KRL Mania Soroti Tragedi KRL vs Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur, Desak Reformasi Total Sistem Keselamatan Kereta

2 hours ago 7

Beranda Bekasi KRL Mania Soroti Tragedi KRL vs Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur, Desak Reformasi Total Sistem Keselamatan Kereta

Gerbong KRL yang ringsek di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4). FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Komunitas KRL Mania menyampaikan lima poin sikap menyusul insiden tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Sebagai wadah pengguna Commuter Line, KRL Mania menyampaikan duka mendalam atas tragedi tersebut yang menyebabkan korban jiwa, mencapai 16 orang.

Komunitas tersebut menilai insiden itu tidak bisa dipandang sebagai kecelakaan biasa, melainkan menjadi alarm serius adanya kerentanan sistemik dalam aspek keselamatan transportasi massal di Indonesia

Melalui pernyataan resminya, KRL Mania yang mewakili ratusan ribu pengguna KRL menegaskan bahwa keselamatan penumpang tidak boleh dikompromikan, baik karena keterbatasan anggaran maupun alasan efisiensi teknis.

BACA JUGA: Korban Meninggal Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Bertambah Jadi 16 Orang

Dalam tuntutannya:

1. Prioritaskan Anggaran Keselamatan sebagai Belanja Wajib Negara

KRL Mania mendesak DPR RI dan pemerintah untuk menetapkan anggaran keselamatan transportasi publik sebagai belanja wajib yang tidak dapat dikurangi. Mereka juga mendorong percepatan modernisasi sistem persinyalan menuju teknologi Automatic Train Protection (ATP) serta interlocking elektronik yang lebih canggih.

“Negara tidak boleh menukar keselamatan publik dengan efisiensi fiskal jangka pendek,” tegas pernyataan sikap KRLmania dikutip pada Kamis (30/4/2026).

2. Percepatan DDT dan Audit Total Persinyalan oleh DJKA

Komunitas ini juga menyoroti pentingnya percepatan proyek jalur dwiganda atau Double-Double Track (DDT) pada segmen Bekasi–Cikarang. Mereka menilai, penggunaan jalur campuran antara kereta jarak jauh dan KRL saat ini meningkatkan kompleksitas operasional sekaligus memperbesar potensi risiko kecelakaan.

Tak hanya aspek infrastruktur, KRL Mania turut meminta Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) melakukan audit independen terhadap sistem persinyalan. Mereka menekankan pentingnya penerapan sistem fail-safe yang mampu menjaga keselamatan meski terjadi gangguan teknis, dengan catatan harus didukung integrasi sistem dan disiplin operasional.

3. Evaluasi Kritis SOP dan Faktor Manusia oleh PT KAI

Sorotan juga diarahkan kepada PT Kereta Api Indonesia terkait koordinasi antarpetugas di lapangan, mulai dari masinis, Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), hingga Operation Control Center (OCC). Evaluasi dinilai harus menyentuh aspek teknis komunikasi saat kondisi darurat, bukan sekadar administratif.

4. Evaluasi Desain Keselamatan Sarana (Kereta Khusus Wanita)

KRL Mania juga mengungkap keprihatinan atas tingginya dampak korban di area Kereta Khusus Wanita (KKW) yang umumnya berada di bagian ujung rangkaian kereta.

“Keselamatan tidak cukup dengan pemisahan ruang berbasis gender; harus ada pendekatan safety engineering yang mempertimbangkan mitigasi benturan dan evakuasi cepat,” tulis pernyataan tersebut.

Menurut mereka, hal ini menuntut evaluasi berbasis data terhadap desain interior kereta serta distribusi penumpang untuk meminimalisir risiko fatal saat terjadi benturan.

5. Disiplin Publik sebagai Lapisan Keselamatan Terakhir

Sebagai penutup, KRL Mania menegaskan komitmennya untuk mengawal proses investigasi secara independen dan meminta keterbukaan penuh dari pihak berwenang terkait hasil penyelidikan.

“Transparansi hasil investigasi harus dibuka ke publik, termasuk jika ditemukan kegagalan sistemik, bukan sekadar menyalahkan individu di lapangan,” tegas perwakilan KRLmania.

Komunitas yang berdiri sejak 2003 ini, dengan anggota mencapai sekitar 500 ribu pengguna aktif, menegaskan bahwa keselamatan dalam transportasi publik merupakan hak dasar warga negara yang harus dijamin negara. (zak)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |