RADARBEKASI.ID, BEKASI — Fakultas Ekologi Manusia atau FEMA IPB University menggelar seminar internasional bertema “How to Understand Rural Transformation in China” di Ruang Kelas B1 FEMA IPB University, Bogor, Senin, 27 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Tang Lixia dari China Agricultural University, Beijing, China, sebagai narasumber utama. Seminar tersebut dihadiri mahasiswa IPB University serta civitas akademika FEMA IPB.
Dalam forum ini, Prof. Tang memaparkan perubahan besar yang terjadi di wilayah pedesaan China, mulai dari reformasi pertanian, migrasi penduduk desa ke kota, modernisasi produksi pertanian, hingga munculnya fungsi baru desa sebagai ruang ekonomi, sosial, ekologi, dan budaya.
Prof. Tang menjelaskan, transformasi pedesaan China tidak dapat dilepaskan dari reformasi besar yang dimulai pada 1978. Salah satu kebijakan penting pada periode tersebut adalah Household Responsibility System atau Sistem Tanggung Jawab Rumah Tangga. Kebijakan ini memberi hak penggunaan lahan kepada petani secara individual dan menjadi titik awal perubahan tata kelola pertanian di China.
Memasuki dekade 1990-an, industrialisasi dan urbanisasi mendorong perubahan struktur ekonomi pedesaan. Petani tidak lagi hanya bergantung pada sektor pertanian, tetapi mulai memperoleh peluang kerja di sektor non-pertanian, terutama di wilayah perkotaan. Pergeseran ini ikut mengubah sumber pendapatan rumah tangga petani.
Menurut Prof. Tang, sejak 2004 pemerintah China secara konsisten menerbitkan dokumen kebijakan No. 1 yang berfokus pada isu pertanian, petani, dan pedesaan. Kebijakan tersebut mencakup pemberian subsidi keuangan kepada petani serta investasi besar-besaran untuk pembangunan infrastruktur desa.
Perhatian terhadap pembangunan pedesaan kemudian diperkuat melalui Strategi Revitalisasi Pedesaan yang diluncurkan pada 2017. Strategi ini mengintegrasikan lima pilar utama, yakni pengembangan usaha berbasis pertanian, ekologi, budaya, tata kelola, dan layanan publik. Agenda tersebut menjadi panduan pembangunan pedesaan terpadu hingga 2050.
Dalam paparannya, Prof. Tang menunjukkan bahwa urbanisasi China berlangsung sangat cepat. Pada 1978, jumlah penduduk perkotaan tercatat sekitar 172,45 juta jiwa. Angka itu meningkat menjadi 943,5 juta jiwa pada 2024, atau sekitar 67 persen dari total populasi China. Migrasi besar-besaran penduduk desa ke kota menciptakan perubahan mendasar dalam ketenagakerjaan, pendapatan, dan struktur sosial pedesaan.
Transformasi juga terlihat pada wajah fisik desa. Menurut Prof. Tang, desa-desa di China kini mengalami peningkatan kualitas perumahan, transportasi, fasilitas publik, serta akses terhadap pangan dan gaya hidup yang lebih baik. Beberapa desa mulai memiliki ruang bisnis modern seperti kafe, restoran, penginapan, perpustakaan desa, area parkir, taman bermain anak, dan penataan lanskap yang lebih estetis.
Prof. Tang menekankan empat elemen penting untuk memahami transformasi pedesaan China. Pertama, relasi kota-desa yang bergeser dari pola dualistik menuju pembangunan kota-desa yang lebih terintegrasi. Kedua, perubahan ketenagakerjaan dan pendapatan petani, dari yang semula bertumpu pada pertanian menuju sumber pendapatan non-pertanian.
Ketiga, modernisasi sistem dan model produksi pertanian. Produksi pertanian di China bergerak dari pertanian skala kecil menuju operasi skala moderat yang didukung mekanisasi, koperasi pertanian, dan farm keluarga. Rata-rata luas farm keluarga disebut mencapai sekitar 10 hektare. Di saat yang sama, penggunaan pupuk kimia mulai dikurangi seiring berkembangnya praktik pertanian hijau.
Keempat, perubahan nilai dan fungsi kawasan pedesaan. Pedesaan tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang produksi ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sosial, ekologi, dan budaya. Desa menjadi ruang nostalgia, memori kolektif, kawasan konservasi, lanskap alam, hingga tempat pelestarian desa tua dan warisan budaya tak benda.
Pada bagian akhir, Prof. Tang menyoroti gagasan integrasi kota-desa yang diperkenalkan Prof. Li Xiaoyun, yakni “cities in the countryside, countryside in the cities.” Gagasan ini menekankan pentingnya menghadirkan fasilitas dan gaya hidup modern di desa, sekaligus menarik masyarakat kota untuk kembali berinteraksi, berkonsumsi, dan berinvestasi di kawasan pedesaan.
Fenomena baru pun muncul di pedesaan China. Prof. Tang menyebut hadirnya “warga desa baru”, seperti agri-entrepreneur, pengusaha pedesaan, digital nomad, hingga CEO pedesaan yang berpindah dari kota ke desa. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa desa kini tidak hanya menjadi ruang tinggal masyarakat agraris, tetapi juga arena inovasi, kewirausahaan, dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui seminar ini, FEMA IPB University membuka ruang pembelajaran komparatif mengenai transformasi pedesaan di tingkat global. Pengalaman China menjadi bahan refleksi penting bagi mahasiswa dan civitas akademika dalam memahami dinamika pembangunan desa, terutama terkait hubungan kota-desa, modernisasi pertanian, tata kelola, dan revitalisasi kawasan pedesaan. (*)

20 hours ago
16















































