RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar wilayah terdampak, tetapi juga dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak. Paparan abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu berbagai keluhan, mulai dari bersin, batuk, pilek hingga sesak napas.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian orang tua, terlebih jika anak memiliki riwayat asma, alergi pada saluran pernapasan, atau penyakit paru kronis. Paparan abu vulkanik pada kelompok tersebut berpotensi memicu kekambuhan atau memperburuk kondisi yang sudah ada.
Melansir dari Jawapos pada Selasa (8/9/2026), ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menjelaskan bahwa partikel abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan. Oleh karena itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda gangguan pernapasan sejak dini.
“Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya,” ujar dr. Wahyuni.
Orang tua disarankan tidak mengabaikan keluhan yang muncul setelah anak terpapar abu vulkanik. Gangguan pernapasan yang awalnya ringan dapat berkembang menjadi kondisi lebih serius, terutama pada anak yang memiliki faktor risiko tertentu.
Beberapa tanda yang perlu segera diperhatikan adalah perubahan frekuensi napas menjadi lebih cepat dari biasanya, munculnya tarikan dinding dada ke dalam ketika bernapas, serta penurunan kadar oksigen dalam darah.
“Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” kata dr. Wahyuni.
Selain anak yang memiliki asma, alergi saluran napas, maupun penyakit paru kronis, bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal dan anak dengan penyakit jantung bawaan juga termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Baca Juga: Cara Cek Status Gunung Api Terkini di MAGMA Indonesia, Kenali Level I hingga IV
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat abu vulkanik, IDAI melalui UKK Respirologi menganjurkan orang tua melakukan sejumlah langkah perlindungan.
Apabila memungkinkan, anak sebaiknya dipindahkan sementara ke lokasi yang lebih jauh dari wilayah yang terdampak abu vulkanik. Namun, jika kondisi tidak memungkinkan untuk mengungsi, anak dianjurkan tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup rapat agar abu tidak mudah masuk.
Kebersihan rumah juga perlu diperhatikan. Saat membersihkan abu vulkanik, anak sebaiknya tidak berada di sekitar area yang sedang dibersihkan. Hal ini untuk mencegah anak menghirup partikel abu yang dapat kembali beterbangan ke udara.
Pembersihan sebaiknya dilakukan menggunakan kain atau lap basah. Permukaan lantai maupun benda yang dipenuhi abu juga dapat dibasahi terlebih dahulu sehingga partikel tidak mudah menyebar.
Sebaliknya, membersihkan abu menggunakan sapu dalam kondisi kering sebaiknya dihindari karena dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.
Jika anak harus keluar rumah di tengah kondisi lingkungan yang masih dipenuhi abu, pastikan ia menggunakan masker yang sesuai untuk anak dan terpasang dengan baik. Penggunaan pelindung mata juga dapat membantu mengurangi risiko iritasi akibat partikel abu.
Anak juga sebaiknya mengenakan pakaian yang menutupi tubuh untuk mengurangi kontak langsung abu dengan kulit. Setelah kembali ke rumah, segera bersihkan tubuh dan ganti pakaian agar partikel abu yang menempel tidak terbawa ke dalam rumah.
Bagi anak yang memiliki asma atau alergi saluran pernapasan, orang tua perlu memastikan obat rutin maupun obat darurat yang biasa digunakan selalu tersedia. Paparan abu vulkanik dapat memperburuk iritasi dan meningkatkan risiko kambuhnya gangguan pernapasan.
Baca Juga: Berbeda dengan Debu Biasa, Kenali Ciri Abu Vulkanik Anak Krakatau yang Mulai Sampai Jabodetabek
Selain abu vulkanik, orang tua juga sebaiknya mengurangi sumber polusi lain di dalam rumah. Asap rokok dan asap dari kegiatan memasak dapat semakin mengiritasi saluran pernapasan anak yang sudah sensitif akibat paparan abu.
Kondisi tubuh anak juga perlu dijaga dengan memastikan kebutuhan cairan dan nutrisi tetap terpenuhi. Anak dianjurkan cukup minum air putih untuk membantu mencegah dehidrasi, sementara makanan bergizi seimbang penting untuk mendukung kondisi tubuh selama menghadapi paparan polusi udara.
Dengan mengenali gejala sejak awal dan melakukan langkah perlindungan yang tepat, orang tua dapat membantu mengurangi risiko gangguan pernapasan pada anak selama kondisi udara terdampak abu vulkanik. (mna)

6 hours ago
7

















































