Oleh: Miftakhudin
Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.
RADARBEKASI.ID, MADINAH — Di sela rangkaian ibadah haji, saya berkesempatan mengunjungi salah satu kebun kurma terbesar di kota suci Madinah. Perjalanan singkat menuju tempat ini terasa seperti menyusuri lorong waktu, menghadirkan suasana yang tenang, hangat, dan penuh makna.
Kebun kurma yang saya kunjungi berada di sebelah timur Masjid Quba, sekitar 10 kilometer dari pusat kota Madinah. Dari Masjid Quba, perjalanan hanya memakan waktu sekitar lima menit. Di sepanjang jalan, tampak sebuah tembok panjang yang menjadi pembatas area perkebunan kurma yang terbentang luas di baliknya.
Memasuki area kebun, saya disambut gerbang besar dengan area parkir yang luas. Di sisi depan berdiri sebuah toko oleh-oleh bernama Al-Barokah yang menjual berbagai jenis kurma dan olahannya. Suasana langsung terasa berbeda lebih teduh, lebih santai, seolah mengajak setiap pengunjung untuk berhenti sejenak dari padatnya rangkaian ibadah.
Di dalam area kebun, tersedia teras berbahan besi lengkap dengan kursi-kursi sederhana untuk menyambut para jemaah. Tidak jauh dari situ, terdapat gazebo dengan atap daun kurma yang memberikan nuansa alami dan sejuk. Ada juga saung berukuran sekitar 8 x 4 meter dengan kursi empuk yang membuat siapa pun betah berlama-lama menikmati suasana kebun.
Di hadapan saya terbentang pohon-pohon kurma dari berbagai jenis, seperti ajwa, sukkari, dan sekki. Sekilas memang tampak serupa, namun jika diperhatikan lebih teliti, setiap jenis memiliki ciri khas. Perbedaan itu terlihat dari bentuk dan kerapatan daun, ada yang lebih rapat, ada pula yang lebih terbuka dan renggang.
Kebun kurma ini dikelola secara kekeluargaan dan diwariskan turun-temurun oleh keluarga Abdul Rahman Al-Harby. Menurut penuturan pengelola, kebun ini telah ada sejak masa Rasulullah SAW. Luasnya mencapai sekitar 25 hektar dengan kurang lebih 1.600 pohon kurma yang tumbuh subur di dalamnya.
Saat musim panen tiba, setiap pohon mampu menghasilkan sekitar satu hingga dua kuintal buah kurma. Dengan iklim Madinah yang sejuk dan tanah yang subur, pohon kurma hanya berbuah sekali dalam setahun, melalui proses panjang sekitar enam bulan dari bunga hingga siap dipanen.
Salahsatu yang paling menarik perhatian saya adalah kurma ajwa, yang dikenal sebagai “Kurma Nabi”. Buahnya berwarna hitam pekat, bertekstur lembut, dan memiliki rasa manis yang khas. Harganya pun cukup tinggi, bisa mencapai sekitar Rp200.000 per kilogram.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memakan tujuh butir kurma ajwa di pagi hari, maka ia tidak akan terkena racun maupun sihir pada hari itu.” Hadis inilah yang membuat kurma ajwa begitu dikenal dan dicari oleh umat Islam di seluruh dunia.
Selain ajwa, terdapat pula kurma sukkari yang terkenal sangat manis dan bertekstur lembut seperti madu, serta kurma khalas yang memiliki rasa manis dengan sedikit sentuhan asam dan sering digunakan dalam berbagai hidangan.
Kurma bagi masyarakat Timur Tengah bukan sekadar buah, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Sementara bagi jemaah haji dan umrah dari Indonesia, kurma menjadi buah tangan wajib sekaligus simbol keberkahan dari Tanah Suci.
Di akhir kunjungan, saya sempat duduk sejenak di bawah rindangnya pohon kurma. Angin Madinah yang lembut membuat suasana terasa damai. Di tempat sederhana itu, saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang melihat kebun kurma, tetapi juga tentang merasakan jejak sejarah, spiritualitas, dan keberkahan yang mengalir di tanah yang mulia ini.(*)

18 hours ago
17

















































