Tanah Abang Makkah

17 hours ago 17

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Menjelang berakhirnya rangkaian ibadah haji, suasana di Kota Makkah terasa sedikit berbeda. Wajah-wajah jemaah yang sebelumnya dipenuhi kelelahan setelah menjalani puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, kini terlihat lebih santai.

Sebagian memanfaatkan waktu untuk beribadah di Masjidil Haram, sementara yang lain mulai bersiap pulang ke Tanah Air. Di sela-sela masa tunggu itulah, satu aktivitas yang hampir selalu dilakukan jemaah Indonesia kembali menjadi pemandangan yang akrab: berburu oleh-oleh.

Saya pun ikut merasakan hiruk-pikuk itu. Bersama sejumlah jemaah asal Bekasi, saya menuju Pasar Kakiyah, salah satu pusat belanja yang paling populer di kalangan jemaah haji Indonesia. Pasar yang berada di Jalan Ibrahim Al-Khalil, sekitar delapan kilometer dari Masjidil Haram itu kerap dijuluki sebagai “Tanah Abang-nya Makkah”.

Begitu tiba di lokasi, suasana ramai langsung menyambut. Deretan toko berjajar rapat memenuhi bangunan pasar yang terdiri dari beberapa lantai. Ratusan ruko dipenuhi berbagai macam barang dagangan. Mulai dari abaya, gamis, kurma, peci, serban, sajadah, tasbih, gantungan kunci, tas, miniatur Ka’bah, teko khas Arab, parfum, hingga mainan anak-anak tersedia di tempat ini.

Nama lengkap pasar tersebut adalah Sûq al-Ka’kiyah lil Jumlah atau Pasar Grosir Kakiyah. Meski berada di jantung Kota Makkah, tidak semua barang yang dijual berasal dari Arab Saudi. Banyak produk yang didatangkan dari China dan Bangladesh. Namun hal itu tidak mengurangi minat para pembeli yang datang hampir setiap hari.

Harga yang relatif murah menjadi daya tarik utama. Di pasar ini, barang dijual mulai dari 2 Riyal Saudi hingga 100 Riyal Saudi, tergantung jenis dan kualitasnya. Boneka unta misalnya, dijual dengan harga antara 10 hingga 30 Riyal Saudi. Harga tersebut dinilai lebih terjangkau dibandingkan toko-toko oleh-oleh di sekitar hotel jemaah.

Saya berjalan menyusuri lorong pasar yang dipenuhi jemaah Indonesia. Di kanan kiri terdengar suara pedagang menawarkan dagangannya. Menariknya, sebagian besar pedagang cukup fasih berbahasa Indonesia.

“Ayo ibu, bapak, murah-murah,” teriak seorang pedagang sambil tersenyum mempersilakan calon pembeli masuk ke tokonya.

Kemampuan berbahasa Indonesia rupanya menjadi modal penting bagi para pedagang di Kakiyah. Mereka belajar dari keluarga, teman sesama pedagang, hingga pelanggan Indonesia yang datang silih berganti setiap musim haji dan umrah.

Salah satu pedagang yang saya temui bernama Ahmed. Di tokonya tersusun rapi berbagai jenis cokelat yang banyak diburu jemaah sebagai buah tangan.

“Ayo ayo, murah murah. Beli banyak boleh, beli sedikit bisa. Dilihat dulu, dicoba halal,” kata Ahmed dengan logat Indonesia yang cukup fasih.

Saat diajak berbincang lebih jauh, Ahmed bercerita bahwa istrinya berasal dari Sukabumi, Jawa Barat.

“Istri saya di rumah,” katanya sambil tersenyum.

Ahmed mengaku sengaja belajar bahasa Indonesia karena banyak pelanggan berasal dari Indonesia.

“Jemaah Indonesia hampir tiap hari belanja di sini. Jadi saya belajar sedikit-sedikit supaya mudah bicara dan tawar-menawar,” ujarnya.

Keramahan Ahmed ternyata bukan sekadar strategi pemasaran. Ketika saya menanyakan harga cokelat yang dijualnya, ia memberikan harga yang jauh lebih murah dibanding toko lain.

“Saya kasih diskon murah untuk haji,” katanya.

Jika di toko lain cokelat serupa dijual sekitar 40 Riyal Saudi per kilogram, Ahmed menawarkan harga 25 Riyal Saudi per kilogram. Selisih harga yang cukup besar itu membuat tokonya ramai didatangi pembeli.

Di antara keramaian pasar, saya bertemu Anggi, jemaah asal Bantargebang, Kota Bekasi. Tangannya tampak penuh membawa kantong belanja.

“Ini tadi belanja gamis untuk ibu-ibu, dan juga untuk anak-anak. Gantungan kunci sama tasbih. Sama tadi cokelat juga,” kata Anggi.

Ia mengaku sengaja datang bersama rombongan jemaah lainnya setelah mendapat informasi mengenai murahnya harga barang di Pasar Kakiyah.

“Saya awalnya tidak tahu pasar yang murah di Makkah. Dikasih tahu teman satu rombongan kalau di sini harganya lebih terjangkau,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah masih ada barang yang ingin dibeli, Anggi langsung tertawa kecil.

“Masih banyak sebenarnya. Ini tadi beli sajadah. Alhamdulillah cukup murah,” lanjutnya.

Menjelang sore, arus pengunjung di Pasar Kakiyah semakin padat. Jemaah tampak sibuk memilih barang, menawar harga, lalu membawa pulang kantong-kantong belanja berisi buah tangan untuk keluarga di kampung halaman.

Bagi jemaah Indonesia, oleh-oleh memang bukan sekadar barang. Di balik gantungan kunci, tasbih, cokelat, atau sajadah yang dibawa pulang, tersimpan cerita perjalanan spiritual dari Tanah Suci. Karena itulah, meski koper sudah hampir penuh dan tenaga mulai berkurang, banyak jemaah tetap menyempatkan diri datang ke Pasar Kakiyah.

Di pasar yang dijuluki Tanah Abang-nya Makkah itulah, kerinduan kepada keluarga di rumah seolah mulai menemukan jalannya untuk pulang.(*)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |