PRODUKSI BONEKA: Pekerja menyelesaikan pembuatan boneka di Rawalumbu, Kota Bekasi, belum lama ini. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp17.700 tidak selalu membawa kabar buruk bagi pelaku usaha. Pengusaha boneka lokal justru mulai merasakan peluang untuk bersaing lebih kuat di pasar domestik.
Di saat banyak pelaku usaha mengeluhkan pelemahan rupiah, usaha boneka milik Anang Sujana, di Rawalumbu, Kota Bekasi tak begitu terdampak. Ia justru merasa penjualan masih berjalan stabil dengan permintaan yang tetap terjaga.
“Untuk penjualan sendiri tidak ada perubahan signifikan. Order tetap lancar alhamdulillah,” ujar Anang kepada Radar Bekasi belum lama ini.
Menurutnya, dampak kenaikan dolar memang mulai terasa pada beberapa kebutuhan produksi. Namun bukan pada keseluruhan bahan baku utama pembuatan boneka. Komponen yang paling mengalami kenaikan harga justru plastik pembungkus boneka.
“Yang paling terasa naik itu plastik bungkus boneka,” katanya.
Meski begitu, kenaikan tersebut belum membuat dirinya menaikkan harga jual produk. Ia masih mempertahankan harga lama demi menjaga pasar dan pelanggan tetap loyal.
“Masih harga lama. Kenaikan bahan baku juga tidak selalu berdampak langsung ke harga jual,” ungkapnya.
Anang menilai, kondisi dolar tinggi justru membuat produk impor, terutama dari China, tidak lagi bisa dijual semurah sebelumnya. Situasi itu dinilai menjadi kesempatan emas bagi produk lokal untuk tampil lebih kompetitif.
“Tentu saja boneka lokal jadi lebih kompetitif. Barang impor sekarang tidak lagi bebas nyerbu pasar karena harganya juga makin mahal,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini harus dimanfaatkan para pelaku UMKM untuk meningkatkan kreativitas dan memperluas pemasaran. Ia sendiri memilih memperketat pengeluaran serta lebih aktif memasarkan produk melalui platform online agar usaha tetap bertahan.
“Strateginya lebih keras berhemat dan aktif jualan online,” katanya.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, permintaan pasar terhadap boneka produksi lokal sejauh ini masih relatif stabil. Tidak ada penurunan drastis seperti yang dikhawatirkan sebagian pelaku usaha.“Permintaan masih stabil,” tambahnya.
Bagi Anang, menguatnya dolar seharusnya bisa menjadi momentum kebangkitan industri boneka lokal. Ketika harga produk impor semakin mahal, masyarakat perlahan mulai melirik produk buatan dalam negeri yang kualitasnya tidak kalah bersaing.
“Dolar naik harusnya membantu UKM boneka untuk lebih berkreasi. Barang impor dari China sekarang tidak murah, jadi harganya lebih kompetitif dengan produk lokal,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih besar kepada pelaku UMKM, terutama dalam akses permodalan dan pembukaan pasar ekspor. Dengan begitu, kenaikan dolar justru dapat menjadi keuntungan bagi industri lokal.
“Harapannya pemerintah bantu permodalan dan bantu carikan negara ekspor. Jadi dollar naik malah bisa jadi berkah buat UMKM,” tandasnya. (rez)

6 hours ago
14
















































