Wani El-Tri

4 hours ago 10

Dahlan Iskan dan rombongan berfoto bersama suporter Meksiko di kawasan Stadion New Jersey menjelang pertandingan.--

Oleh: Dahlan Iskan

Saya menunda keberangkatan ke stadion New Jersey, New York, setengah jam. Saya harus menemuinya dulu. Ia terbang jauh dari Dallas ke New York. Apalagi ia juga tinggal di hotel tidak jauh dari Times Square.

Saya terhibur oleh kedatangannya. “Saya juga nonton Piala Dunia dengan tiket lungsuran,” ujarnya seperti solider dengan yang lagi menderita seperti saya yang diejek pakai tiket lungsuran.

“Waktu kuliah di ITB saya pernah mendatangkan Pak Dahlan untuk bicara di Sabuga,” katanya. Ia pun menunjukkan foto lama saat saya di atas panggung bersamanya. Sabuga, Anda sudah tahu: Convention Hall terbaik di Bandung.

Waktu itu ia tokoh aktivis mahasiswa ITB. Sekarang ia jadi pengusaha. Namanya Renard Widarto. Teknik sipil. Sudah bergelar doktor di bidang keuangan dari Universitas Diponegoro.

Sama-sama pakai tiket lungsuran, Renard lebih beruntung: dua tiket. Ia bisa nonton bersama istri. Hanya stadionnya di Dallas, Texas. Ia juga beruntung karena tahu harga tiketnya: USD6.000 per lembar. Berarti hampir Rp 200 juta bersama istri. Belum tiket pesawat dan hotel yang serbamahal sekarang ini.

“Kita bertemu di depan HEYTEA di Times Square ya,” jawab saya. “Jam 11.00,” lanjut saya.

Jalan kaki ke lokasi itu lebih cepat dari waktu yang saya pakai turun dari lift. Saya harus turun dulu ke lantai 10. Lobi hotel ini di satu lantai di atas lantai 9, atau enam lantai di atas lantai empat. Dari lantai 10 pindah lift ke lantai dasar. Memang masih harus melewati dua lampu merah tapi kebetulan sedang hijau semua.

Tentu saya sudah lupa rautnya, tapi pastilah di Times Square itu ia satu-satunya yang berwajah Indonesia. Itu Renard. Sudah duduk di kursi merah di bawah payung besar. Saya tahu lokasi itu karena suka beli HEYTEA di Beijing melebihi bubble yang lain.

“Mau minum apa?” sapa Renard.

“Saya baru saja sarapan Brooklyn Bagel,” jawab saya.

Kami pun ngobrol tanpa sajian apa pun. Cerita di balik tiket lungsuran-nya ternyata luar biasa menariknya bisa jadi stok ide untuk tulisan di Disway, sekaligus agar para penebak punya waktu mengelus bola kristal mereka.

Agar tidak terasa memotong ceritanya, saya ajak Renard ke hotel saya. Bisa lanjut bercerita sambil jalan.

Saya tahu beberapa menit lagi mobil Lia tiba. Saya harus sudah siap di pinggir jalan di depan hotel. Begitulah etika jadi tamu di New York, di Tokyo, di Singapura, dan di kota besar lain di dunia.

Jangan sampai penjemput sudah tiba di lokasi, yang dijemput masih di kamar mandi. Mobil penjemput tidak bisa berhenti lama di depan hotel. Tidak ada tempat parkir. Yang menjemput tidak bisa meninggalkan mobil untuk mencari yang dijemput akan kena masalah dengan mobil itu.

Lia datang bersama anaknyi: Erick, 28 tahun, jomblo, menyukai persahaman lewat komputernya. Erick yang pegang kemudi. Lia turun sebentar menyalami Renard, lalu balik ke mobil jadi co pilot. Saya duduk di kursi belakang.

Setelah 15 tahun tidak bertemu Renard sudah banyak yang berubah. Ada juga yang tidak berubah. Renard bukan lagi aktivis mahasiswa yang ceking tapi pikirannya masih tetap kritis: “Saya terus mengingatkan sesama alumnus SMA Taruna Nusantara,” kata Renard. “Sekarang alumnus Taruna Nusantara sedang diuji sejarah, apakah bisa menerapkan doktrin cinta tanah air seperti yang disumpahkan waktu di sekolah”.

Anda sudah tahu: begitu banyak alumnus sekolah yang didirikan Prabowo Subianto itu yang kini memegang peran penting di pemerintahan. Mereka kakak-kakak kelas Renard. Letkol Teddy, seskab, misalnya, adalah kakak satu kelas. Di angkatan Renard ada tiga siswa Tionghoa salah satunya ia sendiri.

Kami berpisah di teras Edition. Meski berangkat kami mundur 45 menit masih bisa diterima. Lia sudah punya ”kapling” parkir. Lia sudah membeli tempat parkir sejak enam bulan lalu: parkir satu mobil 200 dolar hampir Rp 4 juta.

Lapangan parkir stadion tidak boleh untuk mobil. Halaman luas itu untuk pengaturan arus manusia menuju dan dari stadion: kapasitas 82.000. Juga untuk berbagai atraksi sebagai daya tarik tambahan Piala Dunia.

Hanya 25 menit perjalanan dari Times Square ke stadion. Kami masuk ke gedung parkir mal American Dream mal kedua terbesar di negara itu setelah Mall of America yang saya kunjungi beberapa tahun lalu di Minneapolis.

Tentu kami harus berjalan jauh ke stadion. Normal. Terlihat lautan kuning tua pindah ke sini bendera Ekuador dan Jerman sama-sama punya unsur kuning tua: kuning-biru-merah dan hitam-merah-kuning. Orang Jerman menyebutnya: hitam-merah-emas.

Di tengah lautan kuning itu ada tujuh orang berkaus hijau. Kami mengira mereka Bonek Persebaya. Ternyata justru mereka menduga kami suporter El Tri julukan untuk Bonek Meksiko.

Nama El Tri diambil dari tri warna bendera Meksiko: hijau-putih-merah.

Sesama berhijau kami pun berfoto bersama. Juga melatih mereka teriak ”Wani!”

Lalu ganti mereka melatih saya teriak: Vamoz El Tri!.(Dahlan Iskan)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |