Oleh: Miftakhudin
Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.
RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sore itu langit Makkah mulai berubah warna. Cahaya matahari perlahan meredup ketika saya tiba di kawasan Hira Cultural District, sebuah kawasan religi yang berada di kaki Jabal Nur. Di tempat inilah berdiri Museum Al Wahyu atau Ma’radh Revelation Exhibition, destinasi wisata religi yang kini menjadi salah satu tujuan favorit para jemaah haji dan umrah.
Dari kejauhan, Jabal Nur tampak menjulang kokoh di belakang museum. Gunung setinggi sekitar 626 meter di atas permukaan laut itu berdiri megah, seolah menjadi penjaga sejarah perjalanan kenabian. Lereng-lereng berbatu yang curam terlihat jelas dari halaman museum.
Saya menyaksikan banyak pengunjung yang masih bersemangat mendaki menuju Gua Hira di puncak gunung. Langkah demi langkah mereka menapaki jalur bebatuan yang berkelok. Namun saya memilih tidak ikut mendaki. Waktu sudah mendekati Magrib dan saya memutuskan menikmati seluruh pengalaman di museum yang berada tepat di bawah gunung bersejarah tersebut.
Perjalanan menuju lokasi ini hanya sekitar 15 hingga 20 menit dari Masjidil Haram. Sejak pagi kawasan museum dipadati pengunjung dari berbagai negara. Di antara kerumunan itu, saya cukup sering mendengar percakapan dalam bahasa Indonesia. Banyak jemaah Tanah Air yang tampak antusias mengabadikan momen dan mengantre memasuki museum.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam bangunan, suasana modern langsung terasa. Desain interior yang megah berpadu dengan teknologi digital mutakhir. Namun di balik kemodernannya, nuansa spiritual tetap begitu kuat. Saya merasa seperti sedang memasuki lorong waktu yang membawa kembali ke masa awal turunnya wahyu.
Pada ruangan pertama hingga keempat, pengunjung disambut tayangan video tentang Gua Hira dan sejarah turunnya wahyu pertama. Tata cahaya, efek suara, serta animasi modern membuat kisah sejarah terasa hidup. Sebuah ruangan berbentuk gua menghadirkan suasana yang begitu nyata. Sejenak saya membayangkan suasana sunyi yang pernah dirasakan Rasulullah SAW saat berkhalwat di Jabal Nur.
Seorang pemandu asal Indonesia menjelaskan setiap tayangan secara rinci kepada para pengunjung.
“Melalui museum ini, kami ingin membantu jemaah memahami bagaimana proses turunnya wahyu dan perjuangan Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah Islam,” ujar pemandu asal Medan ini yang sudah berada di Mekah sejak 4 tahun terakhir.
Memasuki lorong kelima, berbagai informasi mengenai sejarah Islam tersaji secara sistematis. Panel-panel digital menampilkan perjalanan dakwah Rasulullah SAW dari masa ke masa. Setiap sudut ruangan menghadirkan pengetahuan baru yang memperkaya pemahaman pengunjung.
Kekaguman saya semakin bertambah saat memasuki ruangan keenam. Di hadapan pengunjung terbentang layar digital raksasa sepanjang kurang lebih 30 meter dengan lebar sekitar tiga meter. Teknologi visual terkini membuat tayangan terasa begitu nyata.
Video yang diputar membawa saya menyusuri perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sejak masa kecil hingga detik-detik menerima wahyu pertama dari Malaikat Jibril. Dinding-dinding ruangan seolah berbicara melalui gambar bergerak yang menampilkan silsilah keluarga Rasulullah, kehidupan beliau, hingga perjalanan kenabian.
“Rasanya seperti ikut menyaksikan langsung perjalanan hidup Rasulullah. Tayangannya sangat menyentuh,” kata Rohali, seorang jemaah asal Indonesia yang saya temui di lokasi.
Perjalanan berikutnya membawa saya ke ruangan ketujuh yang menjadi salah satu daya tarik utama museum. Di sini terdapat replika Gua Hira dengan ukuran sebenarnya atau skala 1:1. Bentuk dan dimensinya dibuat menyerupai kondisi asli gua yang berada di puncak Jabal Nur.
Saat memasuki replika tersebut, suasana hening langsung menyelimuti. Saya membayangkan bagaimana Rasulullah SAW menghabiskan waktu untuk beribadah dan merenung di tempat yang sempit itu. Ada perasaan haru yang sulit dijelaskan ketika berdiri di dalam replika gua tersebut.
Di ruangan kedelapan, pengunjung diajak mengenal lebih dekat sosok Sayyidah Khadijah RA. Berbagai informasi tentang perjalanan hidup, perjuangan, serta pengorbanan istri pertama Rasulullah SAW disajikan melalui teknologi multimedia yang menarik.
Sementara itu, ruangan terakhir menyimpan koleksi manuskrip Al-Qur’an kuno dan berbagai mushaf bersejarah. Tulisan tangan yang tersimpan rapi menjadi bukti bagaimana Al-Qur’an dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Setelah berkeliling, saya menyempatkan diri mengunjungi toko suvenir Hira. Beragam oleh-oleh khas Arab Saudi tersedia di sana, mulai dari Al-Qur’an, kurma, sajadah, parfum hingga gantungan kunci.
Menjelang Magrib, saya kembali menatap Jabal Nur yang berdiri gagah di belakang museum. Saya memang tidak sempat mendaki hingga ke Gua Hira. Namun melalui Museum Al Wahyu, saya merasakan pengalaman spiritual yang begitu mendalam. Tempat ini bukan sekadar museum, melainkan ruang refleksi yang mempertemukan sejarah, teknologi, dan keimanan dalam satu perjalanan yang sulit dilupakan.
Di kaki Jabal Nur itulah saya menyadari, wahyu pertama yang turun lebih dari 14 abad lalu masih terus hidup, menginspirasi jutaan umat Islam yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk menapaki jejak perjalanan Rasulullah SAW.(*)

2 hours ago
7

















































