Oleh: Maria D. Andriana, direktur Anugerah Jurnalistik Adinegoro PWI
Hari ini, kecerdasan buatan (AI—artificial intelligence) hadir dengan keunggulan kecepatan dan efisiensi. Ia menawarkan cara berpikir logis dan sistematis dalam banyak bidang, termasuk jurnalistik.
Namun, di balik kemudahan itu muncul kegelisahan: tentang kejujuran, keaslian karya, dan pada akhirnya tentang tanggung jawab. Perdebatan mengenai AI sering terjebak pada soal teknologi, padahal persoalan yang lebih mendasar terletak pada sikap manusia yang menggunakannya.
Dalam konteks inilah pemikiran Adinegoro kembali relevan. Jauh sebelum istilah media siber dikenal, Adinegoro telah membayangkan lahirnya bentuk-bentuk baru media.
Dalam Falsafah Ratu Dunia (Balai Pustaka, 1949), ia menyiratkan kemungkinan hadirnya “saluran lain” di masa depan. Bagi Adinegoro, perubahan medium adalah keniscayaan, tetapi perubahan itu tidak boleh menggeser nilai dasar jurnalistik.
Pelajaran penting dari Adinegoro adalah keberaniannya menghadapi teknologi baru tanpa rasa takut. Pada masanya, media yang dikenal baru media cetak dan radio; televisi bahkan belum hadir di Indonesia, meskipun telah ia kenal saat menempuh studi di Eropa.
Pemikiran ini menempatkan Adinegoro sebagai sosok visioner yang mampu membaca arah masa depan dan menyampaikannya kepada publik. Apakah ia seorang jenius atau sekadar memiliki kepekaan zaman, pertanyaan itu mungkin tidak perlu dijawab. Yang jelas, gagasannya terbukti tetap hangat lintas waktu.
Sejarah menunjukkan bahwa teknologi selalu menyertai kehidupan manusia. Jurnalistik mengenal peran Johannes Gutenberg dengan mesin cetaknya yang memungkinkan produksi massal informasi tercetak.
Temuan-temuan lain berkembang dan melahirkan radio, televisi, hingga kamera. Kita mungkin tidak ikut dalam euforia penemuan awal teknologi-teknologi tersebut, tetapi kita menikmati teknologi turunannya—lengkap dengan kegaduhan sosial: siap atau tidak siap menerimanya.
Adinegoro memahami bahwa media akan terus berubah dan bergeser. Namun ia menegaskan ada titik yang tidak boleh bergeser, yakni nilai-nilai jurnalistik. Kebenaran, kejujuran, ketepatan data, dan verifikasi adalah fondasi kerja jurnalistik.
Prinsip-prinsip ini bahkan mendahului teori-teori jurnalistik modern seperti yang dibahas dalam Blur karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.
Dalam praktik jurnalistik Adinegoro, laporan disusun berbasis fakta, sumber yang kredibel, analisis realitas, serta tidak mencampuradukkan fakta dengan opini.
Perubahan medium dan cara kerja jurnalistik yang semakin dimudahkan oleh teknologi memunculkan era baru: informasi mengalir cepat dan menjangkau dunia.
Media siber menyatukan teks, video, audio, foto, infografis, dan tautan. Sekali klik, konsumen media memperoleh paket informasi yang nyaris lengkap.
Namun di tengah kemudahan itu, satu hal perlu ditegaskan: jurnalistik tetaplah kerja intelektual yang memerlukan manusia di baliknya, bukan kerja mesin otomatis belaka.
Dalam teori dasar jurnalistik, kepentingan publik menjadi dasar pemilihan topik dan penentuan nilai berita. Sudut pandang dipilih dengan mempertimbangkan konteks sosial, dampak pemberitaan, dan keberimbangan suara.
Pada proses pencarian bahan informasi, memilah, mengolah, hingga menyajikan berita, redaksi memiliki tradisi panjang dalam kejujuran serta keberpihakan pada mereka yang kerap “tidak terdengar”.
Lalu muncul pertanyaan yang tak terhindarkan: bolehkah AI masuk dalam proses tersebut?
Jawabannya bukan sekadar boleh atau tidak boleh. AI dapat dimanfaatkan sebagai perangkat kerja—membantu menyusun rencana liputan, merapikan naskah, atau mendukung proses penyuntingan. Namun keputusan, penilaian, dan tanggung jawab tetap melekat pada manusia. Seperti yang diingatkan Adinegoro, teknologi boleh memudahkan kerja, tetapi tidak boleh menggantikan tanggung jawab.
Di era AI, peran jurnalis tidak hilang, melainkan berubah. Jurnalis adalah penentu alasan dan makna—mengapa sebuah peristiwa penting diberitakan—sementara AI membantu pada sisi teknis tentang bagaimana menyajikannya.
Tantangan muncul ketika kemudahan teknologi justru menggoda sebagian jurnalis untuk melompati proses berpikir. Tulisan bisa tampak rapi dan sempurna secara bahasa, tetapi miskin konteks dan kedalaman.
Belakangan, perbincangan berkembang lebih jauh: AI tidak lagi sekadar tools, melainkan mulai berperan sebagai agent, termasuk dalam penyuntingan berita. Pada titik inilah batas perlu ditegaskan.
Verifikasi, pemahaman konteks lokal, serta keputusan etis tidak dapat sepenuhnya diserahkan pada mesin. AI dapat mensimulasikan empati dan mengingatkan norma, tetapi ia tidak menanggung risiko moral dan dampak sosial dari sebuah kesalahan.
Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan—yang dikenal dengan nama pena Adinegoro—menjadi pengingat penting bagi jurnalis yang bekerja di tengah kemajuan teknologi.
Pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN), kita dihadapkan pada satu kenyataan: tantangan jurnalistik hari ini bukan semata kehilangan pekerjaan, melainkan risiko kehilangan daya kritis.
Di sinilah spirit Adinegoro tetap relevan: jangan takut pada teknologi, tetapi jangan pernah menyerahkan pikiran dan nurani kepada mesin. (*)

19 hours ago
15
















































