Demi Bertahan, Perajin Tempe dan Tahu di Kabupaten Bekasi Perkecil Ukuran hingga Rumahkan Pekerja

21 hours ago 10

Beranda Cikarang Demi Bertahan, Perajin Tempe dan Tahu di Kabupaten Bekasi Perkecil Ukuran hingga Rumahkan Pekerja

PERKECIL UKURAN: Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Cikarang Barat, beberapa waktu lalu. FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perajin tempe dan tahu di Kabupaten Bekasi menghadapi tekanan ekonomi akibat lonjakan harga kedelai impor dan plastik kemasan. Berbagai siasat dilakukan agar tetap bertahan, mulai dari memperkecil ukuran produk hingga merumahkan pekerja.

Perajin tempe di Desa Jayasampurna, Kecamatan Serang Baru, Sukhep (51), mengatakan harga beli kedelai yang menjadi bahan baku utama produksi tempe kini mencapai Rp 10.900 per kilogram (kg). Sebelumnya harga Rp10.000 per kg.

“Kalau biasanya 1 kuintal kedelai harganya Rp1 juta, sekarang sudah tembus Rp1.090.000,” kata Sukhep, Minggu (5/4).

Menurut Sukhep, tren kenaikan harga ini bukan hal baru karena sudah mulai merangkak naik sejak sebelum Idulfitri 1447 Hijriah. Masalah utamanya adalah fluktuasi harga yang terjadi cepat setiap kali stok baru didistribusikan ke perajin.

“Pokoknya setiap kali turun dari truk, harga naik Rp10 ribu per kuintal. Besok juga bisa saja naik lagi Rp10 ribu,” tambahnya.

Tak hanya kedelai, harga plastik pembungkus yang bergantung pada biji plastik impor juga ikut melonjak. Plastik per rol yang sebelumnya hanya Rp270 ribu, kini meroket hingga Rp 380 ribu. Sukhep menduga lonjakan harga ini dipicu ketidakstabilan kondisi global di Timur Tengah.

“Infonya efek dari konflik di Timur Tengah,” katanya.

Agar tidak kehilangan pelanggan, Sukhep memilih tidak menaikkan harga jual tempe. Sebagai gantinya, ia mengecilkan ukuran tempe agar margin keuntungan tetap terjaga meski tipis.

“Mungkin ukuran tempe diperkecil. Tetapi kalau yang lain naik pada naik, bisa juga harga naik. Yang jelas kalau keadaan kayak gini produksi juga bisa turun karena ukuran tempe nyusut,” tutur Sukhep.

Kondisi serupa dirasakan Deden (55), perajin tahu asal Cikarang Barat. Ia memangkas ukuran tahu dan membatasi jumlah pekerja. Saat permintaan besar, baru semua karyawan dipekerjakan.

“Hampir 50 persen pekerja kita rumahkan, tapi hanya untuk sementara. Dalam satu minggu ada sekitar tiga hari dimana karyawan masuk semua. Alhamdulillah mereka semua memahami,” kata Deden.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi, Helmy Yenti, mengakui kenaikan harga kedelai dan plastik.

Meski begitu, masyarakat tidak perlu khawatir karena stok kedelai masih cukup. Ia juga mengakui adanya penyesuaian ukuran tempe dan tahu akibat gejolak harga kedelai.

“Info dari petugas pemantauan harga sampai saat ini harga tempe dan tahu masih normal,” pungkasnya. (ris)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |