Malam di Muzdalifah

4 hours ago 12

Oleh: Miftakhudin 

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Malam di Padang Arafah baru saja turun ketika rombongan kami mulai bergerak menuju Muzdalifah. Bus yang kami tumpangi melaju perlahan di tengah antrean panjang kendaraan pengangkut jemaah haji dari berbagai negara. Lampu-lampu bus tampak menyala berjejer seperti aliran cahaya yang tak putus di tengah gurun Arab Saudi.

Perjalanan menuju Muzdalifah malam itu memakan waktu sekitar 40 menit. Bus kami tiba sekitar pukul 21.10 waktu setempat. Sepanjang jalan, saya melihat ribuan bus lain bergerak menuju arah yang sama. Semua jemaah yang telah menyelesaikan wukuf di Arafah memang harus singgah di Muzdalifah untuk mabit atau bermalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina.

Begitu turun dari bus, saya langsung terpaku. Di hadapan saya terbentang hamparan manusia yang luar biasa besar. Lautan jemaah memenuhi kawasan terbuka seluas sekitar 12,25 kilometer persegi itu. Dari berbagai penjuru dunia, manusia berkumpul dalam pakaian ihram yang sama, tanpa perbedaan jabatan, bahasa, maupun warna kulit.

Muzdalifah sendiri merupakan kawasan terbuka yang berada di antara Arafah dan Mina. Tempat ini menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian ibadah haji. Dari total luas wilayah tersebut, sekitar 6,8 kilometer persegi digunakan langsung untuk area mabit jemaah. Kawasan itu juga ditandai dengan rambu-rambu pembatas yang menunjukkan awal dan akhir wilayah Muzdalifah.

Di atas hamparan padang berbatu dan pasir, terbentang karpet merah panjang yang disiapkan agar jemaah bisa beristirahat dan beribadah dengan lebih nyaman. Namun tidak sedikit pula jemaah yang membawa tikar sendiri. Ada yang duduk bersandar sambil membaca Al-Qur’an, ada yang berdzikir pelan memandangi langit malam, dan ada pula yang tertidur karena lelah setelah perjalanan panjang dari Arafah.

Saya berjalan perlahan menyusuri kerumunan jemaah. Udara malam terasa hangat, tetapi angin gurun sesekali berembus lembut. Di beberapa sudut, terdengar lantunan doa dan bacaan ayat suci Al-Qur’an. Sementara di sudut lain, ada jemaah yang sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Sebagian menelepon keluarga di Indonesia untuk mengabarkan bahwa mereka telah tiba di Muzdalifah.

“Tidak jauh berbeda dari dulu, hanya toiletnya sekarang lebih banyak dan areanya terasa lebih luas,” kata Kustoro, seorang jemaah kloter 22 kota Bekasi yang mengaku sudah dua kali menjalani mabit di Muzdalifah. Sebelumnya, ia pernah berhaji pada tahun 2014 lalu.

Meski jutaan manusia berkumpul di tempat yang sama, suasana malam itu justru terasa sangat tenang. Saya duduk memandangi langit. Bulan tampak lonjong menggantung di atas padang pasir. Malam itu sudah memasuki 10 Zulhijah, pertanda bulan purnama akan segera tiba.

Entah mengapa, dada saya terasa sesak oleh rasa haru. Air mata perlahan menetes tanpa saya sadari. Saya masih sulit percaya bisa berada di tempat yang pernah disinggahi Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan hajinya. Tempat yang selama ini hanya saya baca dalam buku dan dengar dari cerita para ustaz, kini benar-benar ada di depan mata.

Rasanya sungguh berbeda ketika melaksanakan salat malam di alam terbuka seperti itu. Tidak ada dinding, tidak ada atap, hanya langit luas dan hamparan manusia yang sama-sama datang membawa doa. Di tengah suasana itu, saya merasa sangat dekat dengan Allah.

Sekitar pukul 02.00 dini hari, ketua kloter mulai memberi instruksi agar rombongan bersiap bergerak menuju Mina. Satu per satu jemaah mulai bangun, menggulung tikar, dan membereskan barang bawaan mereka. Perjalanan panjang belum selesai. Di Mina, kami masih harus menjalani rangkaian ibadah melempar jumrah.

Namun malam di Muzdalifah itu akan selalu saya ingat. Sebuah malam ketika jutaan manusia berbaring di tanah yang sama, memandang langit yang sama, dan membawa harapan yang sama kepada Tuhan.(*)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |