Menanti Giliran Pulang

4 hours ago 8

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perlahan suasana di Kota Makkah mulai berubah. Jalan-jalan yang beberapa pekan lalu dipenuhi jutaan jemaah yang datang untuk menunaikan ibadah haji, kini mulai diramaikan oleh koper-koper besar yang berjejer di lobi hotel. Fase pemulangan jemaah haji Indonesia akhirnya dimulai.

Kelompok terbang (Kloter) pertama Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS-01) resmi mengawali kepulangan jemaah haji asal Bekasi menuju Tanah Air. Sebanyak 445 jemaah yang tergabung dalam kloter tersebut diberangkatkan dari pemondokan di Makkah menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, pada Senin (1/6) sore waktu Arab Saudi.

Mereka dijadwalkan lepas landas pukul 23.40 WAS dan tiba di Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi pada Selasa (2/6) sekitar pukul 02.40 WIB. Keberangkatan kloter pertama itu menjadi penanda dimulainya fase pemulangan yang akan berlangsung hingga 30 Juni 2026 mendatang.

Di tengah kesibukan para jemaah menimbang koper dan mempersiapkan dokumen perjalanan, saya merasakan suasana yang berbeda. Ada rasa sedih yang menyelimuti wajah banyak jemaah saat harus meninggalkan Kota Suci Makkah. Namun di saat yang sama, tersimpan kebahagiaan karena sebentar lagi mereka akan bertemu kembali dengan keluarga tercinta.

“Iya, enggak sabar pengen cepat-cepat ketemu anak. Sudah kangen banget,” kata seorang jemaah asal Kota Bekasi sambil tersenyum.

Sebelum memasuki masa pemulangan, para jemaah lebih dahulu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah hajinya. Secara bergiliran mereka melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sa’i di Masjidil Haram. Sebagian bahkan telah melaksanakannya sesaat setelah tahalul awal pada 10 Zulhijah.

Kini suasana di Masjidil Haram jauh lebih longgar dibandingkan saat menjelang puncak haji. Otoritas masjid membuka akses menuju mataf seluas-luasnya bagi para jemaah. Mereka tidak lagi diwajibkan mengenakan kain ihram untuk melaksanakan tawaf di area dekat Ka’bah.

Pemandangan yang dulu sulit ditemukan kini tampak biasa. Jemaah bisa berjalan lebih leluasa di pelataran mataf tanpa harus berdesakan. Bahkan para askar atau petugas keamanan yang sebelumnya dikenal sangat tegas kini terlihat lebih ramah dan bersahabat.

Tak ada lagi pemeriksaan seketat sebelumnya. Seorang petugas haji Indonesia bahkan sempat lolos masuk ke area masjid meski kartu nusuknya tertinggal di hotel. Situasi itu menunjukkan bahwa fase puncak haji benar-benar telah berakhir.

Sebelum meninggalkan Makkah, para jemaah juga melaksanakan Tawaf Wada atau tawaf perpisahan. Di hadapan Ka’bah, banyak jemaah menengadahkan tangan sambil memanjatkan doa-doa terakhir. Tak sedikit yang menitikkan air mata karena belum tentu bisa kembali ke Tanah Suci.

Sementara itu, Menteri Haji dan Umrah Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, mengingatkan dua maskapai yang melayani penerbangan haji Indonesia agar menjaga ketepatan waktu selama proses pemulangan.

“On time performance harus dijaga agar proses pemulangan jemaah berjalan lancar dan nyaman,” ujarnya.

Berdasarkan Rencana Perjalanan Haji 2026, jemaah gelombang kedua akan mulai diberangkatkan dari Makkah menuju Madinah pada 7 Juni mendatang. Mereka akan tinggal sekitar sembilan hari di Kota Nabawi sebelum dipulangkan ke Indonesia pada 16 hingga 30 Juni 2026.

Saya sendiri yang tergabung dalam Kloter 22 masih harus melanjutkan perjalanan ke Madinah terlebih dahulu. Jika sesuai jadwal, saya baru akan kembali ke Indonesia pada 25 Juni mendatang.

Di tengah kabar pemulangan yang membahagiakan, duka juga menyertai perjalanan haji tahun ini. Tiga jemaah asal Bekasi dilaporkan wafat di Tanah Suci. Mereka adalah Sudarno Marto Pawiro (73) dari Kloter KJT-14 yang meninggal di RS Mouwasat Madinah pada 2 Mei 2026 dan dimakamkan di Baqi, Arif Nugroho (59) dari Kloter JKS-05 yang wafat di RS Al Malik Fahd Madinah pada 20 Mei 2026, serta H. Mat Rodji Mardjuki (64) yang meninggal dunia pada 27 Mei 2026 setelah sempat pingsan di depan tenda Mina.

Bagi para jemaah yang akan segera pulang, perjalanan haji memang hampir berakhir. Namun kenangan tentang Makkah, Madinah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina akan tetap tersimpan dalam ingatan. Sementara bagi saya, hitungan menuju kepulangan baru saja dimulai, sambil menikmati hari-hari terakhir di Tanah Suci dengan harapan suatu saat dapat kembali memenuhi panggilan Allah ke Baitullah.(*)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |