dari Pojok Bekasi (Grup Radar Bekasi.
Ia menjelaskan, penentuan awal Ramadan dan Syawal dilakukan melalui metode hisab dengan mengacu pada peredaran bulan. Metode tersebut, kata dia, telah lama digunakan secara konsisten.
“Kami memulai puasa pada 17 Februari. Kami mengikuti peredaran bulan, mulai dari tanggal 7, lalu 15 saat purnama. Dari situ kami yakini awal puasa sudah tepat,” jelasnya.
Berdasarkan perhitungan itu, puasa dijalankan selama 30 hari penuh. Karena itu, Idulfitri ditetapkan pada Kamis (19/3).
“Insyaallah besok (Kamis,red) kami Salat Id di Majlis Al Abrar, mulai pukul 07.00 WIB,” ungkapnya.
Ia memastikan seluruh jemaah telah menunaikan zakat fitrah dan penyalurannya sudah dilakukan kepada yang berhak.
“Alhamdulillah, semua ikhwan sudah mengeluarkan zakat fitrah dan sudah kami salurkan,” ujarnya.
Dalam pelaksanan Salat Id, Habib Ibn Sihab akan bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Usai salat, kegiatan dilanjutkan dengan kebersamaan antarjemaah.
“Biasanya tidak lama, setelah itu makan bersama, ada ketupat sayur, selesai sampai siang,” ucapnya.
Selain itu, Majlis Al Abrar juga akan menggelar open house pada 20 Maret 2026 pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
Menanggapi perbedaan penentuan Idulfitri yang kerap terjadi, Rais menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dalam praktik keagamaan.
“Dulu orang menentukan bulan dengan melihat hilal karena belum bisa membaca dan menulis. Sekarang ilmu astronomi sudah sangat maju,” katanya.
Ia menyebut, pendekatan hisab yang digunakan sudah dilakukan sejak lama, bahkan sejak 1967.
“Gerhana saja bisa diprediksi sampai detik. Artinya perhitungan itu sudah sangat akurat,” tandasnya. (oke/pjk)

4 hours ago
11

















































