RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Kota Bekasi tahun ini menghadirkan dua wajah sekaligus, yakni kesiapan yang diklaim matang dan realitas keterbatasan sarana yang masih terasa.
Di tengah semangat mengukur capaian pembelajaran secara objektif, fakta bahwa tiga sekolah harus “menumpang” pelaksanaan ujian di tempat lain menjadi catatan penting yang tak bisa diabaikan.
Ya, mulai hari ini Senin (6/4), puluhan ribu siswa kelas IX SMP/MTs sederajat di Kota Bekasi mulai mengikuti TKA. Ujian berbasis komputer ini menjadi instrumen baru pemerintah untuk memetakan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Pendidikan memastikan bahwa seluruh persiapan telah dilakukan jauh hari.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Chondro Wibhowo Mahartoyo Sukmo, menyebut kesiapan itu didukung dengan pelaksanaan tryout yang dilakukan berulang kali.
“Dalam rangka persiapan itu sudah kita lakukan beberapa kali tryout, secara umum sudah siap untuk pelaksanaan TKA,” ujarnya.
Secara angka, Kota Bekasi mencatat 36.943 siswa mengikuti TKA dari total 388 satuan pendidikan. Namun, di balik angka besar tersebut, terselip persoalan klasik: keterbatasan perangkat. Tiga sekolah terpaksa harus menumpang pelaksanaan ujian di sekolah lain karena jumlah komputer atau laptop tidak sebanding dengan jumlah siswa.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdik Kota Bekasi, Agus Enap, mengakui kondisi tersebut. Ia menyebut sebagian siswa bahkan harus mengikuti ujian di SMA atau SMK terdekat.
“Karena jumlah siswa cukup banyak dan jumlah perangkatnya terbatas,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat pelaksanaan TKA harus dibagi dalam beberapa sesi. Dalam satu hari, satu mata pelajaran bisa dilaksanakan hingga dua atau tiga sesi, tergantung kapasitas ruang dan perangkat. Tujuannya, agar siswa tetap bisa mengerjakan soal dalam kondisi optimal tanpa kelelahan.
Namun di sisi lain, pembagian sesi ini juga memunculkan tantangan tersendiri. Potensi kebocoran soal, kelelahan siswa, hingga perbedaan kondisi antar sesi menjadi isu yang kerap muncul dalam sistem ujian berbasis giliran. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Disdik Kota Bekasi menekankan sistem pengawasan yang ketat.“Pengawasnya juga pengawas silang dari sekolah yang lain,” kata Agus.
Selain itu, penggunaan perangkat pribadi siswa tidak diperbolehkan. Semua ujian harus menggunakan komputer atau laptop milik sekolah guna meminimalkan potensi kecurangan sekaligus memastikan stabilitas teknis.
Penekanan pada kejujuran ini bukan tanpa alasan. TKA diharapkan menjadi alat ukur nyata terhadap capaian pembelajaran siswa, bukan sekadar formalitas tahunan. Bahkan, Disdik berencana menjadikan tes serupa sebagai evaluasi rutin setiap kenaikan kelas.“Supaya guru-guru bisa mempersiapkan lebih baik lagi,” tambah Agus.
Namun, tidak semua pihak melihat TKA sebagai solusi menyeluruh. Sekretaris Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Bekasi, Ayung Sardi Dauly, menilai cakupan TKA masih terbatas.
“Tidak juga, karena yang diukur itu kan hanya tiga mata pelajaran,” ujarnya.
Pandangan ini menegaskan bahwa TKA belum mampu menggambarkan keseluruhan kualitas pendidikan. Ia lebih menyerupai potret parsial cukup penting, tetapi belum utuh.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan TKA secara nasional.
“Bagi sekolah-sekolah yang tidak atau belum punya komputer, kami atur sedemikian rupa supaya bisa meminjam di sekolah lain,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun TKA bukan penentu kelulusan, integritas tetap menjadi prinsip utama. “Kalau ada murid yang curang atau sekolah yang curang, langsung kami nolkan nilainya,” tegasnya.
Kritik juga datang dari kalangan legislatif. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Wildan Fathurrahman. Ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam pelaksanaan TKA, terutama dalam hal sosialisasi kepada masyarakat.
“Maka prinsip kehati-hatian yang harus saya pesankan ke Disdik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa TKA tidak boleh disalahartikan sebagai alat seleksi menuju sekolah tertentu, apalagi menjadi tekanan psikologis bagi siswa. “Jangan sampai ini diasumsikan untuk mendapat pendidikan khusus di sekolah-sekolah tertentu,” tegasnya.
Dalam praktiknya, TKA berlangsung selama dua hari dengan dua mata pelajaran utama: Bahasa Indonesia untuk literasi, dan Matematika untuk numerasi. Setiap sesi diawali dengan latihan selama 10 menit, dilanjutkan pengerjaan soal selama 75 menit, serta pengisian survei karakter dan lingkungan belajar. (sur)

6 hours ago
16

















































