Lonjakan Harga BBM, Pemilik Mobil Diesel Kurangi Pemakaian

2 hours ago 9

Beranda Bekasi Lonjakan Harga BBM, Pemilik Mobil Diesel Kurangi Pemakaian

Sekretaris Jenderal Pajero Indonesia Family (PIF), Akhmad Masun. FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI — Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi membuat pemilik mobil diesel mulai mengurangi pemakaian kendaraannya. Sebagian beralih ke kendaraan berbahan bakar bensin, bahkan ada yang mulai membeli mobil listrik untuk kebutuhan harian.

Sekretaris Jenderal Pajero Indonesia Family (PIF), Akhmad Masun, mengatakan biaya pengisian penuh BBM untuk kendaraan Pajero kini mencapai sekitar Rp2,8 juta.

“Full itu sekarang Rp2,8 juta kalau tidak salah, dulu cuma Rp1,4 juta. Lumayan kalau orang yang kerjanya setiap hari muter berasa juga,” kata Akhmad, Kamis (28/5).

Akibatnya, sebagian angggota PIF yang tercatat sebanyak 2.200 orang se-Indonesia, sekitar 13 persen beralih menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin untuk mobilitas sehari-hari. Sebelumnya, mereka menggunakan solar sebelum beralih ke Pertamina Dex setelah tidak lagi diperbolehkan membeli BBM subsidi.

Sementara 80 persen lebih yang mobilitasnya menggunakan kendaraan bermesin diesel tidak terlalu tinggi serta sejak awal menggunakan Pertamina Dex, sebagian mulai membeli kendaraan listrik. Alhasil kendaraan yang mereka cintai itu kini lebih banyak terparkir di dalam garasi.

“Saya rasa lumayan berat, lumayan banyak yang mengeluh. Akhirnya apa ?, kan mereka biasanya punya mobil dua atau tiga, gara-gara solar diblok (tidak diperbolehkan membeli solar), mereka akhirnya sehari-hari ganti mobil,” ungkapnya.

Komunitas ini juga memantau berbagai perkembangan kendaraan melalui media sosial maupun jaringan showroom. Hasilnya, harga pasar kendaraan tersebut turun, sementara penjualan mobil baru juga melandai dibanding sebelumnya.

“Turunnya lumayan loh, misalkan mobil-mobil seken tahun 2018/2017 itu masih laku Rp350 juta, sejak kenaikan dex itu paling Rp320 juta, kadang-kadang malah Rp300 juta, lumayan turunnya,” ucapnya.

Kenaikan harga bahan bakar ditambah tren ekonomi yang lesu akhir-akhir ini juga berdampak pada aktivitas komunitas. Belakangan, kegiatan PIF berkurang, bahkan sejak BBM naik tinggi belum ada lagi kegiatan touring.

Ia dan teman-temannya berharap harga BBM untuk kendaraan diesel turun seperti sebelum 18 April silam. Menurutnya, gejolak Timur Tengah akhir-akhir ini sudah terlihat mereda.

Sisi lain, ia menyayangkan perbedaan harga BBM non subsidi yang terlampau jauh antara kendaraan berbahan bakar bensin dengan kendaraan diesel. Menurutnya perbandingan kenaikan harga antara keduanya saat ini cukup jauh, padahal pengguna bensin lebih banyak dibandingkan diesel.

“Katakanlah harga Dex itu sebelum naik Rp14 ribu, kalau bisa ya turun, di level Rp20 ribu itu saya kira masih Akseptabel. Seharusnya kalau mau adil kenaikan Pertamax Turbo dengan Pertamina Dex dan Dexlite itu imbang, ini kesannya dibebankan ke diesel semua,” tambahnya. (sur)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |