Harga Pertamax Naik, Pertalite Cepat Habis di SPBU Bekasi

3 hours ago 12

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kenaikan tajam harga Pertamax mulai memicu efek domino di Bekasi. Ribuan pengendara roda dua ramai-ramai beralih ke Pertalite, menyebabkan antrean di sejumlah SPBU mengular dan stok BBM bersubsidi tersebut lebih cepat habis dibanding biasanya.

Diketahui, PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green sejak 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

Dalam beberapa hari terakhir, warga mengaku semakin sulit mendapatkan Pertalite. Selain harus mengantre lebih lama, mereka juga terpaksa berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain karena persediaan kerap kosong.

Asep (25), pengemudi ojek online, mengaku harus mendatangi tiga SPBU pada Sabtu (13/6) malam sebelum akhirnya berhasil mengisi Pertalite.

“Pertama saya cari di SPBU Jalan Chairil Anwar kosong, lalu di Jalan Raya Jatimulya juga kosong. Akhirnya dapat di Bulak Kapal, tapi antreannya panjang,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Minggu (14/6).

Menurut Asep, lonjakan antrean mulai terasa sejak harga Pertamax naik. Meski harus menghabiskan waktu lebih lama di SPBU, ia memilih tetap menggunakan Pertalite untuk menekan biaya operasional harian.

“Saya tetap pakai Pertalite. Kalau pakai Pertamax, pendapatan saya tidak ketutup,” katanya.

Fenomena serupa dialami Pandu (42). Warga yang sebelumnya menggunakan Pertamax itu mengaku terpaksa beralih ke Pertalite karena kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai terlalu memberatkan.

“Sekarang saya pindah ke Pertalite karena kenaikan harga Pertamax sudah terlalu tinggi menurut saya,” ujarnya.

Pandu mengaku baru kali ini merasakan antrean Pertalite mengular hingga ke badan jalan. Ia juga mendengar keluhan serupa dari sejumlah rekannya yang kesulitan mendapatkan Pertalite di beberapa SPBU.

“Kemarin isi bensin, antreannya sampai ke jalan raya. Biasanya tidak seperti itu,” ucapnya.

Pantauan Radar Bekasi pada Minggu (14/6) malam, stok Pertalite di salahsatu SPBU di Jalan Nonon Sonthanie telah habis. Pihak SPBU memasang pemberitahuan bahwa Pertalite masih dalam proses pengiriman. Padahal, pada siang harinya BBM tersebut masih tersedia meski antrean sudah cukup panjang.

Sementara di SPBU Jalan RA Kartini, pengelola memasang pemberitahuan pembatasan pembelian Pertalite dalam jumlah besar menggunakan jeriken maupun kendaraan dengan kapasitas tangki yang dimodifikasi.

Peralihan dari Pertamax Jadi Penyebab

PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) mengakui terjadi lonjakan konsumsi Pertalite pasca-kenaikan harga Pertamax. Kondisi tersebut membuat stok di sejumlah SPBU lebih cepat terserap, terutama oleh pengguna kendaraan roda dua.

Area Manager Communication, Relation, and CSR Regional JBB Pertamina Patra Niaga, Susanto August Satria, mengatakan pergeseran pola konsumsi masyarakat menjadi faktor utama meningkatnya permintaan Pertalite.

“Terutama yang terlihat saat ini berasal dari konsumen roda dua yang beralih menggunakan Pertalite,” katanya.

Meski demikian, Pertamina memastikan pasokan Pertalite masih dalam kondisi aman dan tidak terjadi gangguan stok secara regional.

“Serapannya memang tinggi, tetapi bukan berarti barangnya tidak ada. Di SPBU lain masih tersedia atau sedang dalam perjalanan distribusi. Stok secara umum aman,” ujar Satria.

Ia juga menegaskan tidak ada pembatasan pembelian Pertalite untuk kendaraan roda dua karena Program Subsidi Tepat saat ini baru diterapkan bagi kendaraan roda empat.

Pertamina mengimbau masyarakat membeli BBM bersubsidi secara wajar dan tidak melakukan penimbunan yang dapat mengganggu distribusi.

Daya Beli Kelas Menengah Tertekan

Sementara itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai dampak terbesar kenaikan harga Pertamax bukan pada inflasi, melainkan pada daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang menjadi pengguna utama BBM nonsubsidi tersebut.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, mengatakan kenaikan harga Pertamax berpotensi menambah beban pengeluaran rumah tangga di tengah tingginya biaya hidup dan pelemahan nilai tukar rupiah.

“Dampak yang lebih besar justru terjadi pada daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah sebagai pengguna utama Pertamax,” ujarnya.

Menurut Rizal, risiko terbesar dari kenaikan harga Pertamax bukan lonjakan inflasi, melainkan perlambatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. (sur)

Read Entire Article
Tenaga Kerja | | | |