Tak Marah Filmnya Dapat Rating 5/10, Reza Arap Malah Bilang Begini

7 hours ago 13

Beranda Entertainment Tak Marah Filmnya Dapat Rating 5/10, Reza Arap Malah Bilang Begini

Potret Reza Arap. Foto: Instagram

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Film Harusnya Horror menjadi debut Reza Arap di kursi sutradara. Meski mendapatkan respons yang beragam, salah satu ulasan dari akun Instagram Punditfilm memberikan penilaian 5 dari 10 untuk film tersebut.

Menariknya, alih-alih tersinggung dengan kritik yang diberikan, Reza Arap justru menyambut ulasan tersebut dengan sikap terbuka. Ia menganggap kritik sebagai masukan penting untuk mengembangkan kemampuannya sebagai seorang sutradara.

Dalam ulasannya, Punditfilm menilai Harusnya Horror memiliki premis yang cukup menarik dan berpotensi menghadirkan cerita yang berbeda. Film tersebut mengisahkan sekelompok kreator konten yang sedang mengalami masalah finansial. Mereka kemudian bekerja sama dengan sesosok hantu yang justru memiliki rasa tidak percaya diri.

Kerja sama tersebut dilakukan demi menghasilkan konten yang viral. Mereka memiliki target untuk menakuti hingga 100 ribu orang melalui konten-konten yang dibuat bersama hantu tersebut.

Namun, menurut Punditfilm, konsep menarik tersebut belum sepenuhnya berhasil diterjemahkan dalam eksekusi, terutama dari sisi komedi. Beberapa lelucon atau punchline dinilai belum mampu menghasilkan efek yang diharapkan dan terkadang terasa meleset dari momentum.

Gaya humor yang ditampilkan juga dianggap sangat dekat dengan karakter serta konten Reza Arap selama ini. Hal tersebut dinilai mungkin lebih mudah diterima oleh penonton yang sudah mengenal sosok Arap dan memahami gaya bercandanya.

Sementara bagi penonton yang tidak terlalu familiar dengan karakter atau konten Reza Arap, pendekatan humor tersebut dinilai berpotensi terasa kurang mengena.

Selain persoalan komedi, Punditfilm juga menyoroti bagaimana Harusnya Horror masih terasa seperti konten yang diperpanjang menjadi sebuah film. Menurut ulasan tersebut, film ini dinilai belum sepenuhnya memiliki kekuatan sebagai sebuah karya sinema yang berdiri sendiri.

Meski memberikan sejumlah catatan, Punditfilm tetap melihat adanya usaha untuk menghadirkan sisi drama personal dari masing-masing karakter. Unsur tersebut menjadi salah satu bagian yang menunjukkan bahwa film tidak hanya mengandalkan komedi dan konsep horor semata.

Baca Juga: Adhisty Zara Tak Menyangka Bakal Nangis Saat Nonton Film Rumah Singgah, Kondisi Hamil Bikin Sensitif

Alih-alih membantah penilaian tersebut, Reza Arap justru memberikan respons positif melalui kolom komentar unggahan Punditfilm.

“Terima kasih reviewnya, kak! Semoga bisa jadi ilmu yang bisa saya pakai kedepannya,” tulis Reza Arap.

Arap kemudian menjelaskan bahwa dirinya memang merasakan tekanan ketika mendapat kepercayaan untuk menjadi sutradara. Menurutnya, industri perfilman merupakan dunia yang sangat ia hormati sehingga kesempatan untuk berada di balik layar justru membuatnya merasa memiliki tanggung jawab besar.

Ia bahkan mengaku sempat mempertanyakan dirinya sendiri ketika dipercaya mengarahkan sebuah film.

“Saya bener-bener menghormati industri film. Makanya sebenarnya merasa sangat beban pas ditunjuk jadi sutradara. Kayak, gue siapa gitu,” ungkapnya.

Bagi Arap, kritik seperti yang disampaikan Punditfilm justru menjadi sesuatu yang ia butuhkan. Ia menilai dukungan saja tidak cukup untuk membuat dirinya berkembang, terutama karena Harusnya Horror merupakan langkah awalnya dalam menjalani peran sebagai sutradara.

“Tapi beneran makasih reviewnya. Yang kayak gini-gini yang gue butuhin, bukan sekadar support,” tambah Arap.

Sikap tersebut kemudian menuai apresiasi dari sejumlah netizen. Reza Arap dinilai menunjukkan sikap rendah hati karena tidak menutup diri terhadap kritik, meskipun ulasan tersebut memberikan nilai yang tergolong rendah untuk film debutnya.

Respons Arap juga memperlihatkan bagaimana ia memandang Harusnya Horror bukan sekadar sebagai karya yang harus mendapatkan pujian, tetapi juga sebagai bagian dari proses belajar. Setelah selama ini lebih dikenal sebagai kreator yang tampil di depan kamera, kini ia mencoba mengambil tantangan baru dengan bekerja di balik layar sebagai sutradara.

Bagi Reza Arap, kritik terhadap Harusnya Horror tampaknya menjadi salah satu bekal penting untuk memperbaiki karya-karyanya di masa mendatang. Terlebih, sebagai sutradara yang baru memulai langkah, evaluasi dari penonton maupun pengamat film dapat menjadi bahan pembelajaran untuk menemukan gaya penyutradaraan yang lebih matang. (mna)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |