Bekasi Peringkat Kelima Kota Toleran di Indonesia

17 hours ago 16

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto hadir dalam peluncuran sekaligus penghargaan IKT 2025 di Jakarta, Rabu (22/4/2026). FOTO: HUMAS PEMKOT

RADARBEKASI.ID, BEKASI — Kota Bekasi menempati peringkat kelima sebagai kota toleran di Indonesia dengan skor 6,047 berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dirilis SETARA Institute. Capaian ini naik dua peringkat dibandingkan IKT 2024, ketika Bekasi berada di posisi ketujuh.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto hadir dalam peluncuran sekaligus penghargaan IKT 2025 di Jakarta, Rabu (22/4/2026). Ia menyebut capaian tersebut sebagai bukti upaya berkelanjutan pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun ruang hidup yang harmonis, inklusif, serta menjunjung keberagaman.

Tri menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat yang berperan menjaga kondusivitas dan toleransi di Kota Bekasi.

“Kenaikan peringkat ini adalah hasil kerja bersama seluruh masyarakat Kota Bekasi. Toleransi bukan hanya slogan, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Tri.

Ia menegaskan capaian tersebut bukan akhir. Melainkan dorongan untuk terus memperkuat kualitas kehidupan sosial yang harmonis

“Kita tidak boleh cepat puas. Justru ini menjadi tantangan bagi kita untuk terus menjaga dan meningkatkan nilai toleransi agar Kota Bekasi bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” tambahnya.

Sementara, Ketua Badan Pengurus SETARA Institute Ismail Hasani mengatakan IKT disusun untuk memotret perkembangan praktik toleransi di daerah secara berkelanjutan.

“Ini adalah salah satu bentuk konsistensi kami untuk memastikan pengukuran yang berkelanjutan, mencatat progres, progresi, dan regresi kerja bersama pemerintah daerah, masyarakat, dan tokoh-tokoh di setiap kabupaten/kota dalam mengawal toleransi,” kata Ismail dalam rilis IKT 2025.

Ia menegaskan capaian indeks bukan semata hasil kerja pemerintah daerah.

“Bukan prestasi wali kota, Kesbangpol atau Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tetapi prestasi bersama,” ujarnya.

Menurut Ismail, terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi toleransi di daerah, yakni kepemimpinan politik, birokrasi, dan sosial. Kepemimpinan politik disebut paling menentukan arah kebijakan, sementara birokrasi menjaga kesinambungan. Adapun kepemimpinan sosial berperan dalam memperkuat praktik toleransi di masyarakat.

 IKT 2025 merupakan publikasi kesembilan sejak 2015 dengan 94 kota sebagai objek kajian. Penilaian dilakukan berdasarkan empat variabel, yakni regulasi pemerintah kota, regulasi sosial, tindakan pemerintah, dan demografi agama, yang dijabarkan dalam delapan indikator.

Dalam laporan tersebut, Salatiga kembali menempati posisi teratas dengan skor 6,492 berkat konsistensi kebijakan dan ruang interaksi lintas agama di masyarakat.

Posisi kedua ditempati Kota Singkawang dengan skor 6,391, disusul Kota Semarang di peringkat ketiga dengan skor 6,160.

Kota Pematang Siantar berada di peringkat keempat dengan skor 6,088, sementara Kota Bekasi naik ke posisi kelima dengan skor 6,047.

Selanjutnya, Kota Sukabumi berada di peringkat keenam, Kota Magelang ketujuh, Kota Kediri kedelapan, Kota Tegal kesembilan, dan Kota Ambon menempati peringkat kesepuluh. (oke)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |