Pemkab Bekasi Putar Otak Atasi Banjir dari Tiga Arah

2 hours ago 8

BANJIR BUNI BAKTI: Foto udara pemukiman warga yang terdampak banjir di Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Kamis (5/2). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kabupaten Bekasi dikepung bencana hidrometeorologi yang kian mengkhawatirkan. Kawasan industri ini menghadapi banjir dari tiga arah sekaligus.

Kiriman air dari hulu, hujan lokal yang tinggi, serta banjir rob di wilayah hilir. Pemerintah memutar otak untuk mengatasi persoalan tersebut.

Memasuki awal Februari 2026, genangan belum surut di sejumlah kecamatan. Letak geografis Bekasi yang berada di dataran rendah membuat wilayah ini menjadi muara aliran air dari kawasan hulu seperti Bogor. Curah hujan yang tinggi di wilayah tengah kian memperburuk kondisi.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat, hingga Kamis (5/2), banjir masih melanda 22 desa di delapan kecamatan. Sebanyak 9.523 kepala keluarga terdampak, dengan 40 jiwa mengungsi.

BACA JUGA: Ribuan Keluarga di Pantai Harapanjaya Muaragembong Terisolasi akibat Banjir

Pelaksana Tugas Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengatakan pemerintah daerah menggandeng berbagai pihak untuk menangani banjir yang sebagian besar dipicu luapan sungai.

“Dari hulu, aliran air sangat deras ke Kabupaten Bekasi. Di wilayah kita hujan juga tidak berhenti, dan di hilir ada banjir rob. Jadi kita tidak bisa menyalahkan hujan. Yang harus kita lakukan adalah mencari solusi bagaimana ke depan kita bisa lebih siap dan mampu mengantisipasi banjir,” kata Asep, Kamis (5/2).

Ia menilai banjir bukan hanya persoalan cuaca, tetapi juga dampak penataan ruang yang buruk selama bertahun-tahun. Alih fungsi lahan di sepanjang daerah aliran sungai mengurangi daya serap air.

Lahan yang sebelumnya menjadi sawah dan kawasan resapan kini berubah menjadi permukiman dan bangunan permanen. Akibatnya, saat debit sungai meningkat, air dengan mudah meluap ke kawasan hunian yang posisinya lebih rendah.

BACA JUGA: Banjir Hampir Sebulan Lumpuhkan Akses Kampung Penombo Muaragembong

“Untuk Kali Bekasi, karena kita berada di wilayah hilir, ada titik-titik pertemuan air yang dulu menjadi tempat tampungan, sekarang sudah menjadi perumahan. Tadi juga disampaikan BNPB, posisi sungai sekarang lebih tinggi dibanding sawah, sementara sawahnya sudah berubah menjadi perumahan. Ini yang harus kita antisipasi bersama,” tutur Asep.

Tekanan lingkungan juga dirasakan wilayah pesisir, terutama Kecamatan Muaragembong. Daerah di utara Bekasi ini menghadapi ancaman banjir rob akibat pertemuan debit Sungai Citarum dan pasang air laut, yang menyebabkan aliran air tertahan dan meluap ke permukiman.

“Secara geografis, Kecamatan Muaragembong merupakan titik temu beberapa aliran sungai yang menjadi bagian paling hilir aliran sungai besar yang ada di Jawa Barat, yaitu Citarum dan Ciherang,” terang Camat Muaragembong, Sukarmawan.

Menurutnya, kondisi banjir diperparah oleh lemahnya infrastruktur pengendali air. Hasil koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan banyak tanggul dalam kondisi kritis, bahkan jebol. Air sungai pun masuk ke permukiman hingga ketinggian lebih dari satu meter, terutama di sekitar Citarum dan Kali Bekasi.

“Kerawanan banjir cukup tinggi, hal ini disebabkan oleh peningkatan curah hujan yang disertai naiknya debit air sungai,” tambahnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, menyebut data Balai Besar Wilayah Sungai Citarum mencatat 71 titik tanggul kritis di wilayah utara Bekasi. Sebanyak 48 titik telah ditangani secara darurat, sementara 22 titik lainnya belum tertangani.

“Dari paparan teman-teman BBWS sudah ada memang yang ditangani, tapi darurat. Belum bisa ditangani langsung karena kondisi masih banjir. Namun kami tetap koordinasikan agar ke depan ada penanganan yang permanen,” tutup Dodi. (ris)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |