WFH Sarengat

6 hours ago 13

Oleh: Dahlan Iskan

Rasanya Anda sudah dapat kiriman humor tentang atasan yang menelepon stafnya di hari WFH-baru seperti berikut ini:

Atasan: “Tadi saya telepon kamu, yang terima istrimu. Katanya kamu lagi masak. Kenapa nggak segera telepon balik?”

Staf: “Sudah saya telepon balik Pak… Yang terima istri Bapak. Katanya Bapak lagi nyuci…”.

Rasanya itulah humor terbaik soal work from home di hari Jumat seperti hari ini. Mungkin yang menciptakannya perusuh Disway Lazareta yang sudah lama tidak kirim humor yang paling saya sukai.

Tentu atasan yang ada di humor itu jadi atasan kalau lagi di kantor. Setinggi-tinggi atasan ia hanyalah bawahan kalau sedang di rumah.

Atasan nyuci baju sangatlah baik. Bukan hanya soal emansipasi laki-laki, tapi atasan seperti itu pasti ingin mendukung penuh program menteri ESDM: hemat energi. Daripada, misalnya, di hari WFH ia mengantar istri ke pasar. Lalu pergi ke mal. Akhirnya disuruh ngantar istri yang mau arisan.

Kalau semua pegawai negeri seperti di humor itu, WFH sukses besar. Negara benar-benar bisa menghemat BBM senilai Rp 4 triliun/tahun. Asal masaknya jangan banyak-banyak –yang membuat kompor tidak mati-mati.

WFH atau WFO sebenarnya sama saja. Yang penting tetap produktif. Atasan tahu apa saja pekerjaan yang harus dilakukan anak buah sepanjang hari Jumat WFH. Apakah pekerjaan itu terlalu ringan atau terlalu berat. Kalau terlalu ringan bisa ditambah. Kalau terlalu berat –dan selalu berhasil diselesaikan– nasib dan karir anak buah seperti itu harus diperhatikan.

WFH atau tidak yang penting prinsip manajemen berjalan dengan baik. Ajaran manajemen yang baik itu sederhana: menuliskan yang akan dikerjakan dan mengerjakan yang sudah ditulis.

Berarti tiap hari Kamis sore, sebelum meninggalkan kantor bawahan sudah harus menulis: Jumat besok, di rumah, akan mengerjakan apa saja.

Tulisan itu diserahkan ke atasan. Atasan membaca dan menilai: rencana kerja itu sudah membuat bawahan produktif atau belum. Kalau belum, harus ditambah. Intinya: produktivitas.

Bangsa yang maju adalah yang produktivitasnya tinggi.

Bahwa atasan pun di saat WFH harus masak dan cuci baju itu bisa dilakukan sebelum jam kerja. Saya, kalau di luar negeri, juga cuci baju sendiri. Biasanya sambil mandi. Agar tidak berat yang dicuci hanya tiga potong. Sederhana.

Apalagi sekarang di Tiongkok banyak hotel menyediakan mesin cuci. Bahkan ada yang mesinnya ditaruh di pojok ruang olahraga: sebelum olahraga masukkan baju kotor ke mesin, selesai olahraga cucian selesai. Cucian itu berat kalau baju kotornya ditumpuk sampai segunung.

“Menuliskan yang akan dikerjakan, mengerjakan yang ditulis”.

Maka pekerjaan semua pegawai adalah menulis: Kamis sore menulis apa yang akan dikerjakan di hari WFH-Jumat, Jumat sore menulis apa yang sudah dikerjakan di hari itu.

Di era serba software sekarang ”manajemen produktivitas” seperti itu bisa lebih sederhana lagi. Atasan dan semua bawahan menggunakan aplikasi yang sama: upload tulisan dilakukan di aplikasi yang sama. Atasan bisa melihat sendiri di aplikasi. Bahkan atasan yang levelnya lebih tinggi bisa mengakses aplikasi itu.

Atasan dan bawahan bisa baca semua yang ditulis dan dikerjakan di hari WFH. Atasan yang lebih tinggi juga bisa menilai atasan yang menjadi bawahannya.

Atasannya atasan juga bisa menilai bawahannya bawahan. Dengan demikian bisa diketahui apakah di level yang lebih bawah ada bibit-bibit unggul untuk dipromosikan kelak.

Tapi itu bisa berjalan kalau meritokrasi dilaksanakan di semua level.

Budaya menulis yang akan dikerjakan dan mengerjakan yang telah ditulis memang hanya terjadi di negara maju atau di negara yang ingin maju.

Di negara tertentu sudah banyak juga yang mencoba menulis apa yang akan dikerjakan. Tapi yang sudah ditulis itu besoknya tidak dikerjakan. Alasannya banyak. Salah satunya karena muncul tugas dadakan dari atasan.

Maka atasan harus tahu –dari aplikasi– kepada siapa tugas dadakan itu diberikan. Harusnya diberikan kepada bawahan yang  rencana kerjanya kalah penting dengan tugas dadakan itu.

Masalahnya: banyak tugas dadakan yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Misalnya mewakili atasan untuk membacakan sambutan tertulis.

Di acara-acara tertentu saya sudah mulai melakukan ini: yakni kalau atasan yang kami undang mewakilkan ke bawahannya. Biasanya sang bawahan saya bisiki di ruang transit: bagaimana kalau sambutan tertulis itu kami perbanyak dan kami bagikan saja. Tidak usah dibacakan.

Dari pengalaman saya sang bawahan justru senang dengan bisikan saya seperti itu.

Menulis yang akan dikerjakan biasanya sudah banyak yang mencoba. Tapi menuliskan apa yang sudah dikerjakan biasanya banyak yang lupa. Atau takut ketahuan: yang sudah dikerjakan ternyata tidak banyak. Tidak sebanding dengan gaji bulanan berikut tunjungannya.

Saya bukan lagi bawahan. Juga bukan lagi atasan. Apalagi istri saya suka masak, sehingga saya tidak perlu masak..

Apakah saya juga disiplin mengerjakan prinsip menulis yang akan saya kerjakan?

Tidak. Lebih tepatnya: tidak lagi.

Setelah prinsip itu membudaya di diri seseorang, prinsip tersebut sudah menyatu di dalam otak dan jiwanya. Sudah berjalan otomatis di pikiran dan tindakan.

Ritual “menulis yang akan dikerjakan dan mengerjakan yang ditulis” itu harus dilakukan oleh yang levelnya masih –orang Jawa bilang: level sarengat. (Dahlan Iskan)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |